Bukan Sekedar Mantra (Renungan Harian)

Minggu, 11 Maret 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius

Kisah Para Rasul 19

“Juga beberapa tukang jampi Yahudi, yang berjalan keliling di negeri itu, mencoba menyebut nama Tuhan Yesus atas mereka yang kerasukan roh jahat dengan berseru, katanya: “Aku menyumpahi kamu demi nama Yesus yang diberitakan oleh Paulus.”
Kisah Para Rasul 19:13

Pada waktu itu Paulus banyak mengadakan tanda mujizat, bahkan dalam ayat 12 dikatakan bahwa sapu tangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus diletakkan ke atas orang sakit maka orang sakit itupun sembuh, dan mereka yang kerasukan roh jahat juga. Ada tujuh anak Skewa, seorang imam kepala Yahudi, yang merupakan tukang jampi-jampi. Mereka menggunakan nama Yesus sebagai sebuah mantra untuk mengusir roh jahat. Yang terjadi bukannya roh jahat itu pergi tapi malah mereka yang terluka dan digagahi oleh roh jahat itu (ayat 13-16). Kalau kita ingat pada waktu membaca Injil juga pernah terjadi dimana orang-orang yang bukan murid Yesus mengusir setan dalam nama Yesus, pada waktu itu setan terusir (Luk. 9:49-50). Kenapa orang itu dan anak-anak Skewa sama-sama menggunakan nama Yesus tapi yang satu berhasil, sementara yang lain gagal? Kalau kita lihat latar belakang dari anak-anak Skewa, mereka adalah tukang jampi-jampi. Mereka menggunakan nama Yesus sebagai sebuah mantra untuk mengusir roh jahat dalam diri seseorang, tanpa mereka beriman pada Yesus.

Saya teringat dulu suka menonton film horor mengenai pengusiran setan. Yang kebanyakan saya lihat, mereka mengacungkan Kitab Suci atau membuat tanda salib, atau mengucapkan suatu doa tertentu berulang-ulang dan kemudian setan-setan yang ada ketakutan dan melarikan diri. Inilah gambaran yang salah yang saya terima pada saat kecil, sehingga pada saat kecil ketika ketakutan di kamar sendirian yang saya lakukan adalah mengucapkan doa Bapa Kami berulang-ulang tanpa mengamini, memahami arti dari doa tersebut.

Mungkin saat ini kita tidak lagi terjebak dalam kondisi seperti saat kita kecil. Akan tetapi dalam kehidupan kita kadang tanpa sadar kita menggunakan doa, nama Tuhan Yesus sebagai sebuah mantra, ucapan yang diucapkan berkali-kali tanpa adanya sebuah keyakinan dalam hati atas apa yang kita katakan. Ketika kita berdoa dengan menggunakan bahasa Roh, kita tidak mengetahui artinya dan suara yang keluar biasanya setiap orang memiliki ciri khas, tidak banyak perubahan, selalu berulang-ulang. Kita sama-sama renungkan bahwa pada saat sekarang ketika kita berdoa dengan bahasa roh, apakah hati kita turut berdoa, mengamini apa yang kita doakan atau karena sebuah kebiasaan dan hati kita sebenarnya kosong, memikirkan hal-hal yang lain, merasa bosan, menanti bel tanda boa berakhir? Ketika kita mengatakan “haleluya” atau “puji Tuhan” apakah hati kita turut memuji Tuhan atau kembali bahwa itu hanya sebuah kebiasaan yang sudah lama kita lakukan?

Anak-anak Skewa menganggap nama Yesus sebagai sebuah mantra dan akhirnya mereka malah dipermalukan dengan luar biasa dan yang lebih memprihatinkan adalah apa yang dikatakan oleh roh jahat itu “Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu, siapakah kamu?” (ayat 15). Jangan sampai dalam hidup kita kita sering berdoa dengan bahasa roh, sering memuji Tuhan tapi pada akhirnya Tuhan berkata “Aku tidak pernah mengenal kamu!” (Mat. 7:23) karena kita melakukan itu semua hanya sebatas sebuah mantra/ kebiasaan saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: