Perumpamaan Yang Hilang (Renungan Harian)

Selasa, 7 Februari 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius

Lukas 15

Dalam Lukas 15 ini kita bisa melihat ada tiga perumpamaan yang dituliskan, perumpamaan domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang. Dari tiga perumpamaan ini kita memetik satu pengajaran yaitu ada sukacita yang luar biasa ketika yang hilang ini didapatkan kembali (ayat 7, 10, 32). Selain dari persamaan ketiga perumpamaan juga ada perbedaan dari ketiga perumpamaan tersebut. Mari kita sama-sama lihat perbedaan yang ada:

  • Nilai dari kehilangan
    Dalam Perumpamaan Domba Yang Hilang, satu ekor dari seratus ekor domba menghilang. Dalam Perumpamaan Dirham Yang Hilang, satu dirham dari sepuluh dirham. Dalam Perumpamaan Anak Yang Hilang, satu dari dua anak. Kalau kita ubah dalam persen mengenai kehilangan:
    a.    Domba Yang Hilang    :0,01
    b.    Dirham Yang Hilang    :0,1
    c.    Anak Yang Hilang    :0,5
  • Usaha dari pemilik
    Kalau kita perhatikan ketiga perumpamaan tersebut, dalam perumpamaan Domba Yang Hilang dan Dirham Yang Hilang, pemilik dari domba dan dirham pergi berusaha mencari milik mereka yang hilang. Tapi dalam perumpamaan Anak Yang Hilang, sang bapa tidak pergi mencari anak tersebut tapi menunggu anak tersebut untuk kembali (ayat 20).

Kalau kita lihat dari perbandingan di atas maka satu hal yang menjadi pertanyaan “Kenapa anak yang hilang, memiliki nilai kehilangan terbesar (setengah dari yang dimiliki), bukannya dicari tapi malah ditunggu oleh pemilik (sang bapa) untuk kembali?

Jawabannya sangat sederhana “Karena domba dan dirham tidak memiliki akal, hikmat untuk kembali sehingga pemilik yang berusaha untuk mencari. Sedangkan anak yang hilang memiliki hikmat, kemampuan untuk berpikir dan mengenal bapa dengan baik (ayat17-20).”

Yesus mengatakan perumpamaan-perumpamaan ini karena orang Farisi mengejek tindakan-Nya yang makan bersama dengan orang-orang berdosa (ayat 1-2). Orang-orang dunia yang belum mengenal Tuhan bagaikan domba dan dirham yang hilang. Mereka tidak memiliki hikmat, pengetahuan tentang Allah yang benar sehingga Tuhan yang bergerak untuk mencari mereka kembali.  Dalam proses kita mengikut Tuhan, bisa terjadi kita kemudian pergi dari hadapan Tuhan menjadi anak bungsu yang hilang karena kita merasa kuat, tidak membutuhkan Tuhan, merasa dunia lebih menggoda. Ketika kita yang telah memiliki hikmat dan pengenalan akan Tuhan, menghilang dari hadapan Tuhan maka Tuhan menunggu supaya kita sadar dari kesalahan kita. Pertobatan yang berasal dari hati membuat kita menyadari dengan sendiri kesalahan kita dan merendahkan hati kita memohon pengampunan, membuat kita bisa lebih berjaga-jaga dalam langkah-langkah hidup kita selanjutnya.

Kita yang tetap ada di dalam Tuhan marilah kita melakukan apa yang diajarkan Paulus kepada Timotius yaitu dengan lemah lembut dan kesabaran menuntun saudara kita yang hilang tersebut (2 Tim. 2:24-26).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: