Ke Mana Yang Lain? (Renungan Harian)

 Kamis, 9 Februari 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius

Lukas 17

“Lalu Yesus berkata: Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Dimanakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”
Lukas 17: 17-18

Kesepuluh orang kusta yang bertemu dengan Yesus di jalan memiliki awal yang sama, mereka sama-sama menderita penyakit kusta. Penyakit kusta merupakan penyakit menular. Ketika seorang terkena penyakit kusta maka dia tidak diperbolehkan tinggal dalam kota, dengan dandanan yang tak terurus, dan mereka harus berteriak-teriak setiap berjalan memasuki kota supaya orang tahu dan menghindari mereka (Imamat 13:45-46). Mereka merupakan orang-orang yang terasing dan dijauhi oleh orang lain termasuk teman dan keluarga. Mereka sama-sama memohon kepada Yesus untuk disembuhkan, dan sama-sama disembuhkan oleh Yesus (ayat 14). Yang menjadi perbedaan adalah satu orang kembali sambil memuliakan Tuhan sementara sembilan orang yang lainnya tidak diketahui kabarnya. Satu orang ini bahkan merupakan orang Samaria yang dicap sebagai orang yang lebih rendah kedudukannya oleh orang Yahudi.

Dalam bertugas sebagai seorang hamba Tuhan, banyak saudara-saudari yang meminta bantuan supaya didoakan. Sayangnya yang terjadi adalah hampir seperti yang tertulis dalam kisah di Lukas 17 ini, tidak banyak yang memberi kabar bahwa doanya telah didengar Tuhan. Pernah suatu ketika ada seorang saudara meminta bantu doa karena ada keluarganya yang keracunan. Selama seminggu lebih orang ini didoakan supaya kesehatannya pulih. Ternyata setelah seminggu ditanya kembali bagaimana keadaan orang tersebut, saudara ini mengatakan bahwa di hari yang sama ketika dia meminta bantuan doa, siang harinya orang tersebut meninggal. Ketika mendengar kabar ini saya bertanya dalam hati “Untuk apa kami mendoakan orang itu padahal orang itu sudah meninggal?”

Marilah kita seperti orang Samaria yang disebuhkan Yesus. Kembali dan mengabarkan perbuatan Tuhan yang memberikan pertolongan, mengabulkan doa kita. Marilah kita memuliakan Tuhan sehingga orang-orang yang mendengar pun bisa ikut bersukacita dan memuliakan Tuhan. Ketika kita memberikan kesaksian atas perbuatan Tuhan yang ajaib, kita menguatkan iman dari saudara-saudari seiman yang mendengarnya (Kis. 21:19-20). Tentu saja untuk mengabarkan/menceritakan perbuatan Tuhan kita tidak perlu menunggu Tuhan membangkitkan dari kematian, menyembuhkan penyakit yang kronis, tapi dengan menceritakan perbuatan Tuhan dalam hidup kita sehari-hari. Contoh: Pada waktu saya bertugas di Blitar, dari hari Jumat sampai Senin setiap hari hujan turun, bahkan di hari Senin hujan turun seharian. Hari Selasa saya dan seorang saudara dari Blitar mempunyai rencana untuk melakukan pembesukan ke Kediri. Puji Tuhan, selama perjalanan kami pergi pulang Blitar-Kediri tidak turun hujan. Kami mendengar kabar bahwa setelah kami pergi, di Blitar hujan turun tetapi ketika kami kembali hujan telah berhenti. Penyertaan Tuhan dalam perjalanan pembesukan bisa kami rasakan dengan nyata.

Ceritakan dan muliakan perbuatan Tuhan dalam kehidupan kita.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 448 other followers

%d bloggers like this: