Bukan Lagi “Katanya” (Renungan Harian)

Kamis, 8 Maret 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius
Kisah Para Rasul 17
 
“Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.”
Kisah Para Rasul 17:11
Paulus memberitakan Injil di Tesalonika tapi ditolak oleh orang-orang dikota tersebut, dan orang-orang Yahudi di kota itu mengadakan keributan dan mengancam nyawa Paulus. Akhirnya Paulus menyingkir ke Berea da memberitakan Injil di kota tersebut. Yang menarik adalah orang-orang Yahudi di kota Berea mau menerima kabar yang dibawa Paulus dan menelitinya dalam Kitab Suci. Mereka berusaha memeriksa apakah perkataan Paulus benar dan sesuai dengan Kitab Suci atau tidak.
Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti sebuah seminar. Dalam seminar tersebut, pembicara menjabarkan mengenai pertumbuhan iman seseorang. Pada pertumbuhan awal, iman kita berdasarkan pada pengaruh orang tua. Kita mengikuti dan percaya karena orang tua menyuruh atau mengatakannya. Kemudian berlanjut ke tingkat yang selanjutnya dimana kita berusaha mencari jati diri dalam iman kita, apakah kita tetap memegang iman tersebut atau kita akan melepaskannya dan berpindah keyakinan. Tahap yang selanjutnya adalah tahap pemahaman dimana kita memahami dasar-dasar iman kita dan kita berdiri teguh bukan lagi karena perkataan seseorang. Banyaknya rata-rata jemaat hanya sampai pada tahap yang pertama, iman masih bergantung pada perkataan seseorang. Iman kita tidak jarang berhenti pada taraf “kata pendeta A” atau “begitulah yang diajarkan di gereja saya”.
Mari kita mengikuti apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi di kota Berea, meneliti setiap perkataan dari Paulus apakah sesuai dengan Kitab Suci atau tidak. Mereka membawa pertumbuhan iman mereka sampai pada tahap pemahaman. Mari kita bawa tingkat iman kita sampai pada kita memahami dengan kita menyelidiki setiap pengajaran yang disampaikan oleh pengkhotbah dan menggunakan Alkitab sebagai tolak ukur. Mari kita memahaminya dan menjadikan pengajaran yang kita dengar menjadi pengajaran kita sehingga ketika kita menyampaikan kepada orang lain tidak lagi kita katakan “kata pendeta saya” atau “di gereja begitu diajarkannya” tapi mari kita katakan “demikianlah yang tertulis di Alkitab”.
Amsal 19: 2 mengatakan “Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.” Mari kita meneliti dan memahami dengan dasar Alkitab setiap pengajaran yang kita dengar sehingga kita tidak diombang-ambingkan dengan berbagai pengajaran yang ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: