Yang Terbuka dan Yang Tertutup

Senin, 20 Februari 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius

Kisah Para Rasul 2
“Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit.”
Kisah Para Rasul 2:5

Pada waktu perayaan pentakosta, orang-orang pemeluk agama Yahudi berkumpul untuk menyembah Tuhan di Bait Allah. Ini merupakan sebuah peraturan dari Hukum Taurat. Mereka yang ada di Yerusalem merupakan orang-orang saleh karena mereka ini adalah orang-orang yang mematuhi dan melaksanakan hukum Taurat dengan baik.

Pada waktu itu Roh Kudus dicurahkan dan ada orang-orang yang bisa mendengar murid-burid berkata-kata dengan bahasa asal masing-masing (ayat 6-11), ada juga yang tidak bisa mendengar apa yang dikatakan murid-murid sehingga mereka menganggap murid-murid mabuk oleh anggur manis (ayat 13). Kita tidak tahu kenapa waktu itu ada yang telinganya dibukakan oleh Tuhan, ada juga yang tidak dibukakan oleh Tuhan. Apakah ada sesuatu dalam diri mereka yang menjadi kriteria kenapa mereka bisa terbagi menjadi dua grup ini padahal mereka merupakan orang-orang yang mentaati perintah hukum Taurat.

Dalam hidup kita juga bisa saja kita termasuk orang-orang yang telinganya dibukakan Tuhan sehingga memiliki pengalaman rohani yang luar biasa, bisa juga kita termasuk orang-orang yang telinganya tidak dibukakan oleh Tuhan. Ketika kita mengalami mujizat yang luar biasa dari Tuhan, entah sakit disembuhkan, dibebaskan dari masalah yang berat, diberikan penglihatan atau yang lainnya, kita bisa mengalami peningkatan iman yang luar biasa. Kita semakin lebih percaya dan yakin kepada Tuhan Yesus. Tetapi ketika kita tidak mengalami mujizat-mujizat yang luar biasa, ketika kita sakit kemudian sembuh karena berobat, menyelesaikan masalah dengan tenaga kita, hanya mendengar pengalaman-pengalaman rohani orang lain. Timbul pertanyaan dalam hati kita, apakah saya kurang bersih/ terlalu banyak dosa, apakah saya kurang yakin sehingga Tuhan tidak memberikan tanda apa-apa, apakah saya ada di tempat yang salah? Adalah keputusan dari Tuhan apakah kita akan mengalami mujizat atau tidak dalam hidup kita. Seandainya kita tidak mengalami mujizat, hanya sering mendengar kesaksian dari saudara-saudari seiman kita jangan ragu dan goyah. Yesus pernah mengatakan kepada salah satu murid-Nya yang tidak percaya karena tidak melihat dengan mata kepala sendiri “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh. 20:29).

Tetaplah bersukacita dan percaya kepada Tuhan, tetaplah mendengarkan firman Tuhan walaupun mungkin kita tidak melihat mujizat yang luar biasa terjadi. Selamat atau tidak selamatnya seseorang bukan dari pernah atau tidak pernahnya seseorang mengalami mujizat tapi dari apakah dia melakukan kehendak Bapa di Sorga atau tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: