Bersatu Berdoa (Renungan Harian)

Jumat, 2 Maret 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius

Kisah Para Rasul 12

“Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.”
Kisah Para Rasul 12:5

Pada waktu itu ada ancaman yang besar datang dari Herodes. Dia telah memenggal Yakobus, saudara Yohanes, dan sekarang dia menahan Petrus untuk menghadapkannya setelah hari raya Paskah (Easter) (ayat 1-4). Yang mengherankan pada malam itu, walaupun dijaga dengan begitu ketat dan keesokan harinya akan menjalani pengadilan yang kemungkinan besar menghasilkan pada hukuman mati, Petrus masih bisa tertidur dengan nyenyak (ayat 6). Sungguh di sini kita bisa melihat betapa damai sejahtera dari Tuhan Yesus ada di dalam hati dari pada Petrus sehingga dia tidak takut akan kemungkinan kehilangan nyawanya.

Tidak beberapa jauh, di sebuah rumah dari seorang saudari seiman yang bernama Maria, ibu dari Markus, jemaat berkumpul bersatu hati bertekun dalam doa untuk Petrus (ayat 5). Sungguh suatu keadaan yang mencerminkan kesatuan hati sebagai gereja. Pada waktu itu, gereja menghadapi tekanan yang berat bahkan dari pemerintah, tapi orang-orang percaya bukan mementingkan diri sendiri, bukan berdoa untuk keselamatan diri, tapi berkumpul bersama di satu rumah untuk mendoakan Petrus. Hal ini tentu membahayakan diri mereka yang bisa dengan mudah diketahui oleh pemerintah dan orang Yahudi. Kadang tekanan yang berat bisa membuat iman kita menjadi lebih kuat dan dewasa, tetapi tentunya kita tidak harus mengalami sebuah tekanan baru kita bisa berkembang.

Pada waktu mereka berdoa, Tuhan kita yakin sudah tahu akan kebutuhan mereka, Tuhan pasti sudah tahu akan apa yang dialami oleh Petrus, rasulnya (Mazmur 139:2-4). Tuhan melihat pada kesatuan hati dari jemaat, kepedulian jemaat, kerendahan hati dalam meminta kepada Tuhan.

Pada akhir dari kebaktian Sabat biasanya dibacakan pokok doa yang akan sama-sama kita doakan, entah rencana kerja dari gereja, atau saudara-saudari seiman yang sedang sakit, berbeban berat. Apakah ada hati dari kita untuk mendoakannya? Atau ketika kita berdoa, kita mendoakan keinginan-keinginan pribadi kita? Ataukah malah kita tidak memikirkan apa-apa pada waktu berdoa, hanya mulut kita yang secara otomatis berbicara bahasa Roh. Apakah pokok-pokok doa yang tertulis dan dibacakan setiap akhir kebaktian itu kita doakan juga di rumah dalam doa pribadi kita? Paulus mengingatkan bahwa marilah kita sebagai jemaat memanjatkan doa syafaat (1 Tim. 2:1), dan dia selalu memohonkan bantuan doa dari jemaat untuk pekerjaan penginjilannya.

Kiranya doa yang kita panjatkan bukan hanya berisikan permohonan-permohonan untuk kehidupan pribadi kita, tapi terlebih lagi kita berdoa untuk pekerjaan penginjilan, pekerjaan kudus di gereja, saudara/i seiman kita yang sakit dan berbeban berat. Dengan mendoakan saudara-saudari kita tanpa sadar kita melakukan perintah yang diserukan berkali-kali oleh Yesus dan Yohanes yaitu mengasihi orang lain ( 1 Yoh. 2:3-7; 3: 11; 2 Yoh. 5). Kasih merupakah perekat yang ada di dalam gereja. Marilah kita berusaha seperti Yesus yang telah memberikan teladan kasih-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: