Kompromi atau Toleransi (Renungan Harian)

Selasa, 13 Maret 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius

Kisah Para Rasul 21

“Sebab itu, lakukanlah apa yang kami katakan ini: Di antara kami ada empat orang yang bernazar. Bawalah mereka bersama-sama dengan egkau, lakukanlah pentahiran dirimu bersama-sama dengan mereka dan tanggunglah biaya mereka, sehingga mereka dapat mencukur rambutnya; maka semua orang akan tahu, bahwa segala kabar yang mereka dengar tentang engkau sama sekali tidak benar, melainkan bahwa engkau tetap memelihara hukum Taurat.”
Kisah Para Rasul 21:23-24

Perkataan di atas disampaikan oleh Yakobus (adik dari Yesus) dan para penatua di Yerusalem kepada Paulus ketika Paulus sampai di Yerusalem. Paulus diminta melakukan itu semua karena orang-orang Yahudi yang percaya masih beranggapan bahwa mereka harus tetap memegang hukum Taurat. Orang-orang Yahudi tersebut mendengar kabar bahwa Paulus mengajarkan supaya mereka meninggalkan hukum Taurat (ayat 21-22), dan ketika mereka mendengar kabar bahwa Paulus datang ke Yerusalem, bisa terjadi kekacauan yang besar. Dan Paulus menuruti saran dari para penatua tersebut (ayat 26-27).

Apa yang dilakukan Paulus kadang dijadikan sebagai alasan untuk membenarkan diri kita ketika kita melakukan tradisi-tradisi/adat istiadat yang ada di masyarakat. Untuk menjaga supaya kita tetap ada dalam keadaan damai dan tidak terjadi perpecahan, untuk menarik supaya teman-teman kita percaya pada Yesus, itu menjadi sebuah alasan untuk kita mengikuti orang lain. Ketika kita melihat peristiwa yang terjadi di Yerusalem, kita perlu memperhatikan bahwa tradisi yang ada di masyarakat Yahudi/hukum Taurat ditujukan untuk menyembah Tuhan, bukan menyembah allah lain. Kita memang perlu menjaga perdamaian dengan semua orang. Paulus sendiri mengatakan hal tersebut “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:18). Tetapi kita perlu melihat, apakah tradisi atau adat istiadat yang ada tersebut bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan atau tidak. Dalam bahasa Indonesia kita mengenal ada dua kata yaitu toleransi dan kompromi. Ketika saya melihat arti kedua kata tersebut, ternyata mereka memiliki arti yang berbeda. Toleransi berarti batas-batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan, sementara kompromi berarti persetujuan dengan jalan damai atau saling mengurangi tuntutan. Dalam toleransi, nilai utama masih tetap dipegang, sementara dalam kompromi nilai utama tersebut bisa dihilangkan. Apa yang dilakukan oleh Paulus dalam pasal ini adalah sebuah toleransi. Apa yang dia lakukan tidaklah bertentangan dengan firman Tuhan. Kompromi berarti kita melakukan sesuatu dengan menghilangkan firman Tuhan.

Ada kalanya kita perlu melakukan toleransi, tapi jangan pernah kita berpikir untuk berkompromi mengenai iman kita. Perayaan Natal, Paskah merupakan sebuah kompromi dari gereja untuk mencapai jalan damai dengan orang Romawi.

“Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus.” (2 Tim. 1:13).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: