Tomat Busuk

Sumber: https://www.facebook.com/truejesuschurch.batam

Oleh: Pdt. Silas

Di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak (TK) seorang guru bertanya kepada anak-anak muridnya tentang mengasihi.

“Anak-anak, apakah kita bisa selalu mengasihi sesama manusia?”

“Bisa Missss,” jawab murid-murid.

“Termasuk mengasihi orang yang tidak kita sukaii…?”

Sebagian dari anak anak menjawab, “Bisaaaa…” Tetapi sebagian dari mereka diam saja.

Ibu guru menghampiri mereka dan bertanya mengapa mereka diam dan tidak menjawab. Ternyata di antara mereka masih memendam kebencian terhadap beberapa temannya yang lain. Sebagian lagi benci dengan kakaknya atau adiknya. Bahkan ada yang benci dengan Papanya yang ternyata meninggalkan Mamanya dan pergi dengan Mama baru.

Lalu Ibu Guru memberikan beberapa kantong plastik kepada mereka supaya mulai besok plastik tersebut harus diisi dengan buah tomat sesuai dengan jumlah orang yang dibenci. Jika yang dibenci tiga orang, maka tomatnya juga tiga. Tomat-tomat tersebut harus berada di tas sekolah mereka dan tiap hari harus dibawa.

Setelah beberapa hari anak-anak yang membawa tomat merasa tidak nyaman atas bau busuk yang mulai menyebar keluar dari tas. Semakin lama semakin berbau busuk.

Maka anak-anak menghadap Ibu Guru dan berkata, “Miss, tomat-tomat kebencian yang dibawa semakin berbau busuk.”

Jawab Ibu Guru, “Keluarkan tomat dalam tas kalian dan buang, maka bau busuknya akan hilang.”

Saudaraku, seringkali kita juga seperti anak-anak TK tersebut. Kita tahu bahwa membenci bukan hal yang menyenangkan akan tetapi kita tidak mudah membuangnya, meskipun hal itu membuat kita semakin hari semakin menderita. Mari kita belajar membuang buah kebencian lalu kita ganti dengan buah kasih, maka kita akan merasa lebih berbahagia.

“Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.”
Amsal 10:12

Unlimited Happiness

Sumber: https://www.facebook.com/truejesuschurch.batam?fref=ts

Oleh: Pdt. Silas

Unlimited Happiness atau kebahagiaan tak terbatas adalah sebuah slogan yang cukup menantang, mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Bahkan sebagian besar orang akan berkata, “Mustahil.” Secara logika memang bisa dibenarkan bahwa tidak mungkin seseorang akan terus menerus berbahgia tanpa ada batas yang membuatnya tidak bahagia. Sebagai contoh seseorang akan berbahagia jika segala kebutuhan dan keinginan terjadi dalam hidupnya, rumah, mobil, uang berlimpah, keluarga sehat semua, hidupnya pun penuh dengan kasih mesra, rukun dan damai. Jika hal-hal tersebut terjadi maka orang tersebut bisa dimungkinkan akan bahagia. Tetapi bagaimana jika sebaliknya? Sebagian atau segala yang diharapkan atau diinginkannya tidak terjadi, apakah bisa tetap berbahagia? Jawabanya: sulit.

Saudaraku, jika hanya memakai logika benar sangat tidak mungkin. Tapi tentu kita juga pernah mendengar kisah bahwa dalam hidup ini banyak juga orang jika ditinjau dari sudut status sosialnya masuk golongan miskin, akan tetapi mereka bisa bahagia bahkan melebihi kebahagiaannya orang kaya. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Jawabannya adalah pengelolaan hati. Semua timbul dari hati, kaya atau miskin bukan dasar untuk membuat orang bahagia atau tidak. Jika dalam hati selalu bisa bersyukur atas semua yang terjadi, maka orang itu akan bahagia. Jadi jika yang kita harapkan belum terjadi belajarlah menyukai kenyataan tersebut dan tetap bersyukur. Mari kita, saudara dan saya, belajar untuk bisa mengalami “ Unlimited Happiness “

“Bersukacitalah senantiasa, tetaplah berdoa, Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu“
1 Tesalonika 5:16-18 

“ Ahhhh….dasar nakal..”

Sumber: https://www.facebook.com/truejesuschurch.batam

Oleh: Pdt. Silas

Di dalam ruang tunggu sebuah bandara terjadi satu kepanikan saat seorang anak kecil di sudut ruang tunggu menjerit dan menangis sekeras-kerasnya. Beberapa orang yang berada di dekatnya berlari ke arah anak kecil tersebut  untuk mengetahui apa yang terjadi. Ibu dari anak tersebut tampak ada di dekatnya dan sedang mengelus-elus bagian kening kepala anaknya sambil berkata, ”Gak apa-apa, nak… siapa yang nakal?” Lalu anak kecil tersebut menunjuk sebuah kursi di dekatnya. Sang Ibu segera menggendong anaknya dan menghampiri kursi tersebut lalu memukulnya beberapa kali sambil berkata, ”Ahhh dasar kursi nakal.”

Suatu hari ada anak kecil yang iseng menarik telinga seekor anjing. Maka anjing tersebut marah dan menggongong namun tidak menggigitnya. Lalu anak tersebut berlari melaporkan hal tersebut ke orang tuanya. Tak lama kemudian, ibunya datang sambil menggendong anak tersebut, menghampiri si anjing dan memukulnya sambil berkata, ”Ahhh dasar anjing nakal..”

Saudaraku, kedua peristiwa tersebut diatas menggambarkan kondisi dan sikap manusia. Pada umumnya saat terjadi masalah, kita jarang menyadari bahwa hal tersebut disebabkan kesalahan kita sendiri. Dari sejak Adam saat berdalih dengan Tuhan, sampai dengan kita sebagai orang tua yang tidak sadar beberapa sering melatih anak sejak kecil untuk menyalahkan benda, mahluk, manusia, supaya anaknya terhibur dan berhenti menangis. Maka tidak heran jika banyak orang bersikap selalu benar dan tidak pernah salah, kebenaran selalu tertuju pada dirinya kesalahan tertuju pada yang lain.

“ Manusia itu menjawab: perempuan yang Kau tempatkan disisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu, maka kumakan. Kemudian berfirmanlah Tuhan Allah kepada kepada perempuan itu: “ Apakah yang telah kau perbuat ini?” jawab perempuan itu:” ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan “
Kejadian 3:12-13

Kaca pembesar dan kaca cermin

 

Sumber: https://www.facebook.com/truejesuschurch.batam?fref=ts

Oleh: Pdt. Silas

Menarik sekali saat memperhatikan dua jenis benda berbahan kaca ini.

Kaca pembesar/lup atau disebut juga suryakanta adalah sebuah lensa cembung yang berfungsi untuk memperbesar bayangan benda, sehingga kita bisa melihat benda-benda yang berukuran kecil. Lensa cembung pada lup memiliki sifat mengumpulkan cahaya/panas. Jadi saat kita mengarahkan lup ke sinar matahari, maka sinar dan panas matahari akan mengumpul di satu titik fokus lensa cembung tersebu dan panas yang terkumpul lama-lama mampu membakar kertas/daun kering.

Sedangkan cermin sebenarnya hanya terbuat dari kaca biasa yang akan meneruskan hampir seluruh cahaya yang diterimanya sehingga terlihat transparan di mata kita, tetapi di bagian belakang cermin diberi sebuah lapisan pemantul cahaya dari logam yang sangat tipis. Logam yang biasa digunakan adalah perak atau alumunium. Cermin mampu memantulkan objek sehingga kita bisa melihat bayangan dengan bentuk yang sama.

Saudaraku, analogi dua benda ini bisa kita pakai untuk menyelesaikan sebagian permasalahan yang kita hadapi dengan orang lain. Benda mana yang akan kita gunakan tentu hasilnya akan berbeda. Jika kita memakai “suryakanta” maka masalah kecil bisa menjadi besar. Bahkan bisa jadi nafsu amarah kita ikut berkobar terbakar. Tetapi jika kita memakai cermin, kemungkinan kita akan menyadari bahwa masalah yang muncul ternyata karena kita juga, dengan demikian kita sadar dan bisa introspeksi diri lalu berdamai. Jadi benda mana yang akan kita pakai?

Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
Matius 7:3-5

Sekolah Sabar

Ungkapan “sabar ada batasnya” sering dipakai menjadi pembenar bagi orang yang tidak sabaran untuk membenarkan sikapnya yang sulit untuk berlaku sabar. Memang betul untuk menjadi orang sabar sangat tidak mudah, sebab dorongan ego dan nafsu sangat menguasai manusia. Seperti ada tertulis dalam Kitab Yakobus 4:1, “Dari mana datangnya sengketa dan pertengkaran diantara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?”

Perjuangan nafsu biasanya lebih kuat daripada perjuangan sabar maka pada akhirnya sabar sering kalah. Tidaklah heran ada sebagian orang berkata bahwa sabar itu keilmuan tingkat tinggi. Belajarnya setiap hari, latihannya setiap saat, ujiannya sering mendadak dan sekolahnya seumur hidup!!

Saudaraku, sabar itu berlaku untuk berbagai hal. Seperti keadaan hidup yang tak kunjung membaik (ekonomi, kesehatan, keluarga), doa yang sepertinya tidak ada jawaban atau terhadap sikap orang yang menjengkelkan dan terhadap perbedaan pendapat. Untuk hal hal itu, kita sering tidak bisa sabar. Namun kita mau belajar untuk bisa menjadi pribadi yang sabar. Alkitab berkata, “Orang sabar itu melebih pahlawan, orang yang menguasai dirinya melebih orang yang merebut kota.”

Lalu kapan itu terjadi? Ya.. sabarlah…

“ Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”
Roma 12:12 

Cuma

Sumber: https://www.facebook.com/truejesuschurch.batam?fref=ts

Oleh: Pdt. Silas

Kata “Cuma” ini tidak asing bagi telinga kita. Memang kata ini bukan bahasa baku, tapi sangat sering digunakan dalam percakapan. Kata yang dalam arti lain “hanya” ini sangat digemari semua kalangan, sebab bisa menjadi pembenar atas tindakan yang sebenarnya salah namun jadi bisa dimaklumi.

Seperti contoh beberapa kalimat berikut ini:

“Nggak apa-apa cuma sedikit, nggak bakalan sakit “

“Nggak apa cuma sebentar, telat dikit nggak masalah”

“Nggak apa cuma dekat nggak usah buru-buru santai aja”

“Nggak apa-apa nggak ke Gereja cuma sekali-kali, Tuhan juga akan maklum”

Saat kita melakukannya maka kita jadi merasa tidak bersalah. Semua ok saja seolah-olah tidak akan terjadi masalah besar dari pelanggaran yang kecil-kecil. Namun perlu kita “renungkan” penyimpangan kecil bisa berakibat fatal, contoh: saat seorang nahkoda menganggap pergeseran kapalnya 0,5º/hari itu adalah masalah biasa dan berkata cuman 0,5º, tapi jika itu terjadi terus menerus selama satu tahun, ternyata kapal tersebut sudah berbalik arah 180º dan menjauh dari tujuannya.

Saudaraku, setiap orang percaya selalu akan mendapat tekanan akan perkembangan zaman. Setiap hari kita diperhadapkan dengan situasi sulit yang membuat kita terjebak dalam perbuatan yang melawan aturan hukum, aturan agama maupun aturan norma. Banyak orang berkata, “Nggak apa-apa, itu cuman masalah kecil dan sudah wajar di zamannya, jangan takut…pasti dimaklumi.” Ingat! Dan hati-hati dengan jebakan Batman…dengan kata “cuma” kita bisa tersesat.

“ Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah yang mengadakannya. “
Matius 18:7

3 Digit

Sumber: https://www.facebook.com/truejesuschurch.batam?fref=ts

Oleh: Pdt. Silas

Tiga orang sahabat pergi ke sebuah kota besar untuk bekerja, namun mereka bekerja di perusahaan yang berbeda. Di satu kesempatan mereka bisa berkumpul dan saling berbagi pengalaman dalam bekerja termasuk menceritakan gaji setiap bulan yang diterima mereka.

Si Aji berkata, “Gajiku baru 1 Digit.”

“Wah.. Puji Tuhan, kalau saya sudah 2 Digit,” kata si Adi.

Lalu si Abi bertanya dengan kebingungan tentang gaji yang satuannya Digit.

Dengan mantap, temannya menjelaskan arti dari 1 dan 2 Digit, yaitu tentang berapa angka di depan koma. Jadi kalau gaji 1– 9,9 juta berarti 1 Digit, sedangkan gaji 10 – 99,9 juta berarti 2 Digit.

Maka si Abi dengan wajah murung berkata, “Ohh..kalau begitu gaji saya 3 koma.”

Maka dua sahabatnya serentak berkata, “Wahh 3 Digit!”

Tapi si Abi berkata, “Bukan, tapi 3 koma, baru gajian 3 hari sudah koma. Sudah tidak bisa bergerak sebab uang gajian sudah habis.”

Saudaraku, mengapa ada sebagian orang yang menerima gaji hanya bisa bertahan beberapa hari saja sudah tak bersisa? Ada 3 kemungkinan.

  1. Gajinya terlalu kecil tidak seimbang dengan kebutuhan standart sekalipun
  2. Gajinya kecil tapi gaya hidupnya mewah
  3. Gajinya besar tapi gaya hidupnya super mewah

Dari ke 3 alasan tersebut, ada beberapa hal yang bisa membantu  kita: sebisa mungkin jangan hutang (Rm 13:8), belajarlah menabung (Ams 13:11), belajarlah berhemat (Flp 4:11), belajarlah memberi (Luk 6:38). Jadi singkatnya bekerja keras + hidup benar + iman = hidup berkecukupan.

“Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau “
Ibrani 13:5