Apakah yang Harus Kami Perbuat (Renungan Harian)

Selasa, 24 Januari 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius

Lukas 3

“Apakah yang harus kami perbuat?”, pertanyaan ini diutarakan oleh orang banyak, pemungut-pemungut cukai, dan prajurit-prajurit kepada Yohanes Pembaptis. Jawaban dari Yohanes Pembaptis kepada mereka berbeda-beda sesuai dengan resiko akan dosa yang datang menggoda dari posisi masing-masing orang.

Kepada orang banyak, Yohanes Pembaptis mengajarkan supaya mereka saling mengasihi, berbagi dengan saudara-saudari yang tidak mampu (ayat 11). Ketika saya merenungkan ayat ini saya teringat pada waktu SMA dimana saya menjadi panitia bakti sosial bagi korban banjir. Pada waktu itu sumbangan telah terkumpul dan yang kami lakukan adalah mensortir baju-baju yang disumbangkan, apakah layak pakai atau tidak. Bermacam-macam baju yang berhasil dikumpulkan memberikan sekilas hati dari pada pemberinya. Ada yang memberikan baju yang sebenarnya sudah tidak layak pakai, ada yang memberikan baju dlm gumpalan-gumpalan, ada yang memberikan baju yang terlipat dengan rapi dan tersusun dengan baik. Kadang ketika kita membagikan pakaian, makanan atau apapun yang kita miliki dengan saudara kita yang tidak mampu tanpa sadar kita memanfaatkan mereka. “Mumpung bisa mengosongkan lemari pakaian dan mengisi dengan pakaian yang baru.”; “Mumpung bisa mengosongkan isi kulkas yang sudah lama dan menggantinya dengan yang baru.”

Berikan yang terbaik sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat. 7:12). Kalau kita tidak mau diberi makanan yang sudah lama, jangan memberi makanan yang sudah lama; kalau kita tidak mau diberi pakaian yang kucal, belum dicuci, berikanlah pakaian yang bersih, layak pakai, terlipat rapi.

Kepada para pemungut cukai, Yohanes Pembaptis mengatakan “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.” (ayat 13). Perkataan Yohanes Pembaptis ini secara tidak langsung mengatakan janganlah kita menjadi orang yang serakah, menggunakan jabatan untuk memuaskan hawa nafsu. Hal ini terjadi karena para pemungut cukai pada masa itu sering menagih pajak lebih besar dari apa yang ditentukan oleh pemerintah Romawi untuk memperkaya diri. Keserakahan merupakan sebuah bahaya besar yang terus mengancam. Perintah ke-10 dari Sepuluh Perintah Allah mengingatkan kita supaya tidak mengingini apa yang menjadi milik orang lain. Paulus bahkan menyamakan dosa keserakahan dengan penyembahan berhala (Kol. 3:5; Ef. 5:5).

Kepada para prajurit, Yohanes Pembaptis mengatakan “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” (ayat 14). Prajurit Roma pada waktu itu ditakuti oleh orang-orang dan merupakan pihak yang lebih kuat karena Romawi menjajah tanah Kanaan. Karena kekuatan dan kedudukan yang lebih tinggi maka banyak diantara mereka yang memeras, merampas apa yang menjadi milik orang lain.

Belajar mencukupkan diri dengan apa yang kita miliki bukanlah satu hal yang mudah. Untuk bisa mencukupkan diri, kita harus berjuang mengalahkan dan mengendalikan ego, hawa nafsu. Rasa kekurangan timbul karena kita melihat apa yang dimiliki orang lain sementara berkat Tuhan terhadap tiap orang berbeda satu dengan yang lainnya. Satu saran yang sering saya dengar mengatakan “Lihatlah kebawah maka kita bisa mengucap syukur.”. Lihatlah orang-orang yang lebih tidak mampu dibanding kita, jangan melihat orang yang lebih mampu dari kita. Perkataan ini tentu saja bermanfaat untuk mengajarkan diri kita supaya mengucap syukur atas apa yang telah kita terima dari Tuhan. “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” (1 Tim. 6:6). 

Dosa mengintai setiap orang di setiap kesempatan baik orang biasa, orang berkedudukan, orang berkekuatan. Hal ini juga termasuk di dalam gereja. Baik sebagai jemaat biasa, jemaat yang aktif melayani, jemaat yang mempunyai kedudukan (majelis, diaken/is, penatua, pendeta) semuanya memiliki kesempatan untuk berbuat dosa. “Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!” (Lukas 3:8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: