Ibadah: Prioritas Utama Bagi Umat Kristen

Sumber: http://members.tjc.org/sites/en/id/Lists/Santapan%20Rohani/Ibadah%20Prioritas%20Pertama%20bagi%20Orang%20Kristen.aspx

Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur; pada pemandangan Allah itu lebih baik daripada sapi jantan, daripada lembu jantan yang bertanduk dan berkuku belah. (Mazmur 69: 30-31)

Masyarakat saat ini menuntut para pekerja dan para pelajar untuk menginvestasikan banyak waktu dalam pencarian hal duniawi sebelum mereka dapat mencapai tujuan mereka. Kegiatan ini tidak hanya memakan waktu, tetapi juga energi. Ketika ditarik kedalam arus ini, kita secara alami menjadi lelah dan tanggung jawab kita yang lain menjadi terbengkalai. Kita hanya dapat mencurahkan sisa-sisa energi kita yang tersisa untuk memenuhi kewajiban mendasar kita sebagai orang Kristen untuk menyembahTuhan.

Sebagai hasilnya, kita merasa terdorong untuk mencari alternatif untuk mempersembahkan ibadah kita kepada Tuhan. Kita dapat menggantikan waktu ibadah kita dengan menawarkan materi kita atau hal lainnya, berpikir bahwa kita telah dengan benar menyenangkan Tuhan. Tetapi jika kita membaca ayat di atas, kita akan menyadari bahwa kita telah salah dalam menempatkan prioritas kita.

Pemazmur memberitahukan kepada kita bahwa Allah lebih senang dalam nyanyian dan ucapan syukur daripada persembahan korban binatang. Faktanya, dia mencoba mengatakan kepada kita bahwa Tuhan menginginkan persembahan yang tulus dari kita diatas materi apa pun yang dapat kita persembahkan. Tuhan ingin kita memiliki prioritas yang tepat dalam hubungan kita dengan-Nya. Dia tahu bahwa hubungan yang kuat dengan-Nya bersandar pada lebih dari sekadar persembahan materi. Kelemahan kita terletak pada kegagalan untuk menyadari bahwa hubungan pribadi kita dengan Tuhan sangat bergantung pada penyembahan kepada-Nya dari dalam hati kita.

Kita perlu menyesuaikan cara hidup kita dan menerapkan prioritas Kristen kita dengan cara yang benar. Mari kita beri Tuhan apa yang Dia inginkan dari kita — marilah kita memberi kepada Tuhan hati kita dalam ibadah dan memenuhi tanggung jawab kita yang paling mendasar sebagai orang percaya terlebih dahulu. Kemudian ketika kita menawarkan harta materi kita, kita dapat yakin bahwa Dia akan sepenuhnya puas dengan materi yang kita persembahkan. Allah kita sangat mengasihi kita dan memiliki banyak yang ingin Ia bagikan dengan kita. Dia ingin memberi kita kedamaian, menguatkan kita, memberi kita bimbingan dan istirahat. Hanya jika kita datang kehadapan-Nya dan menghabiskan waktu bersama-Nya kita akan menerima ini, dan dapat terus maju, dan mempersembahkan lebih banyak lagi.

Advertisements

Menyisihkan Waktu Untuk Melayani Tuhan

Sumber: http://members.tjc.org/sites/en/id/Lists/Santapan%20Rohani/Menyisihkan%20Waktu%20untuk%20Melayani%20Tuhan.aspx

Shawn Chou—San Jose, California, USA

Kita memiliki banyak hal yang harus dilakukan setiap hari, beberapa di antaranya penting, seperti makan, beristirahat, tidur, bekerja, pergi ke sekolah, atau belajar. Ada banyak juga hal yang tidak perlu, seperti menonton televisi, menjelajah internet, atau belanja. Bagaimana kita menggunakan waktu kita adalah penting karena waktu merupakan sumber daya yang berharga. Alkitab mengatakan kepada kita untuk menggunakan waktu dengan bijak untuk Tuhan (Ef 5:16). Untuk melakukannya, kita perlu memahami dari mana waktu kita berasal.

DARIMANAKAH ASALNYA WAKTU KITA?

Banyak orang merasa bahwa waktu adalah milik mereka sendiri dan mereka dapat menggunakannya sesuai dengan yang mereka inginkan. Alkitab mengatakan kepada kita bahwa waktu itu tidak benar-benar milik kita, tetapi milik Allah, dan kita hanyalah wakil Tuhan. Kisah Para Rasul 17:26 mengatakan bahwa Allah telah menentukan waktu kita; Oleh karena itu, berapa banyak waktu yang kita miliki tidak berada dalam kendali kita.

Yesaya 38: 1-8 mencatat bahwa Allah memiberikan Raja Hizkia tambahan lima belas tahun hidup. Dari hal ini, kita memahami bahwa Allah adalah penguasa atas waktu kita di bumi, dan dengan fakta ini, kita harus mengatur waktu sesuai dengan kehendak-Nya.

PRINSIP MENGATUR WAKTU KITA

Dalam rangka menyenangkan Tuhan, kita harus hidup sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Kolose 3: 2 mendorong kita untuk memikirkan hal-hal di atas, yang kekal. Dengan demikian, kita akan menghabiskan lebih sedikit waktu pada hal-hal di bumi, yang bersifat sementara. Kita secara alami akan memprioritaskan hal-hal yang berkaitan dengan Allah dibandingkan hal-hal duniawi. Kita mungkin memiliki banyak tujuan, seperti mendapatkan ijazah perguruan tinggi, mencari pekerjaan yang baik, dan membangun sebuah keluarga. Namun, jika kita memfokuskan sebagian besar waktu kita di mengejar hal-hal tersebut, kita tidak akan memiliki sisa waktu yang cukup untuk hal-hal di atas bumi. Dengan memprioritaskan waktu kita sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab, kita akan memfokuskan usaha kita pada hal-hal seperti melayani Tuhan, mengetahui bahwa apa yang kita lakukan untuk Dia tidak akan sia-sia (1 Korintus 15:58).

SEMANGAT UNTUK MENGABDI

Semenjak waktu kita adalah hal yang sangat berharga, bagaimana kita dapat mengatur lebih banyak waktu untuk melayani Tuhan, di tengah-tengah prioritas penting lainnya? Alkitab mengajarkan kita bahwa jika kita ingin melayani Tuhan, kita harus memiliki semangat pengabdian. Dalam Roma 12: 1, Paulus mendorong kita untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah. Hanya dengan demikian maka kita dapat melayani Dia sepenuh hati.

Tanpa dedikasi, pelayanan secara efektif akan menjadi tantangan bagi kita; pelayanan kita bisa menjadi sandiwara semata (Kol 3:22) atau sebuah rutinitas (Mat 16: 6). Pelayanan tersebut bisa kekurangan semangat, kasih sayang, dan cinta, dan mungkin dangkal, seperti perbuatan orang-orang Farisi yang fokus pada hukum taurat tetapi mengabaikan semangat hukum tersebut. Mereka yang memiliki hati penuh dedikasi akan rajin menawarkan waktu mereka untuk melayani-Nya.

Jadi apakah hati yang berdedikasi? Mari kita mempelajari dua tokoh Alkitab untuk melihat bagaimana mereka menawarkan yang terbaik untuk Tuhan:

Daud (1 Tawarikh 29: 3)

Daud bertekad untuk membangun sebuah kuil untuk Tuhan. Namun, Allah ingin anaknya Salomo untuk menyelesaikan pekerjaan ini sebagai gantinya. Meskipun begitu, dedikasi Daud tidak goyah. Dia menawarkan hartanya sendiri bukan uang yang berada di simpanan negaranya, karena dia mencintai Tuhan. Sehingga nama Tuhan dimuliakan. Dari hal ini, kita menyadari ada perbedaan yang signifikan antara melayani Tuhan karena kewajiban dan melayani dengan kemauan dan keinginan untuk menyenangkan-Nya.

Maria dari Betania (Markus 14: 3-9)

Maria datang kepada Yesus dengan buli-buli pualam berisi minyak narwastu yang mahal, memecahkannya dan menuangkan isinya ke kepala Yesus. Karena minyak ini dapat dijual untuk uang yang banyak, orang lain mengkritik Maria, mengatakan bahwa dia boros karena uangnya bisa saja diberikan kepada orang miskin. Namun, Yesus membela dan memuji perbuatan Maria dihadapan kerumunan. Kadang-kadang, kita mungkin dikritik atau ditertawakan karena menawarkan waktu dan sumber daya kita kepada Allah bukan mengejar keuntungan duniawi. Tapi kita harus yakin bahwa Yesus akan senang dan akan memuji kita karena persembahan kita yang berharga.

YANG DIPERLUKAN UNTUK MENCINTAI TUHAN SEPENUHNYA

Dipenuhi Kasih Yesus

Dalam Efesus 3: 18-19, Paulus berdoa supaya orang percaya dapat dipenuhi dengan kepenuhan Allah. Kepenuhan ini termasuk cinta yang berlimpah-Nya yang dimanifestasikan melalui Yesus Kristus. Apa jenis cinta ini?

“Dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” (Efesus 5: 2)

Demi cinta, Kristus benar-benar mengorbankan diri-Nya bagi kita. Suatu perbuatan yang mirip dengan jenis cinta ini dapat dilihat pada orang tua yang rela menanggung penderitaan dan pengorbanan diri mereka tanpa syarat untuk anak-anak mereka. Namun, Tuhan kita Yesus Kristus melangkah lebih jauh dari ini, mencintai kita sementara kita masih berdosa. Roma 5: 6-8 mengatakan bahwa Dia mengasihi orang fasik yang tidak mengenal Dia dan yang tidak mau percaya kepada-Nya. Cinta pengorbanan seperti ini melampaui segalanya.

Oleh karena itu, kita harus menghargai dalamnya kasih Allah dengan mengakui kasih karunia-Nya yang menyelamatkan. Dengan demikian, kasih-Nya akan mengisi, memotivasi dan menginspirasi kita untuk rela dan sukacita mendedikasikan apa yang kita miliki kepada-Nya. Ketika kasih Yesus memenuhi kita, secara alami kita akan berusaha untuk melayani Dia dan mendedikasikan hidup kita kepada-Nya.

Dipenuhi Roh Kudus (Efesus 5:18)

Dalam Efesus 3: 16-17, Paulus menekankan pentingnya Roh Kudus, ia menyatakan bahwa Roh membantu kita untuk memahami kasih Kristus dan menjadi berakar dan dibangun dalam kasih-Nya, sekaligus menguatkan kita dengan kekuatan dalam rohani. Jika Roh Allah memenuhi kita, kekuatan dan sukacita-Nya akan terwujud melalui kita, dan kita tidak akan merasa terbebani dalam pelayanan kita.

Ketika kita dipenuhi dengan cinta dan Roh Allah, kita akan menawarkan diri untuk dipakai Tuhan. Kemauan seperti ini akan mendorong kita untuk mengatasi keterbatasan kita dengan mengutamakan dan mendedikasikan waktu yang cukup untuk melayani Dia.

MENGATASI TANTANGAN

Sisihkan Waktu Untuk Melayani

Banyak dari kita ingin melayani Tuhan, tapi entah bagaimana, waktu berlalu begitu saja dan kita merasa bahwa kita tidak memiliki cukup waktu. Jika kita tidak mengelola waktu kita dengan bijak, bahkan jika satu hari, tiga puluh jam tampaknya tidak akan cukup untuk kebutuhan kita. Sebaliknya, jika kita mengelolanya dengan bijak, kita akan mampu untuk melayani Tuhan, bahkan di tengah-tengah kehidupan kita yang sibuk.

Rasul Paulus mendorong jemaat di Korintus untuk menyisihkan harta mereka bagi Allah jika mereka tidak memiliki apapun untuk dipersembahkan (1 Kor 16: 2). Pendekatan ini juga dapat digunakan ketika kita menyisihkan waktu untuk melayani Tuhan.

Kesulitan yang sering kita hadapi berkaitan dengan sistem nilai kita. Jika kita dapat menyisihkan waktu untuk Tuhan sebagai prioritas, kita akan selalu punya waktu untuk melayani Dia. Apapun waktu yang tersisa kemudian dapat digunakan untuk kegiatan lain. Sebagai contoh, jika kita berencana untuk mengunjungi anggota gereja pada hari Minggu sore, kita harus mendedikasikan waktu untuk pekerjaan ini, dan jadwal kegiatan lain untuk lain waktu. Tanpa sikap yang benar, kita tidak akan dapat mengakomodasi pekerjaan Tuhan.

Lepaskan dan Bawa Kemari

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem, dekat Betfage dan Betania yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan: “Pergilah ke kampung yang di depanmu itu. Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan segera menemukan seekor keledai muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Lepaskan keledai itu dan bawalah ke mari. Dan jika ada orang mengatakan kepadamu: Mengapa kamu lakukan itu, jawablah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya ke sini.” (Markus 11:1-3)

Tuhan Yesus meminta dua orang murid-Nya untuk membawa seekor keledai muda yang sedang diikat dari desa terdekat. Setelah para murid telah melonggarkan keledai itu dan membawanya kepada Yesus, Dia duduk di atas keledai dan pergi ke Yerusalem, dengan demikian memenuhi nubuat Perjanjian Lama (Zakharia 9: 9). Meskipun hewan itu adalah keledai rendahan, Tuhan Yesus mampu memanfaatkannya untuk memenuhi tujuan penting.

Keledai itu mungkin merupakan simbol dari banyak orang percaya: kita terikat oleh banyak hal, seperti studi, pekerjaan, tujuan karir, dan kehidupan keluarga kita. Ketika kita dibatasi oleh hal-hal seperti itu, gerakan kita akan dibatasi. Seperti keledai muda yang diikat, kita akan dibatasi oleh panjangnya tali. Dalam rangka untuk digunakan oleh Tuhan, kita harus membebaskan diri dari hal-hal dari dunia ini.

Kita perlu memahami mengapa Tuhan menginginkan kita untuk bekerja bagi-Nya. Ketika Allah menempatkan Adam di Taman Eden, Tuhan memerintahkan dia untuk memelihara taman (Kej 2:15). Karena ini adalah perintah langsung dari Allah, Adam bekerja untuk melayani-Nya; Namun, setelah Adam berdosa, ia dipaksa untuk bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan dirinya sendiri (Kejadian 3: 17-19).

Saat ini, Allah telah mengampuni dosa-dosa kita. Oleh karena itu, kita harus menginginkan kondisi kita menjadi seperti kondisi Adam sebelum ia berdosa. Meskipun kita harus melakukan pekerjaan duniawi untuk bertahan hidup, tujuan hidup kita haruslah untuk melayani Tuhan. Ketika memilih jalur karir kita, pertimbangan utama kita haruslah apakah bidang pekerjaan kita memungkinkan kita untuk mempunyai waktu untuk melayani Tuhan. Beberapa pekerjaan mungkin seringkali mengharuskan kita untuk bekerja lembur, diluar jam kerja kita. Ketika kasih Allah mengisi hati kita, kita akan terinspirasi untuk memilih tangga karir yang tidak hanya menopang kehidupan kita, tetapi memungkinkan kita untuk tanpa hambatan untuk melayani Tuhan.

Kita harus membedakan antara hal-hal yang penting dan hal-hal yang tidak, dan memiliki kebijaksanaan untuk melepaskan diri dari hal-hal yang tidak penting dengan membatasi jumlah waktu yang kita habiskan pada mereka. Sebagai contoh, jika karir kita menghabiskan seluruh atau sejumlah besar waktu kita, maka kita harus mempertimbangkan apakah kita perlu mengubah jalur karir. Ketika kita terikat oleh pengejaran duniawi kita, seringkali kita punya sedikit atau tidak punya waktu yang tersisa untuk Allah. Sama seperti Yesus yang hanya bisa menggunakan keledai muda itu setelah ikatannya dilepas, begitu juga kita harus melepaskan diri dari hal-hal duniawi.

Terakhir, kita harus dibawa kepada Yesus, seperti keledai yang patuh mengikuti mereka yang membawanya kepada Tuhan. Kita tahu bahwa seekor keledai biasanya keras kepala, dan jika tidak bersedia, tidak mau mengalah. Namun, keledai muda ini mau dipimpin kepada Yesus. Hari ini, ketika Yesus ingin menggunakan kita, apakah kita cukup taat untuk memegang kesempatan untuk digunakan oleh-Nya, atau kita menolak dan keras kepala? Mungkin kita berpikir bahwa masih ada waktu untuk melayani Tuhan di masa depan, atau kita mungkin tidak mau dan tidak tertarik untuk berpartisipasi dalam pekerjaan kudus. Kita bahkan mungkin berulang kali menolak kesempatan untuk melayani, berpikir bahwa kita tidak perlu melakukannya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Mari kita periksa diri kita sendiri untuk melihat apakah kita memiliki sifat keras kepala, dan belajar untuk menjadi lebih taat kepada Tuhan dan panggilan-Nya. Setelah kita belajar taat, Allah akan senang untuk membantu kita untuk menggunakan waktu untuk melayani-Nya.

KESIMPULAN

Allah tidak membutuhkan kita untuk menyelesaikan pekerjaan-Nya. Namun, Dia senang melihat kerelaan kita untuk mengambil bagian dalam pelayanan-Nya dan untuk menggunakan hidup kita untuk melayani-Nya. Tuhan Yesus memberikan contoh terbaik ketika Dia berada di dunia ini: “Karena Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10:45).

Mari kita terus merenungkan anugrah rahmat Tuhan. Semoga kita dipenuhi dengan kepenuhan kasih dan Roh-Nya, dan semoga hati kita melimpah dengan perasaan bersyukur sehingga kita rindu untuk melayani-Nya lebih lagi.

Menyisihkan Waktu Untuk Melayani Tuhan

Sumber: http://members.tjc.org/sites/en/id/Lists/Santapan%20Rohani/Menyisihkan%20Waktu%20untuk%20Melayani%20Tuhan.aspx

Shawn Chou—San Jose, California, USA

Kita memiliki banyak hal yang harus dilakukan setiap hari, beberapa di antaranya penting, seperti makan, beristirahat, tidur, bekerja, pergi ke sekolah, atau belajar. Ada banyak juga hal yang tidak perlu, seperti menonton televisi, menjelajah internet, atau belanja. Bagaimana kita menggunakan waktu kita adalah penting karena waktu merupakan sumber daya yang berharga. Alkitab mengatakan kepada kita untuk menggunakan waktu dengan bijak untuk Tuhan (Ef 5:16). Untuk melakukannya, kita perlu memahami dari mana waktu kita berasal.

DARIMANAKAH ASALNYA WAKTU KITA?

Banyak orang merasa bahwa waktu adalah milik mereka sendiri dan mereka dapat menggunakannya sesuai dengan yang mereka inginkan. Alkitab mengatakan kepada kita bahwa waktu itu tidak benar-benar milik kita, tetapi milik Allah, dan kita hanyalah wakil Tuhan. Kisah Para Rasul 17:26 mengatakan bahwa Allah telah menentukan waktu kita; Oleh karena itu, berapa banyak waktu yang kita miliki tidak berada dalam kendali kita.

Yesaya 38: 1-8 mencatat bahwa Allah memiberikan Raja Hizkia tambahan lima belas tahun hidup. Dari hal ini, kita memahami bahwa Allah adalah penguasa atas waktu kita di bumi, dan dengan fakta ini, kita harus mengatur waktu sesuai dengan kehendak-Nya.

PRINSIP MENGATUR WAKTU KITA

Dalam rangka menyenangkan Tuhan, kita harus hidup sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Kolose 3: 2 mendorong kita untuk memikirkan hal-hal di atas, yang kekal. Dengan demikian, kita akan menghabiskan lebih sedikit waktu pada hal-hal di bumi, yang bersifat sementara. Kita secara alami akan memprioritaskan hal-hal yang berkaitan dengan Allah dibandingkan hal-hal duniawi. Kita mungkin memiliki banyak tujuan, seperti mendapatkan ijazah perguruan tinggi, mencari pekerjaan yang baik, dan membangun sebuah keluarga. Namun, jika kita memfokuskan sebagian besar waktu kita di mengejar hal-hal tersebut, kita tidak akan memiliki sisa waktu yang cukup untuk hal-hal di atas bumi. Dengan memprioritaskan waktu kita sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab, kita akan memfokuskan usaha kita pada hal-hal seperti melayani Tuhan, mengetahui bahwa apa yang kita lakukan untuk Dia tidak akan sia-sia (1 Korintus 15:58).

SEMANGAT UNTUK MENGABDI

Semenjak waktu kita adalah hal yang sangat berharga, bagaimana kita dapat mengatur lebih banyak waktu untuk melayani Tuhan, di tengah-tengah prioritas penting lainnya? Alkitab mengajarkan kita bahwa jika kita ingin melayani Tuhan, kita harus memiliki semangat pengabdian. Dalam Roma 12: 1, Paulus mendorong kita untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah. Hanya dengan demikian maka kita dapat melayani Dia sepenuh hati.

Tanpa dedikasi, pelayanan secara efektif akan menjadi tantangan bagi kita; pelayanan kita bisa menjadi sandiwara semata (Kol 3:22) atau sebuah rutinitas (Mat 16: 6). Pelayanan tersebut bisa kekurangan semangat, kasih sayang, dan cinta, dan mungkin dangkal, seperti perbuatan orang-orang Farisi yang fokus pada hukum taurat tetapi mengabaikan semangat hukum tersebut. Mereka yang memiliki hati penuh dedikasi akan rajin menawarkan waktu mereka untuk melayani-Nya.

Jadi apakah hati yang berdedikasi? Mari kita mempelajari dua tokoh Alkitab untuk melihat bagaimana mereka menawarkan yang terbaik untuk Tuhan:

Daud (1 Tawarikh 29: 3)

Daud bertekad untuk membangun sebuah kuil untuk Tuhan. Namun, Allah ingin anaknya Salomo untuk menyelesaikan pekerjaan ini sebagai gantinya. Meskipun begitu, dedikasi Daud tidak goyah. Dia menawarkan hartanya sendiri bukan uang yang berada di simpanan negaranya, karena dia mencintai Tuhan. Sehingga nama Tuhan dimuliakan. Dari hal ini, kita menyadari ada perbedaan yang signifikan antara melayani Tuhan karena kewajiban dan melayani dengan kemauan dan keinginan untuk menyenangkan-Nya.

Maria dari Betania (Markus 14: 3-9)

Maria datang kepada Yesus dengan buli-buli pualam berisi minyak narwastu yang mahal, memecahkannya dan menuangkan isinya ke kepala Yesus. Karena minyak ini dapat dijual untuk uang yang banyak, orang lain mengkritik Maria, mengatakan bahwa dia boros karena uangnya bisa saja diberikan kepada orang miskin. Namun, Yesus membela dan memuji perbuatan Maria dihadapan kerumunan. Kadang-kadang, kita mungkin dikritik atau ditertawakan karena menawarkan waktu dan sumber daya kita kepada Allah bukan mengejar keuntungan duniawi. Tapi kita harus yakin bahwa Yesus akan senang dan akan memuji kita karena persembahan kita yang berharga.

YANG DIPERLUKAN UNTUK MENCINTAI TUHAN SEPENUHNYA

Dipenuhi Kasih Yesus

Dalam Efesus 3: 18-19, Paulus berdoa supaya orang percaya dapat dipenuhi dengan kepenuhan Allah. Kepenuhan ini termasuk cinta yang berlimpah-Nya yang dimanifestasikan melalui Yesus Kristus. Apa jenis cinta ini?

“Dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” (Efesus 5: 2)

Demi cinta, Kristus benar-benar mengorbankan diri-Nya bagi kita. Suatu perbuatan yang mirip dengan jenis cinta ini dapat dilihat pada orang tua yang rela menanggung penderitaan dan pengorbanan diri mereka tanpa syarat untuk anak-anak mereka. Namun, Tuhan kita Yesus Kristus melangkah lebih jauh dari ini, mencintai kita sementara kita masih berdosa. Roma 5: 6-8 mengatakan bahwa Dia mengasihi orang fasik yang tidak mengenal Dia dan yang tidak mau percaya kepada-Nya. Cinta pengorbanan seperti ini melampaui segalanya.

Oleh karena itu, kita harus menghargai dalamnya kasih Allah dengan mengakui kasih karunia-Nya yang menyelamatkan. Dengan demikian, kasih-Nya akan mengisi, memotivasi dan menginspirasi kita untuk rela dan sukacita mendedikasikan apa yang kita miliki kepada-Nya. Ketika kasih Yesus memenuhi kita, secara alami kita akan berusaha untuk melayani Dia dan mendedikasikan hidup kita kepada-Nya.

Dipenuhi Roh Kudus (Efesus 5:18)

Dalam Efesus 3: 16-17, Paulus menekankan pentingnya Roh Kudus, ia menyatakan bahwa Roh membantu kita untuk memahami kasih Kristus dan menjadi berakar dan dibangun dalam kasih-Nya, sekaligus menguatkan kita dengan kekuatan dalam rohani. Jika Roh Allah memenuhi kita, kekuatan dan sukacita-Nya akan terwujud melalui kita, dan kita tidak akan merasa terbebani dalam pelayanan kita.

Ketika kita dipenuhi dengan cinta dan Roh Allah, kita akan menawarkan diri untuk dipakai Tuhan. Kemauan seperti ini akan mendorong kita untuk mengatasi keterbatasan kita dengan mengutamakan dan mendedikasikan waktu yang cukup untuk melayani Dia.

MENGATASI TANTANGAN

Sisihkan Waktu Untuk Melayani

Banyak dari kita ingin melayani Tuhan, tapi entah bagaimana, waktu berlalu begitu saja dan kita merasa bahwa kita tidak memiliki cukup waktu. Jika kita tidak mengelola waktu kita dengan bijak, bahkan jika satu hari, tiga puluh jam tampaknya tidak akan cukup untuk kebutuhan kita. Sebaliknya, jika kita mengelolanya dengan bijak, kita akan mampu untuk melayani Tuhan, bahkan di tengah-tengah kehidupan kita yang sibuk.

Rasul Paulus mendorong jemaat di Korintus untuk menyisihkan harta mereka bagi Allah jika mereka tidak memiliki apapun untuk dipersembahkan (1 Kor 16: 2). Pendekatan ini juga dapat digunakan ketika kita menyisihkan waktu untuk melayani Tuhan.

Kesulitan yang sering kita hadapi berkaitan dengan sistem nilai kita. Jika kita dapat menyisihkan waktu untuk Tuhan sebagai prioritas, kita akan selalu punya waktu untuk melayani Dia. Apapun waktu yang tersisa kemudian dapat digunakan untuk kegiatan lain. Sebagai contoh, jika kita berencana untuk mengunjungi anggota gereja pada hari Minggu sore, kita harus mendedikasikan waktu untuk pekerjaan ini, dan jadwal kegiatan lain untuk lain waktu. Tanpa sikap yang benar, kita tidak akan dapat mengakomodasi pekerjaan Tuhan.

Lepaskan dan Bawa Kemari

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem, dekat Betfage dan Betania yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan: “Pergilah ke kampung yang di depanmu itu. Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan segera menemukan seekor keledai muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Lepaskan keledai itu dan bawalah ke mari. Dan jika ada orang mengatakan kepadamu: Mengapa kamu lakukan itu, jawablah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya ke sini.” (Markus 11:1-3)

Tuhan Yesus meminta dua orang murid-Nya untuk membawa seekor keledai muda yang sedang diikat dari desa terdekat. Setelah para murid telah melonggarkan keledai itu dan membawanya kepada Yesus, Dia duduk di atas keledai dan pergi ke Yerusalem, dengan demikian memenuhi nubuat Perjanjian Lama (Zakharia 9: 9). Meskipun hewan itu adalah keledai rendahan, Tuhan Yesus mampu memanfaatkannya untuk memenuhi tujuan penting.

Keledai itu mungkin merupakan simbol dari banyak orang percaya: kita terikat oleh banyak hal, seperti studi, pekerjaan, tujuan karir, dan kehidupan keluarga kita. Ketika kita dibatasi oleh hal-hal seperti itu, gerakan kita akan dibatasi. Seperti keledai muda yang diikat, kita akan dibatasi oleh panjangnya tali. Dalam rangka untuk digunakan oleh Tuhan, kita harus membebaskan diri dari hal-hal dari dunia ini.

Kita perlu memahami mengapa Tuhan menginginkan kita untuk bekerja bagi-Nya. Ketika Allah menempatkan Adam di Taman Eden, Tuhan memerintahkan dia untuk memelihara taman (Kej 2:15). Karena ini adalah perintah langsung dari Allah, Adam bekerja untuk melayani-Nya; Namun, setelah Adam berdosa, ia dipaksa untuk bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan dirinya sendiri (Kejadian 3: 17-19).

Saat ini, Allah telah mengampuni dosa-dosa kita. Oleh karena itu, kita harus menginginkan kondisi kita menjadi seperti kondisi Adam sebelum ia berdosa. Meskipun kita harus melakukan pekerjaan duniawi untuk bertahan hidup, tujuan hidup kita haruslah untuk melayani Tuhan. Ketika memilih jalur karir kita, pertimbangan utama kita haruslah apakah bidang pekerjaan kita memungkinkan kita untuk mempunyai waktu untuk melayani Tuhan. Beberapa pekerjaan mungkin seringkali mengharuskan kita untuk bekerja lembur, diluar jam kerja kita. Ketika kasih Allah mengisi hati kita, kita akan terinspirasi untuk memilih tangga karir yang tidak hanya menopang kehidupan kita, tetapi memungkinkan kita untuk tanpa hambatan untuk melayani Tuhan.

Kita harus membedakan antara hal-hal yang penting dan hal-hal yang tidak, dan memiliki kebijaksanaan untuk melepaskan diri dari hal-hal yang tidak penting dengan membatasi jumlah waktu yang kita habiskan pada mereka. Sebagai contoh, jika karir kita menghabiskan seluruh atau sejumlah besar waktu kita, maka kita harus mempertimbangkan apakah kita perlu mengubah jalur karir. Ketika kita terikat oleh pengejaran duniawi kita, seringkali kita punya sedikit atau tidak punya waktu yang tersisa untuk Allah. Sama seperti Yesus yang hanya bisa menggunakan keledai muda itu setelah ikatannya dilepas, begitu juga kita harus melepaskan diri dari hal-hal duniawi.

Terakhir, kita harus dibawa kepada Yesus, seperti keledai yang patuh mengikuti mereka yang membawanya kepada Tuhan. Kita tahu bahwa seekor keledai biasanya keras kepala, dan jika tidak bersedia, tidak mau mengalah. Namun, keledai muda ini mau dipimpin kepada Yesus. Hari ini, ketika Yesus ingin menggunakan kita, apakah kita cukup taat untuk memegang kesempatan untuk digunakan oleh-Nya, atau kita menolak dan keras kepala? Mungkin kita berpikir bahwa masih ada waktu untuk melayani Tuhan di masa depan, atau kita mungkin tidak mau dan tidak tertarik untuk berpartisipasi dalam pekerjaan kudus. Kita bahkan mungkin berulang kali menolak kesempatan untuk melayani, berpikir bahwa kita tidak perlu melakukannya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Mari kita periksa diri kita sendiri untuk melihat apakah kita memiliki sifat keras kepala, dan belajar untuk menjadi lebih taat kepada Tuhan dan panggilan-Nya. Setelah kita belajar taat, Allah akan senang untuk membantu kita untuk menggunakan waktu untuk melayani-Nya.

KESIMPULAN

Allah tidak membutuhkan kita untuk menyelesaikan pekerjaan-Nya. Namun, Dia senang melihat kerelaan kita untuk mengambil bagian dalam pelayanan-Nya dan untuk menggunakan hidup kita untuk melayani-Nya. Tuhan Yesus memberikan contoh terbaik ketika Dia berada di dunia ini: “Karena Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10:45).

Mari kita terus merenungkan anugrah rahmat Tuhan. Semoga kita dipenuhi dengan kepenuhan kasih dan Roh-Nya, dan semoga hati kita melimpah dengan perasaan bersyukur sehingga kita rindu untuk melayani-Nya lebih lagi.

Kasih Menyatukan Kita Bersama

Sumber: http://members.tjc.org/sites/en/id/Lists/Santapan%20Rohani/Kasih%20Menyatukan%20Kita%20Bersama.aspx

Berdasarkan khotbah Rong-Yu Ho—Singapore

Paulus menuliskan surat kepada jemaat di Kolose agar mereka menolak ajaran-ajaran yang berbeda yang sudah menjalar di gereja Kolose. Isi dari surat ini adalah menceritakan tentang perbedaan yang mencolok dari keMahakuasaan Kristus (Kol 1:15-20) dan filosofi manusia yang sia-sia dan ritual keagamaan yang membebankan pada diri sendiri (Kol 2:16-20). Pada Kitab Kolose pasal 3-4, rasul Paulus menjabarkan bagaimana kita dapat menjalani hidup yang indah dan lebih bermakna.

Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

(Kol 3:12-17)

Menurut Paulus, kita sebagai orang-orang kudus pilihan yang dikasihi Allah harus menampilkan kesempurnaan rohani dan kasih untuk mengampuni orang lain. Sebagai tubuh jemaat dari Kristus, kita seharusnya melayani satu sama lain seperti satu keluarga. Ini hanya bisa tercapai melalui kasih akan satu sama lain (Yoh 13:34-35). Kasih seorang kristen selayaknya adalah kasih tanpa mengharapkan imbalan. Kita harus menyadari dan menunjukan kasih didalam kehidupan kita sehari-hari untuk menunjukan Tuhan Yesus di dalam kita; kita harus berjuang untuk menjadi pengikut Tuhan.

Apa yang diperlukan untuk memiliki kasih Kristus yang sempurna?

PENUHI DIRI KITA DENGAN KASIH

Pertama kita harus memiliki pemikiran yang tepat. Rasul Paulus memberitahu kita bahwa Tuhan dengan khusus memilih kita untuk menjadi umatNya yang dikasihi dan kudus. Walau kita sebenarnya tidak layak, Tuhan telah melayakan kita (1 Tes 2). Mulai saat ini, kita harus hidup menurut yang dikehendaki Tuhan, yaitu untuk menjadi berbeda dengan dunia. Kolose 3:12-13 menjabarkan sepuluh sifat baik yang dapat membuat kita menjadi berbeda dari dunia. Rasul Paulus menyemangati kita untuk “mengenakan sifat-sifat baik seperti kita mengenakan pakaian. Pada dasarnya pakaian kebaikan ini bukan milik kita, tetapi sekarang karena kita telah memakainya, pakaian beik ini menjadi milik kita.

Bagian yang penting dari pakaian kita adalah kasih, ikatan yang sempurna. Secara tradisional, orang Yahudi memakai jubah panjang dengan ikat pinggang. Tanpa ikat pinggang, baju itu akan membuat pemakainya terlihat tidak rapi. Kita harus memakaikan diri kita pakaian kebaikan dan mengikat pinggang kita dengan ikat pinggang kasih. Diikat dengan erat sehingga kita mempunyai kekuatan untuk berjalan di dalam Tuhan dan bekerja untukNya.

Tetapi saat kita mempraktekan kasih, kita harus “melakukannya dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kol 3:23). Tujuan dari kebaikan kita adalah untuk menyenangkan Tuhan bukan untuk mengumpulkan pujian dari sesama. Kebaikan yang dilakukan dengan rela adalah contoh kasih yang aktif dan tulus. Karena itu titik awal dari kasih yang sempurna adalah sikap kasih yang tepat, kita ditentukan untuk mengasihi dengan kerelaan hati karena Tuhan telah lebih dahulu mengasihi kita dan Ia ingin kita untuk mengasihi sesama; kita melayani Tuhan dan menolong sesama dengan rela karena ini adalah tindakan yang dipuji oleh Tuhan dan membuat kita berkenan di hadapan Tuhan.

MENGAMPUNI SATU SAMA LAIN

Seperti Kristus Mengampuni kita

…Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. (Kol 3:13)

Yang kedua, kasih mengharuskan kita untuk mengampuni. Mungkin terlihat cukup mudah untuk mengampuni kesalahan kecil, tetapi sebagai seorang Kristen, tuntutan kita lebih tinggi daripada itu. Seperti Tuhan telah mengampuni kita, kita harus mengampuni satu sama lain dengan penuh kerelaan hati. Kata “mengeluh” (Yunani: μομφήν [momphēn]) hanya terdapat di kitab Kolose 3:13. Yang mengacu pada pertengkaran atau sebuah kejadian yang mengakibatkan banyak ketidakpuasan atau keluhan. Konflik antar sesama biasanya dikarenakan kesalahpahaman atau kurangnya pengertian.

Tanpa memperhatikan alasan dari konflik kita, kita seharusnya selalu berusaha untuk memahami dan mengampuni satu sama lain jika mereka telah menyakiti kita. Kita perlu ingat bagaimana Tuhan telah sering mengampuni kita dan bagaimana Ia talah mengajarkan murid-muridNya untuk mengampuni sesama sebanyak tujuh puluh kali tujuh. Itu bukan berarti kita menghitung berapa banyak kita telah mengampuni. Angka ini melambangkan pengampunan sepenuhnya dimana kita tidak lagi memendam kekesalan ataupun dendam kepada orang yang telah melukai kita. Di kayu salib, Tuhan Yesus mencontohkan pengampunan tanpa syarat yang sempurna, yaitu berdoa untuk mereka yang menyalibkan Dia, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34)

Konflik atau perselisihan adalah suatu hal yang tidak bisa dihindari dalam keluarga manapun, termasuk keluarga besar didalam Kristus, gereja. Kedekatan didalam keluarga bisa mengakibatkan kita lebih rentan untuk terluka seperti gigi kita yang sering tanpa sengaja menggigit lidah atau bibir kita. Ditambah lagi saat orang terdekat yang menyakiti kita, akan membuat luka itu lama untuk sembuh yang mengakibatkan ketidaknyamanan pada kita. Tetapi kita harus bertahan atau tidak keluarga kita akan terpecah belah. Bertahan bukan berarti toleransi yang menggerutu dimana kita tidak membalas tetapi kita tidak mau bertemu atau berbicara pada orang yang telah menyakiti kita. Pengampunan yang sejati adalah kerelaan untuk memahami saudara saudari kita didalam Tuhan dengan kasih dari Kristus.

Diantara masalah yang paling sulit diatasi didalam gereja adalah perselisihan pendapat antar jemaat itu sendiri. Kesalahpahaman terjadi karena semua orang berfikir dirinya benar. Dan ketika semua orang memegang teguh pendapatnya dengan keras kepala, masalahnya tidak akan bisa diselesaikan. Hanya kasih tak bersyarat dan pengampunan yang diperlihatkan oleh Tuhan Yesus yang bisa menyembuhkan luka hati dan menyingkirkan hal-hal yang mengancam kerukunan dalam gereja. Karena itu, pengampunan adalah ungkapan kasih yang sangat penting dan syarat untuk mencapai kesatuan gereja.

Biarlah Tuhan yang Menjadi Hakim Kita

Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. (Kol 3:14-15)

Damai daripada Tuhan mengacu pada kesatuan kita pada Tuhan. Dengan kesatuan pada Tuhan, kita bisa berdamai dengan sesama begitu juga berdamai dengan Tuhan. Untuk menikmati kedamaian seperti itu, kita harus memiliki Kristus sebagai Tuhan kita.

Rasul Paulus mendorong jemaat untuk mempersilahkan damai daripada Tuhan untuk berkuasa dalam hati mereka. Kata “berkuasa” (Greek: βραβευέτω [brabeuetō]) berarti “untuk mengatur”. Didalam olahraga, tugas dari wasit adalah untuk memastikan pemain mematuhi aturan dalam permainan. Didalam beberapa olahraga, wasit yang memberikan poin pada kontestan. Tidak heran jika beberapa kontestan menyalahkan kekalahan mereka pada keputusan wasit yang tidak jelas. Jadi ada tekanan yang begitu besar pada wasit. Disisi lain, sangat dimengerti mengapa kontestan sangat teliti pada standar wasit. Karena perbedaan satu poin dapat menentukan seseorang mendapatkan medali perak atau emas.

Rasul Paulus memberi tahu kita bahwa kita memerlukan Kristus sebagai wasit kita dan memperbolehkan Ia untuk berkuasa atas kita. Kita tidak perlu ada rasa keraguan tentang wasit ini, karena Ia mahatahu dan selalu hadir di hidup kita. Jika kita mendapat keluhan, kesulitan atau rintangan, kita dapat dan seharusnya kita meminta pada Tuhan untuk mendamaikannya. Bagaimanapun juga kita juga harus siap menerima keputusan Tuhan, karena keputusanNya adalah yang terbaik (Ul 32:4)

Sebagai manusia, kita terbiasa untuk berfikir bahwa kita selalu benar (Ams 16:2; 21:2). Tetapi ketika kita salah, kita harus menerima pengaturan dari Wasit Ilahi. Ini adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan kedamaian antara Tuhan dan manusia begitu pula dengan kesatuan didalam gereja. Didalam turnamen dunia, kita biasanya melihat pemain yang menolak keputusan wasit, kehilangan ketenangan dalam pertandingan. Beberapa menjadi marah, ada juga yang mengucapkan kata-kata kasar atau bahkan menyerang wasit. Saat hal ini terjadi, keseluruhan pertandingan menjadi rusak dan bahkan hasil dari pertandingan bisa dipertimbangkan. Demikian pula tidak ada jemaat sejati yang mengasihi Tuhan mau melihat saudara-saudaranya mencari pengaturan dari pihak yang berwenang melawan satu sama lain ( 1 Kor 6:1-7). Karena itu didalam gereja, daripada mempertahankan pendapat bahwa kita benar, kita perlu meminta Tuhan untuk menjadi penguasa kita dan wasit kita. Hanya dengan cara ini kedamaian Tuhan akan ada di hidup kita karena hanya Tuhan lah hakim yang adil.

MENGUCAP SYUKUR PADA TUHAN

Bersyukur (Kol 3:15)

Aspek ketiga untuk kasih yang sempurna adalah bersyukur. Didalam kasihNya, Tuhan telah memberikan kita berlimpah berkat rohani dan jasmani. Kita seharusnya terus menerus dipenuhi rasa bersyukur pada Tuhan (Mzm 118, 136; 1 Tes 5:16-18). Bagaimanapun juga tanpa kasih, kita tidak akan merasa bersyukur pada Tuhan. Malahan kita hanya akan melihat kemalangan yang menimpa kita dan terus mengeluh tentang kemalangan kita dalam hidup.

Untuk menjadi orang yang lebih bersyukur, kita perlu meletakan semua beban kita, mengesampingkan keluhan-keluhan dan kesedihan dan berserah pada Tuhan. Setelah kita telah mengesampingkan hal-hal ini, kita akan menyadari bahwa sebenarnya Tuhan sedang melatih kita melalui kesulitan-kesulitan ini; menguatkan karakter dan iman kita, membuat kita menjadi orang yang lebih bersyukur. Bukannya memusatkan kita pada penderitaan kita dan meratapi keadaan kita dengan mengasihani diri sendiri, kita akan mampu melihat Kasih Tuhan atas kita dan menyadari bahwa segala hal yang terjadi baik itu baik atau buruk berasal dari Dia (Ayb 1:21)

Tetap Rendah Hati

Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya? (1 Kor 4:7)

Jemaat di Korintus memiliki berbagai macam talenta. Banyak dari mereka yang memiliki pendidikan yang tinggi dan memiliki status sosial yang baik di masyarakat. Tetapi mereka tidak dapat melihat dengan jelas bahwa segala yang mereka miliki adalah berasal dari Tuhan. Malahan berkat dari Tuhan menjadi sumber perbandingan, perselisihan dan pembagian kelompok didalam gereja. Karena itu Rasul Paulus menyemangati jemaat di Korintus untuk belajar dari dia dan Apollos “Jangan melampaui yang ada tertulis,” supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain” (1 Kor 4:6).

Saat seseorang mendapatkan pengetahuan atau status sosial,sering kali cara pandangnya berubah. Ia akan membandingkan dirinya dengan yang lain atau bahkan mulai memandang rendah orang-orang yang memiliki pengetahuan, kekayaan atau posisi dibawah dia. Dia mungkin lupa bahwa semua yang dia miliki adalah berkat dari Tuhan dan bukan sepenuhnya usaha dia sendiri. Dia mungkin lebih percaya pada dirinya sendiri daripada percaya pada Tuhan Yesus. Kesombongan dan pembenaran diri bertumbuh dalam hatinya dan hal ini dapat dengan mudah menghancurkan kesatuan gereja dan persekutuan.

Karena itu Rasul Paulus mengingatkan kita untuk memiliki hati yang bersyukur. Kita harus belajar bagaimana untuk bersyukur pada Tuhan atas semua berkatNya, termasuk bakat yang sudah diberikan kepada kita untuk melayani Dia. Kita juga harus berterima kasih pada Tuhan atas semua rintangan dan masalah dalam hidup kita. Karena ketika bertemu rintangan lah kita baru menyadari betapa sulitnya mempraktekan ajaran-ajaran yang ada di Alkitab. Ketika kita belajar untuk lebih bersyukur, kita akan menjadi lebih rendah hati, sabar dan mengasihi sesama. Karena itu, hati yang bersyukur juga membantu kita untuk meningkatkan kasih di dalam hidup kita.

BIARLAH FIRMAN TUHAN BERDIAM DIDALAM KAMU

Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya… (Kol 3:16)

Terakhir tetapi bukan tidak penting, kita dapat menumbuhkan kasih sejati untuk Tuhan dan sesama hanya jika kita menerima perkataan Tuhan untuk diam didalam kita. Seharusnya perkataan Tuhan tidak mudah kita lupakan atau dengan sepintas mendengar firman Tuhan hanya sekali atau dua kali dalam seminggu didalam gereja. Melainkan kita harus dengan terus menerus mempelajari firman Tuhan dan memperbolehkanya mengisi hati kita. Hal ini semakin ditekankan didalam kehidupan kita di tengah keegoisan masyarakat saat ini; hanya kebenaran yang bisa menolong kita untuk dapat memiliki kehidupan yang penuh kasih. Saat firman Tuhan diam didalam kita, itu akan menggerakan dan memotivasi kita untuk mempraktekan kasih serta membuat kita memiliki kasih yang berlimpah-limpah, meskipun saat dunia tidak membalas kasih kita dengan kasih.

Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. (Kol 3:17)

Sejak kita menggantungkan hidup kita pada Tuhan, sebenarnya kita sudah menunjukan Tuhan Yesus melalui kita. Oleh karena itu, semua perkataan dan tindakan kita harus mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan bukannya mempermalukan Tuhan. Saat orang lain dapat melihat Tuhan Yesus dalam tindakan dan kasih kita, Kristus dan FirmanNya benar-benar hidup didalam kita.

MENYEMPURNAKAN KASIH, KESATUAN YANG SEMPURNA

Kasih dapat mengatasi semua sakit hati dan prasangka. Didalam kehidupan bergereja kita, kita dapat mempraktekan kasih dengan cara mengampuni sesama seperti Kristus telah mengampuni kita, mempersilahkan Kristus menjadi wasit kita dan mengucap syukur pada Tuhan. Melakukan hal-hal ini membuat kita hidup dalam damai dan kerukunan dengan saudara saudari kita. Firman Tuhan harus tertanam dalam di hati kita sehingga kita dapat menunjukan Kristus dan mempraktekan kasihNya didalam kehidupan kita sehari-hari. Karena kita telah dipilih, kita harus berjuang bersama-sama untuk membangun tubuh Kristus, membuatnya menjadi satu melalui ikatan kasih yang sempurna.

Menantikan Tuhan

Sumber: http://members.tjc.org/sites/en/id/Lists/Santapan%20Rohani/Menantikan%20Tuhan.aspx

Tetapi orang-orang yang menantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: Mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak akan menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. (Yesaya 40:31)

Salah satu buku karangan Dr Seuss favorit saya adalah Oh, the Places You’ll Go! Dr Seuss selalu memiliki beberapa topik dalam buku-bukunya yang diperuntukkan tidak hanya untuk anak-anak tetapi juga untuk orang dewasa. Dalam buku ini, ia mengatakan bahwa sering kali dalam hidup kita akan menghadapi rintangan. Dia menyebut titik terendah dalam hidup “sebuah kemerosotan.” “Untuk mengubah keadaan kita yang sedang dalam titik terendah tidaklah mudah.” Terlebih lagi, Dr. Seuss memperingatkan, sangatlah sulit untuk membuat keputusan pada saat seperti ini dan menunggu kesempatan untuk mengubah keadaan tersebut tidaklah mudah.

Bukankah kita semua memiliki saat-saat dimana hal-hal tidak berjalan sesuai rencana dan kita berada di titik paling bawah? Kami mencoba untuk tetap tenang, optimis dan berpikir positif. Tapi, bagaimana kita bangkit dari titik paling rendah? Beralih ke Alkitab dan bukalah ayat favorit kita. Berdoalah untuk meminta keberanian, kekuatan dan kebijaksanaan.Tuhan yang terkasih, tolong tunjukkan jalan dan Tuhan akan menunjukkannya. “Tapi orang-orang yang menunggu Tuhan akan memperbaharui kekuatan mereka.”

Menunggu adalah sebuah proses dan ujian. Rasa takut membuat penantian terasa tidak tertahankan. Rasa takut akan hal-hal yang tidak kita ketahui dapat melemahkan iman dan semangat kita. Bayangkan ketakutan ketika Israel menghadapi hamparan air di depan mereka, dan mendengar tentara Mesir mendekat pada waktu yang sama. Kepanikan bangsa Israel hanya memperkeruh keadaan. Kemudian, Musa mengatakan, “Berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu” (Kel 14:13). Untuk menunggu Tuhan kita, kita harus diam dan tetap tenang. Akuilah Dia, dan biarkan Dia memutuskan apa yang terbaik. Dia akan menyelesaikan permasalahan bagi kita. Mungkin tidak secara langsung, tapi kita hanya harus menanti.

Ketika kita menunggu Tuhan, kita memiliki harapan. Penderitaan dalam hidup dapat dengan mudah melumpuhkan kita jika kita kehilangan harapan. Harapan akan menopang kita selama masa penantian. Kita tidak hanya menunggu sebuah kesempatan datang seakan itu semua adalah sebuah kebetulan. Semua peluang dan titik balik diberikan oleh-Nya.

Oh, tempat-tempat yang akan kita datangi! Allah telah berjanji kepada kita bahwa kita akan terbang dengan sayap seperti elang, berlari dan tidak menjadi lelah.

Pertanyaan untuk Refleksi:

Terlepas dari apakah saat ini Anda sedang melalui periode yang sulit ataupun tidak, sudahkah anda berhenti sejenak dan merenungkan firman Allah dan menantikan jawaban Tuhan?

Mencabut Kutil

Sumber: http://members.tjc.org/sites/en/id/Lists/Santapan%20Rohani/Mencabut%20Kutil.aspx

Baru-baru ini, saya melihat saudara laki-laki saya mencoba mengeluarkan kutil yang dia dapatkan selama beberapa bulan terakhir ini. Dia mencoba banyak metode, termasuk mengoleskan salep dan memencet kutil yang merupakan upaya tanpa hasil. Dia bahkan mengoleskan salep yang menyebabkan kulitnya rontok, tapi kutil itu tetap ada. Kutil tersebut terlalu berakar kuat untuk ditarik keluar. Saya juga menemukan beberapa pengobatan tradisional secara online, namun sebagian besar dari pengobatan tradisional tersebut perlu untuk mengoleskan obat setiap hari dan perlahan-lahan mengeluarkan kutil itu sampai benar-benar hilang.

Demikian pula, dalam perjalanan spiritual kita, kita sering membangun kebiasaan buruk atau dosa yang tertanam dalam diri kita. Ketika kita akhirnya bertekad untuk menghapus kutil dalam diri kita ini, kita mungkin sadar bahwa kita tidak dapat menarik mereka keluar dalam satu kali percobaan. Karena itu, kita juga harus senantiasa waspada dan sabar dalam menyingkirkan mereka setiap hari dengan Firman Tuhan dan doa.

Bersabar juga tidak selalu mudah. Kita sering suka menggunakan metode kita sendiri atau mencari solusi cepat untuk masalah kita. Solusi ini, bagaimanapun, sering gagal dan menyebabkan kita sakit. Selain itu, akar masalah kita tetap ada, dalam dan utuh.

Di sisi lain, jika kita mengandalkan Tuhan melalui Firman dan doa-Nya, sikap dan pola pikir kita menjadi lebih dan lebih seperti Kristus. Meskipun hasilnya mungkin tidak terlihat pada awalnya, saat kita perlahan menghapus kutil dalam kita dengan pertolongan Tuhan kita Yesus Kristus, Dia akan mencabut kejahatan yang tertanam dalam diri kita.

Mari kita terus berpaling kepada Tuhan kita dan berseru kepadaNya dalam doa seperti yang Daud lakukan – untuk membasuh kita sampai kita sepenuhnya bersih: Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!” (Mzm 51: 2).

Pertanyaan untuk Refleksi

1. Apa jenis ‘kutil’ yang kita miliki dalam kehidupan rohani kita hari ini?

2. Bagaimana kita bisa perlahan mencabutnya tanpa kehilangan kesabaran atau harapan?

Jangan Berpaling!

Sumber: http://members.tjc.org/sites/en/id/Lists/Santapan%20Rohani/Jangan%20Berpaling!.aspx

Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kami dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya? (Gal 4 : 9)

Kala itu, langit terang dipenuhi kembang api yang bertebaran di Amerika pada tanggal 4 Juli. Hari itu diperingati sebagai hari kemerdekaan Amerika dan semua orang menyambutnya dengan gembira.

Jika ditanya apakah mereka ingin kembali ke masa sebelum kemerdekaan, tentu mereka tidak mau dan menganggapnya sebagai pertanyaan yang konyol.

Seenak apapun itu, kitab Keluaran pernah mengatakan bahwa Bangsa Israel pernah menginginkan untuk kembali ke Mesir. Mereka kesulitan untuk mendapatkan manna dan merindukan makanan enak di Mesir.

Bangsa Israel lupa kalau Mesir identik dengan perbudakan. Mereka ingin kembali ke masa ketika mereka diperbudak, menderita dan akhirnya memohon kepada Tuhan agar membebaskan mereka. Mereka ingin kembali ke masa dimana mereka meminta untuk diselamatkan.

Seperti Bangsa Israel, kita terkadang ingin kembali ke masa perbudakan. Kita memiliki keinginan untuk memuaskan diri sendiri. Hal ini sangat menggoda karena kita lebih memilih keinginan diri sendiri daripada Tuhan. Ketika kita sudah terjatuh, kita akan diperbudak olehnya. Kita akan diperbudak oleh keinginan daging dan masa lalu – kita diperbudak oleh dosa.

Saudara-saudara yang terkasih, sama seperti yang telah dikatakan oleh Paulus kepada jemaat-jemaat di Galatia, Ia memperingatkan kita : jangan lakukan itu, jangan menyerah, jangan kembali ke masa lalu! Sekarang kamu telah mengenal Tuhan dan kau telah dikenalNya. Jangan kembali ke masa itu!

Sebagai gantinya, berdirilah tegak. Tuhan sangat mencintaimu hingga Ia mati di kayu salib demi membebaskan Anda. Jika sudah dibebaskan, kenapa Anda memilih untuk diperbudak lagi?

Pertanyaan :

Keinginan apa saja yang membuat Anda jatuh ke dalam dosa?

Apa yang Anda rasakan setelah melepas itu semua?