Perkataan Yang Menusuk Hati (Renungan Harian)

Minggu, 26 Februari 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius

Kisah Para Rasul 7

“Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi.” Kisah Para Rasul 7:54

Stefanus menceritakan kembali mengenai sejarah bangsa Israel di hadapan Sanhedrin (Mahkamah Agama), bagaimana nenek moyang mereka dalam hati menolak Tuhan (ayat 39), menganiaya dan membunuh nabi-nabi Tuhan (ayat 52). Mereka merasa tertusuk dan ketika tidak sanggup lagi mendengar perkataan Stefanus, mereka menyeret Stefanus dan melemparinya dengan batu sampai mati. Akan tetapi Stefanus tidaklah kehilangan imannya, bahkan memohonkan ampun untuk orang-orang tersebut (ayat 60).

Dalam ibadah bisa terjadi bahwa renungan firman Tuhan yang disampaikan mengingatkan kita akan kesalahan yang telah kita lakukan di masa lalu. Ketika kita mendengar hal tersebut apakah kita bertindak seperti anggota Sanhedrin, kita berusaha mengalihkan perhatian ke arah lain berusaha supaya kita tidak mendengar perkataan-perkataan tersebut, berketetapan bahwa kalau orang itu yang berkhotbah di ibadah maka kita tidak akan datang ibadah, kemudian kita mematikan orang yang menyampaikan firman Tuhan tersebut yang tentu saja bukan secara jasmani tapi kita memutuskan perasaan kita, tidak mengacuhkan, bahkan yang lebih parah menyampaikan kabar-kabar yang tidak benar.

Paulus mengatakan bahwa “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Tim. 3:16); bahwa memang firman Tuhan adalah untuk menyatakan kesalahan. Kita yang pada waktu mendengar firman Tuhan tersebut kiranya bercermin dan berusaha memperbaiki, bukan mempertahankan harga diri dan kemudian menuduh bahwa pengkhotbah sengaja menyampaikan firman Tuhan itu untuk menyerang kita.

Hal kedua yang bisa kita pelajari dari pasal ini adalah tentu saja semangat dari Stefanus dalam memberitakan Injil. Dia dengan berani menyatakan kesalahan dari Sanhedrin walaupun sejarah membuktikan bahwa Sanhedrin sangat membenci Yesus dan pengikut-Nya. Kita pada saat ini ketika mengabarkan Injil kemungkinan sangat kecil mengalami apa yang dialami Stefanus. Paling parah adalah kita diusir atau pintu dibanting di depan mata kita. Marilah kita gunakan saat-saat damai ini untuk memberitakan Injil kepada saudara-saudara kita yang belum percaya, melaksanakan amanat agung yang telah dipercayakan oleh Tuhan kepada kita (Mat. 28:19).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: