Kembali untuk Memuliakan Tuhan

Sumber: http://ia.tjc.org/elibrary/ContentDetail.aspx?ItemID=26732&langid=1

 

Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepadaNya. Orang itu adalah seorang Samaria.
Lukas 17:15-16

 

Ketika melewati Samaria, yesus bertemu 10 orang kusta yang diasingkan oleh masyarakat. Dengan iman, orang-orang itu berseru-seru pada Yesus dan secara ajaib disembuhkan setelah menaati perintah Yesus untuk memperlihatkan diri mereka pada imam-imam. Namun, kecuali satu, sembilan orang kusta yang telah disembuhkan pergi begitu saja, tidak pernah melihat atau bicara kepada Yesus lagi.

Sembilan orang kusta ini gagal mengerti, bahwa mengesampingkan perseteruan sosial antara Yahudi dan Samaria, Yesus telah bermurah hati menyembuhkan mereka. Walaupun mereka memiliki iman untuk berseru dan bertindak menurut perintah Yesus, iman mereka belum cukup dewasa untuk berterima kasih – untuk digerakkan oleh kasih Yesus dan memuliakan Tuhan dengan hati bersyukur.

Ketika pencobaan-pencobaan menghadang, kita juga berseru pada Tuhan dengan iman. Tetapi ketika kasih Tuhan mengubah kedukaan kita menjadi sukacita seperti orang-orang kusta yang disembuhkan itu, kita barangkali juga melupakan Dia yang menyembuhkan atau membawa kita melewati permasalahan. Kita hanya terus melanjutkan hidup, dan sayang sekali lupa berterima kasih dan memuliakan Yesus untuk pertolonganNya.

Kekuatan iman kita tidak hanya terlihat saat kita mencari pertolongan Tuhan, tetapi juga ketika kita kembali padaNya dan berterima kasih karena telah memimpin kita melewati pencobaan. Sama seperti satu orang kusta yang disembuhkan, yang tidak hanya berseru pada Tuhan dengan iman, tetapi juga kembali memuliakan Tuhan ketika disembuhkan.

Dari hidup sebagai orang terbuang di masyarakat, si orang kusta kini dapat merasakan hidup yang terberkati. Yesus memberinya arti kehidupan baru – hidup untuk Yesus sebagai saksi anugerah penyelamatanNya. Bagaimana mungkin dia tidak kembali bersyukur padaNya? Demikian juga, jika kita tahu bagaimana mencari pertolongan Yesus dalam pencobaan, kita juga harus kembali untuk berterima kasih atas kasih karuniaNya ketika pencobaan-pencobaan berlalu, dan hidup untuk memuliakan Tuhan.

 

Pertanyaan untuk Renungan

  1. Ketika Tuhan menolong kita dalam waktu-waktu sulit, apakah kita kembali untuk berterima kasih dan memuliakan Dia?
  2. Apakah kita berpikir iman kita kuat hanya karena kita mencari pertolongan Tuhan? Bagaimana Dia ingin iman kita menjadi dewasa?

Dia Pun Menjelaskan Semuanya (Renungan Harian)

Jumat, 17 Februari 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius

Lukas 24

“Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.”
Lukas 24:27

Puji Tuhan akhirnya kita sampai pada pasal terakhir dari Injil Lukas. Saya berharap bahwa saudara-saudari semua sudah memulai untuk membaca Alkitab setiap harinya dan merenungkan apa yang telah dibaca.

Pada pasal yang terakhir ini saya tertarik dengan apa yang dikatakan Lukas dalam ayat 27. Kedua murid yang melakukan perjalanan tersebut, Kleopas dan Simon, bisa mengingat Yesus ketika Dia melakukan seperti apa yang dilakukanNya saat memberi makan lima ribu orang.  Mereka sudah tiga tahun lebih mengikut Yesus, mendengar banyak pengajaran-Nya bahkan mungkin mendengar mengenai peringatan yang disampaikan Yesus berkali-kali mengenai penderitaan yang akan dialami, kematian, dan kebangkitan-Nya. Akan tetapi perjalanan selama tiga tahun, murid-murid memiliki pandangan yang berbeda dengan Yesus. Mereka memiliki anggapan bahwa Yesus akan menjadi raja di dunia dan mengembalikan kejayaan bangsa Israel. Keajaiban-keajaiban, mujizat-mujizat, dan tanda heran yang dilakukan Yesus selama itu menguatkan keyakinan mereka, padahal selama kita membaca kitab Lukas ini, Yesus tidak menyinggung akan membangun kembali Kerajaan Israel.
Pemikiran kita kadang bisa menjebak. Kita memiliki angan-angan, keinginan seperti bangsa Yahudi yang pada saat itu ada dalam penjajahan bangsa Romawi berkeinginan untuk merdeka dan meraih kejayaan seperti pada zaman Daud dan Salomo. Tidak sedikit orang-orang menjadi Kristen karena berkeinginan bahwa kehidupannya di dunia menjadi lebih baik. Kebutuhan hidup lebih tercukupi, yang sakit jadi sembuh, yang miskin menjadi kaya semua itu bisa menjadi keinginan yang terpendam. Keinginan yang ada tersebut bisa mendominasi kita sehingga informasi-informasi yang kita tangkap adalah informasi-informasi yang mendukung bahwa keinginan kita itu pasti benar terwujud.Paulus mengatakan bahwa pada akhir zaman orang-orang seperti itu akan semakin bertambah, orang-orang hanya mendengar apa yang mereka mau (2Tim. 4:3-4).

Lalu bagaimana dengan kita yang dengan sungguh-sungguh mau mengikuti, meneladani ajaran Yesus Kristus? Yesus memberikan jalan keluar. Hanya dengan bantuan-Nyalah kita bisa memahami pengajaran-pengajaran yang ada dalam Kitab Suci. Kleopas dan Simon bisa berbahagia karena waktu itu Yesus menampakkan diri dan menjelaskan semua yang ada dalam Kitab Suci. Bagaimana dengan kita yang hidup di zaman dimana Yesus sudah sangat lama terangkat ke Sorga? Tuhan Yesus telah mengutus seorang penolong yaitu Roh Kudus (Yoh. 14:26). Saya sendiri mengalami apa yang dikatakan oleh Yesus ketika memberitakan Injil ke seorang saudara. Dia bertanya mengenai arti dari satu ayat yang ada dalam Alkitab. Ketika pertama kali membaca ayat tersebut saya pun tidak mengerti apa artinya. Akan tetapi ketika saya baca sekali lagi, tiba-tiba saja dalam pikiran saya seperti ada suara yang menjelaskan arti ayat tersebut sehingga saya bisa memahami dan menyampaikannya kepada saudara tersebut.

Mungkin selama membaca Injil Lukas ini dan selama membaca kitab-kitab yang lain ada beberapa ayat yang kita tidak pahami, janganlah berhenti membacanya tapi marilah kita meminta bantuan kepada hamba Tuhan dan yang terlebih lagi kita meminta bantuan kepada Roh Kudus untuk menerangkannya bagi kita.

Ketika Berjalan Pulang (Renungan Harian)

Kamis, 16 Februari 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius

 
Lukas 23
“Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, lalu diletakkan salib itu di atas bahunya, supaya dipikulnya mengikuti Yesus.”
Lukas 23:26

Simon dari Kirene, ayah Aleksander dan Rufus (Mark. 15:21) baru saja datang dari luar kota, dia belum lagi pulang ke rumah bertemu dengan keluarganya sudah dicegat di tengah jalan dan dipaksa membantu memikul kayu salib seorang tahanan yang akan dihukum mati. Di sepanjang jalan, orang-orang mengolok-olok rombongan tersebut. Satu keadaan yang benar-benar Simon tidak menduga akan terjadi dalam hidupnya. Mungkin dalam perjalanannya tersebut dia tadinya berhenti sejenak untuk melihat kerumunan yang ada, karena banyak orang berteriak, banyak orang menangis, ahli-ahli taurat dan para imam berjalan dalam rombongan dengan tentara-tentara roma menuju ke luar Yerusalem.

Simon pada waktu itu bisa saja merasa kesal, dia hanya orang yang lewat dalam perjalanan pulang untuk bertemu keluarganya tapi disuruh membantu memikul salib, sebatang kayu yang akan digunakan untuk menghukum mati seseorang. Bisa saja orang salah mengira bahwa dia yang akan disalibkan. Mungkin dia memikul salib tersebut dengan berat hati, dengan terpaksa.
Dalam kehidupan kita bisa saja kita terjebak dalam keadaan seperti Simon dari Kirene. Terpaksa membantu seseorang yang kita tidak kenal, padahal kita sedang melakukan sesuatu yang sangat kita idamkan. Kadang bukan hanya itu tapi orang yang kita tolong merupakan orang yang dibenci, tidak diharapkan sehingga kita yang menolong pun bisa jadi ikut dibenci, diolok-olok. Ketika terjebak dalam keadaan tersebut kemungkinan besar yang kita rasakan adalah kekesalan, kita mungkin merasa menjadi orang yang ada di tempat dan waktu yang salah.

Simon dari Kirene walaupun terpaksa menolong orang itu untuk membawa salib, tanpa sadar dia menolong Raja dari segala raja, Tuan dari segala tuan, dan dia sedang membantu pekerjaan yang akan menyelamatkan jiwa dari seluruh umat manusia dari sejak dunia diciptakan sampai nanti dihancurkan. Ketika kita mendapatkan kesempatan untuk menolong seseorang, mari kita melakukannya dengan segera, karena kita tidak akan tahu bagaimana akibat dari tindakan kita apakah memberi dampak atau tidak di hari depan.

“Peliharalah kasih persaudaraan! Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.”
Ibarani 13:1-2

Jangan Biarkan Dia Masuk (Renungan Harian)

Rabu, 15 Februari 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius

Lukas 22
“Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas, yang bernama Iskariot, seorang dari kedua belas murid itu.”
Lukas 22: 3

Yudas Iskariot merupakan seorang dari dua belas rasul. Dia merupakan seorang yang dipercaya oleh Yesus untuk menjadi bendahara bagi rombongan Yesus (Yoh. 12:6). Akan tetapi Yudas akhirnya menjual Yesus demi uang tiga puluh keping perak. Lukas mengatakan bahwa Yudas melakukan hal tersebut karena dia terasuk oleh Iblis.

Beberapa tahun terakhir kita sering melihat dalam televisi bagaimana orang-orang kerasukan setan membuat orang-orang disekitarnya ketakutan. Dalam film-film pun dipertontonkan bagaimana setan yang menyeramkan membuat ketakutan orang-orang yang melihatnya. Dengan banyaknya hal-hal di atas kita lupa bahwa yang paling membahayakan dan menakutkan bukanlah setan yang menampakkan diri, atau merasuk ke dalam diri membuat tidak sadar seperti yang banyak terjadi. Yang paling berbahaya adalah ketika Iblis merasuk ke dalam hati kita dan mempengaruhi kita dalam mengambil keputusan. Iblis yang merasuk tersebut tidak bisa terlihat, tidak bisa dikenali dan menggiring kita tanpa sadar berbuat dosa dan semakin menjauh dari Tuhan hingga akhirnya kita terjerat maut, bahkan meninggalkan Tuhan. Banyak yang bisa dilakukan, satu contoh yang terjadi pada Yudas. Setan merasuk dan membujuk dia sehingga dia menjual Yesus, gurunya. Kecintaan pada uang, ketidakpuasan atas kedudukan yang kita miliki, dua hal ini yang dimanfaatkan Iblis ketika mempengaruhi Yudas. Yohanes mengatakan bahwa ada tiga yang menjadi senjata yang ampuh bagi Iblis menyerang kita yaitu keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (1 Yoh. 2:16). Iblis merupakan seorang musuh yang mengerti dengan jelas kelemahan-kelemahan kita sebagai manusia. Petrus mengibaratkan dia sebagai singa yang berjalan keliling mengaum-aum mencari mangsa (1 Petrus 5:8). Ketika di hadapan Tuhan pun, dua kali Iblis mengatakan dengan terus terang bahwa dia berjalan keliling menjelajahi bumi (Ayub 1:7; 2:2). Kita sebagai orang percaya pun tidaklah terlepas dari incaran Iblis, justru dengan semakin dekatnya diri kita pada Tuhan maka semakin Iblis berusaha menjatuhkan kita seperti yang terjadi pada Yudas bahwa bukan murid-murid biasa yang menjual Yesus tapi seorang yang dekat dengan Dia, seorang dari dua belas rasul.

Mari kita mendekatkan diri kepada Tuhan dan melawan Iblis dengan iman yang teguh (Yak. 4:7; 1 Ptr. 5:9).

Kesempatan Untuk Bersaksi (Renungan Harian)

Selasa, 14 Februari 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius

Lukas 21

“Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi”
Lukas 21:13

Pada waktu murid Yesus menanyakan kapan dan apa tandanya ketika hal itu terjadi, perkataan di atas disampaikan oleh Yesus. Yang dimaksud dengan hal itu adalah hari dimana Bait Allah diruntuhkan (ayat 6). Bait Allah di Yerusalem diruntuhkan pada tahun 70 oleh tentara Romawi yang dipimpin oleh Jendral Titus. Pada waktu itu korban yang jatuh diperkirakan sampai satu juta jiwa.

Akan tetapi kalau kita melihat perbincangan tersebut di Injil Matius 24:3-14, Mereka bukan hanya membicarakan mengenai kehancuran Bait Allah di Yerusalem. Yesus memberitahukan tanda-tanda mengenai kehancuran dari dunia.  Ada banyak hal yang akan terjadi, di antaranya:

  • Ada orang yang mengakui diri sebagai Mesias (ayat 8)
    Kalau kita melihat saat sekarang ini semakin banyak orang datang dengan memakai nama Tuhan. Mereka mengaku diutus oleh Tuhan, mendengar suara Tuhan, bertindak dengan memakai nama Tuhan. Bahkan yang lebih parah lagi ada yang mengaku sebagai Tuhan Yesus sendiri. Contohnya di Siberia ada seorang polisi lalu lintas yang mengaku bahwa dia adalah titisan dari Yesus. Tahun 2009 dia memiliki lima ribu orang pengikut. Ketika saya mencari berapa banyak orang yang mengaku sebagai Yesus saya menemukan satu web yang mencantumkan kira-kira 28 orang mengaku sebagai Yesus sejak abad 19-20.Menganai Mesias palsu ini, Yesus telah memperingatkan supaya mereka tidak percaya karena kedatangan Yesus yang kedua adalah dalam kemuliaan-Nya untuk membawa umat pilihan ke tempat-Nya (Luk. 21:27; Yoh. 14:3).
  • Terjadi bencana dimana-mana (ayat 9-11a)
    Terjadi peperangan dan pemberontakan, terjadi bencana alam (gempa bumi yang dahsyat), penyakit sampar dan kelaparan dimana-mana.
  • Terjadi hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit (ayat 11b, 25-26)
    Perubahan sifat matahari dan benda-benda langit lainnya, perubahan keadaan di bumi (iklim, cuaca).
  • Penganiayaan orang-orang percaya (ayat 12-19)
    Yang menarik adalah Yesus mengatakan bahwa saat ini (saat penganiayaan terjadi) adalah kesempatan bagi orang percaya untuk memberikan kesaksian (ayat 13). Tuhan Yesus juga memberikan sebuah kepastian bahwa Roh Kudus akan memberikan kekuatan dan hikmat untuk mempertahankan diri. Bahwa walaupun terjadi penganiayaan tapi semuanya akan tetap ada dalam kendali dari Tuhan (ayat 18).

“Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” Perkataan ini disampaikan oleh Yesus untuk mengingatkan kita supaya kita tetap bertahan dalam masalah-masalah yang akan dihadapi menjelang berakhirnya dunia ini.

“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”
2 Timotius 4:2

Lain di Luar, Lain di Dalam (Renungan Harian)

Senin, 13 Februari 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius

Lukas 20

“Ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala mengamat-amati Yesus. Mereka menyuruh kepada-Nya mata-mata yang berlaku seolah-olah orang jujur, supaya mereka dapat menjerat-Nya dengan suatu pertanyaan dan menyerahkan-Nya kepada wewenang dan kuasa wali negeri.”
Lukas 20: 20

Dalam pasal 20 ini kita melihat berkali-kali ahli Taurat, para imam, dan orang Saduki berusaha untuk menjebak Yesus. Mulai dari pertanyaan mengenai asal kuasa Yesus (ayat 1-2), membayar pajak bagi Kaisar (ayat 20-23), sampai pertanyaan mengenai kebangkitan (ayat 27-33).  Para ahli Taurat adalah orang-orang yang memegang pimpinan di daerah Yahudi, mereka lebih unggul dari orang-orang Yahudi biasa karena mereka hapal akan Hukum Taurat. Yesus mengatakan bahwa mereka menduduki kursi Musa (Mat. 23:2). Awal terbentuknya orang-orang Farisi, ahli Taurat memiliki niat yang baik yaitu kembali melaksanakan Hukum Taurat karena berkali-kali bangsa Yahudi mengalami penderitaan karena tidak pernah melaksanakan Hukum Taurat sepenuhnya. Lama-kelamaan mereka hanya menginginkan penghormatan dari orang-orang, menginginkan pandangan dan decak kagum dari orang-orang (ayat 46-47). Apa yang ada di luar berbeda dengan apa yang ada di dalam. Di luar mereka kelihatannya memegang Hukum Taurat, hidup sesuai dengan perintah Tuhan, sementara di dalam mereka mengejar keuntungan pribadi.

Sering kali gereja kita dianggap sebagai kumpulan ahli taurat, orang-orang Farisi karena kita berusaha melakukan apa yang diajarkan Yesus dalam Alkitab dengan sepenuhnya, karena kita meneliti Alkitab. Marilah kita menjadikan anggapan orang-orang itu sebagai sebuah alat untuk memeriksa diri kita. Apakah benar apa yang ada di luar berbeda dengan apa yang ada di dalam? Apakah  usaha yang kita lakukan untuk melaksanakan perintah Tuhan dengan sepenuhnya memiliki latar belakang yang benar, atau semata-mata karena kita ingin dihormati, dipandang oleh orang lain?

Tuhan mengharapkan kita lebih benar dari ahli taurat. “Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Mat. 5: 20). Seseorang dikatakan lebih ketika dia memiliki apa yang dimiliki orang lain dan memiliki apa yang tidak dimiliki orang lain. Hidup keagamaan kita lebih benar dari orang Farisi ketika kita memiliki apa yang dimiliki orang Farisi yaitu tekad, usaha mereka dalam memegang hukum Tuhan, meneliti Kitab Suci, dan memiliki apa yang tidak dimiliki oleh orang Farisi yaitu kasih yang mendasari pelaksanaan hukum Tuhan tersebut. Kalau kita hanya memiliki kasih maka kita tidaklah bisa dikatakan lebih benar atau lebih baik dari orang Farisi. Lakukan perintah Tuhan dengan sepenuhnya dan miliki kasih dalam melakukan perintah Tuhan tersebut. Bersikaplah di luar dan di dalam sama yaitu berusaha melaksanakan perintah Tuhan karena kita ingin menyenangkan hati Tuhan dan mendapat keselamatan.

Harus Menumpang di Rumahmu (Renungan Harian)

Minggu, 12 Februari 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius

Lukas 19
Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”
Lukas 19: 5

Ketika membaca perkataan Yesus kepada Zakheus ini, saya merenungkan kenapa Yesus mengatakah bahwa Dia “harus” menumpang di rumah Zakheus, bukan Aku “ingin” atau Aku “mau”?Apakah tidak ada lagi tempat lain yang mau menerima Yesus? Apakah Yesus dan rombongannya tidak memiliki cukup dana untuk membayar penginapan?

Satu-satunya jawaban yang muncul dalam perenungan saya adalah bukan karena tidak ada tempat yang mau menerima Yesus, atau bukan karena tidak ada dana untuk membayar penginapan, tapi karena ada satu hal yang mau Tuhan Yesus capai dari menumpang di rumah Zakheus. Selain itu Yesus mengatakan bahwa Dia “harus” menumpang di rumah Zakheus karena adalah tugas yang diberikan Bapa di Sorga kepada-Nya untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (ayat 10).

Zakheus ketika mendengar perkataan Yesus ini menjadi sangat gembira karena Yesus yang sangat terkenal mau untuk menumpang bersama dengan dia, seorang pemungut cukai yang dianggap sebagai orang berdosa dan dibenci oleh masyarakat. Dalam kegembiraannya itu Zakheus melakukan hal yang berkebalikan dari yang biasanya dia lakukan. Dia sebagai petugas pemungut cukai biasanya menambahkan beban pajak untuk menumpuk kekayaan, dia yang mencintai uang malah melepaskan uang tersebut (ayat 8). Hal tersebut, dia lakukan karena dia mendapatkan yang lebih berharga dari semua uang yang telah diperolehnya.

Dalam hidup sekarang, Tuhan Yesus masih memiliki peranan yang sama yaitu mencari dan menyelamatkan hilang. Walau pun bukan lagi tampil sebagai seorang manusia tapi sebagai jemaat (gereja) yang dipenuhi Roh Kudus (Ef. 1: 22-23). Dia telah mendapatkan kita dan tinggal bersama dengan kita. Apakah dengan kedatangan-Nya menumpang di hati kita merupakan sebuah beban atau sebuah sukacita seperti yang Zakheus rasakan?

Ketika seseorang menumpang di rumah kita maka dia akan melihat apa yang ada dalam rumah, bagaimana keadaan rumah, dan orang-orang yang ada dalamnya. Kita sebagai tuan rumah akan mengeluarkan tenaga, waktu, uang untuk melayani tamu tersebut. Yesus menumpang dalam hati kitapun maka Dia akan melihat isi hati kita, dan ada sesuatu yang harus kita lepaskan untuk melayani-Nya. Apakah kita rela untuk melepaskan harta dunia, atau apa yang sebelumnya kita anggap sebagai sesuatu yang penting supaya ada ruang di hati kita untuk Yesus tinggali?

Keselamatan yang kita peroleh dalam Yesus Kristus merupakan harta yang tak ternilai yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun juga.

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.”
Filipi 3:7-8

Adakah Ia Mendapati Iman di Bumi? (Renungan Harian)

Jumat, 10 Februari 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius

 
Lukas 18

“ Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”
Lukas 18: 7-8

Pertanyaan di atas disampaikan oleh Yesus ketika mengajar kepada murid-murid-Nya. Pada waktu itu Dia mengajarkan murid-murid-Nya untuk tidak jemu-jemunya berdoa (ayat 1). Yesus mengajarkan bahwa seperti seorang hakim yang mengabulkan permohonan seorang janda karena janda tersebut terus-menerus memohonkan perkaranya, Bapa di Sorga akan berbuat lebih lagi. Bukan karena takut, bukan karena kesal tapi karena kasih-Nya maka Dia akan bersegera menolong orang-orang pilihan-Nya. Yang menjadi perenungan bagi kita adalah kenapa Yesus mengucapkan kalimat terakhir? Kenapa Dia bertanya, masih adakah iman di bumi ketika Dia datang nanti?

Iman merupakan dasar dari perbuatan kita. Setiap harinya iman dihadapkan pada tantangan-tantangan yang ada di dunia. Tidak jarang muncul keraguan dalam doa kita. Apakah Tuhan mendengar doa kita? Kalau Dia mendengarnya, kenapa jawaban doa kita tidak datang-datang juga?

Pengabulan doa kita tergantung kepada Tuhan kapan Dia akan melakukan-Nya. Pengkhotbah mengatakan bahwa “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” (Pkh. 3:11). Kadang atau bahkan seringnya kita tidak bisa mengerti dan menebak kapan Tuhan akan memberikannya. Yang Yesus minta adalah kita tetap memohon dengan tidak jemu-jemu dan memiliki iman bahwa walau lama doa kita terkabul, tapi suatu saat pasti akan terpenuhi. “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Markus 11:24). Tidak mudah mempertahankan iman yang terus menerus diuji setiap harinya dengan kenyataan-kenyataan yang kadang kala melemahkan diri kita. Tetaplah bersabar dan percaya.

Hal yang kedua yang Yesus mau ajarkan bahwa yang terpenting dalam mengajukan permohonan kepada Tuhan bukanlah mengenai hal-hal yang ada di dunia karena hal-hal tersebut akan lalu dengan segera. Yang lebih penting adalah kita bisa mendapatkan tempat di Kerajaan Sorga. Bahwa kita bisa tetap memelihara iman kita walau setiap harinya kita menghadapi tantangan-tantangan yang bisa melemahkan keyakinan kita pada Tuhan. Inilah yang kita harus terus menerus memintanya dengan tidak jemu-jemu. Kiranya Tuhan tetap menjaga kita dan menumbuhkan iman kita dari hari ke hari dalam penantian kita akan kedatangan Tuhan. Kiranya ketika Tuhan datang untuk yang kedua kalinya nanti, kita termasuk orang-orang yang akan terangkat bersama-sama dengan Dia dan menerima damai kekal di Kerajaan Sorga.

Ke Mana Yang Lain? (Renungan Harian)

 Kamis, 9 Februari 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius

Lukas 17

“Lalu Yesus berkata: Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Dimanakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”
Lukas 17: 17-18

Kesepuluh orang kusta yang bertemu dengan Yesus di jalan memiliki awal yang sama, mereka sama-sama menderita penyakit kusta. Penyakit kusta merupakan penyakit menular. Ketika seorang terkena penyakit kusta maka dia tidak diperbolehkan tinggal dalam kota, dengan dandanan yang tak terurus, dan mereka harus berteriak-teriak setiap berjalan memasuki kota supaya orang tahu dan menghindari mereka (Imamat 13:45-46). Mereka merupakan orang-orang yang terasing dan dijauhi oleh orang lain termasuk teman dan keluarga. Mereka sama-sama memohon kepada Yesus untuk disembuhkan, dan sama-sama disembuhkan oleh Yesus (ayat 14). Yang menjadi perbedaan adalah satu orang kembali sambil memuliakan Tuhan sementara sembilan orang yang lainnya tidak diketahui kabarnya. Satu orang ini bahkan merupakan orang Samaria yang dicap sebagai orang yang lebih rendah kedudukannya oleh orang Yahudi.

Dalam bertugas sebagai seorang hamba Tuhan, banyak saudara-saudari yang meminta bantuan supaya didoakan. Sayangnya yang terjadi adalah hampir seperti yang tertulis dalam kisah di Lukas 17 ini, tidak banyak yang memberi kabar bahwa doanya telah didengar Tuhan. Pernah suatu ketika ada seorang saudara meminta bantu doa karena ada keluarganya yang keracunan. Selama seminggu lebih orang ini didoakan supaya kesehatannya pulih. Ternyata setelah seminggu ditanya kembali bagaimana keadaan orang tersebut, saudara ini mengatakan bahwa di hari yang sama ketika dia meminta bantuan doa, siang harinya orang tersebut meninggal. Ketika mendengar kabar ini saya bertanya dalam hati “Untuk apa kami mendoakan orang itu padahal orang itu sudah meninggal?”

Marilah kita seperti orang Samaria yang disebuhkan Yesus. Kembali dan mengabarkan perbuatan Tuhan yang memberikan pertolongan, mengabulkan doa kita. Marilah kita memuliakan Tuhan sehingga orang-orang yang mendengar pun bisa ikut bersukacita dan memuliakan Tuhan. Ketika kita memberikan kesaksian atas perbuatan Tuhan yang ajaib, kita menguatkan iman dari saudara-saudari seiman yang mendengarnya (Kis. 21:19-20). Tentu saja untuk mengabarkan/menceritakan perbuatan Tuhan kita tidak perlu menunggu Tuhan membangkitkan dari kematian, menyembuhkan penyakit yang kronis, tapi dengan menceritakan perbuatan Tuhan dalam hidup kita sehari-hari. Contoh: Pada waktu saya bertugas di Blitar, dari hari Jumat sampai Senin setiap hari hujan turun, bahkan di hari Senin hujan turun seharian. Hari Selasa saya dan seorang saudara dari Blitar mempunyai rencana untuk melakukan pembesukan ke Kediri. Puji Tuhan, selama perjalanan kami pergi pulang Blitar-Kediri tidak turun hujan. Kami mendengar kabar bahwa setelah kami pergi, di Blitar hujan turun tetapi ketika kami kembali hujan telah berhenti. Penyertaan Tuhan dalam perjalanan pembesukan bisa kami rasakan dengan nyata.

Ceritakan dan muliakan perbuatan Tuhan dalam kehidupan kita.

Persahabatan dengan Mamon (Renungan Harian)

Rabu, 8 Februari 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius

Lukas 16
“ Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”
 Lukas 16:9

Ketika membaca mengenai perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur yang ada di ayat 1-8 kadang kita bingung dengan apa yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus. Pengartian yang salah dari perumpamaan tersebut mengatakan bahwa kalau kita bekerja harus mempergunakan jabatan dengan baik termasuk boleh melakukan penggelapan, atau boleh menolong seseorang dengan cara yang tidak benar. Kalau menurut saya kunci dari perumpamaan itu ada di ayat 8b “Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.”

Bahwa perumpamaan bendahara yang tidak jujur menggambarkan keadaan yang banyak terjadi dalam dunia pekerjaan, suap-menyuap, sikut kanan kiri, atau kalau rekan saya katakan “jurus Kodok” (jilat ke atas, tendang ke bawah). Kita sebagai anak-anak terang haruslah cerdik dalam menghadapinya dengan tetap menjaga diri kita tetap tulus seperti merpati. Untuk mencegah salah arti dari perumpamaan ini, Tuhan menyampaikan pengajaran yang selanjutnya yaitu setia dalam perkara kecil (ayat 10-12). Dalam ayat tersebut, Yesus mengajarkan bahwa kita harus menjadi setia dalam perkara Mamon yang tidak jujur.

Menjadi orang Kristen bukanlah berarti tidak boleh menjadi kaya. Berkat Tuhan kepada setiap orang berbeda-beda. Ada orang-orang yang diberikan berkat lebih oleh Tuhan untuk dikelola. Orang-orang dunia ketika mendapat kekayaan, mereka pandai dalam memanfaatkan kekayaan tersebut. Mereka menginvestasikan kekayaan pada saham, tanah, logam mulia, mencari teman-teman yang bisa membantu mereka di masa depan seperti bendahara yang memanfaatkan uang untuk mengamankan kedudukannya nanti ketika tidak lagi bekerja. Tuhan menginginkan kita bisa belajar dari mereka, bukan untuk mengejar kekayaan dan kepastian kedudukan di dunia tapi terlebih dalam mengejar kekayaan dan kepastian kedudukan rohani di Sorga kelak.  Hal yang harus kita perhatikan benar-benar adalah ketika kita mau menggunakan mamon tentu kita perlu untuk mendapatkannya. Saat kita mencarinya itu jangan sampai akhirnya pelan-pelan tanpa sadar kita menjadi hamba dari mamon tersebut. Tetaplah menjadi hamba Tuhan dalam menggunakan mamon yang tidak jujur.

Catatan: Mamon adalah bahasa Ibrani yang berarti kekayaan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 426 other followers