Iman Bertumbuh (Renungan Harian)

Senin, 23 April 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius
Kejadian 22
 
Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”
Kejadian 22: 2
Pada pasal ini kita membaca titik puncak dari iman Abraham kepada Tuhan sehingga dia disebut bapa orang beriman. Ketika saya membaca pasal ini, saya masih tetap terkagum-kagum dengan iman dari Abraham ketika Tuhan memerintahkannya untuk mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran. Anak yang dijanjikan Tuhan dan telah dia nanti-nantikan selama dua puluh lima tahun lebih sekarang dia dapatkan. Setelah beberapa belas tahun ada bersama dengannya tiba-tiba Tuhan memintanya kembali. Bagaimana perasaan Abraham pada waktu itu? Dituliskan bahwa keesokan harinya pagi-pagi benar Abraham langsung pergi bersama dengan Ishak menuju tempat yang telah ditentukan Tuhan.
Memang kalau di dalam Alkitab tidak dituliskan bagaimana perasaan Abraham, apakah dia bingung, kecewa, merasa Tuhan memberikan perintah yang tidak masuk akal? Tapi satu ayat menggabarkan hati Abraham “Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.” (Ibrani 11: 19). Abraham beriman bahwa walaupun dia belum pernah melihat orang mati dibangkitkan tapi dia yakin bahwa Tuhan mampu melakukannya. Sungguh suatu iman yang benar-benar luar biasa.
Iman Abraham kepada Tuhan tidak serta merta mencapai taraf seperti yang ada di pasal ini. Kalau kita ingat pasal-pasal sebelumnya yang sudah kita baca, ada waktu-waktu tertentu dimana Abraham goyah imannya dan merasa ketakutan. Contoh: pada saat Sara lemah iman dan mengajukan Hagar untuk menjadi gundik Abraham dan berpikir dengan melalui Hagar maka janji Tuhan tergenapi, Abraham mengikuti saran dari Sara. Secara tidak langsung, Abraham menyetujui pemikiran dari Sara dan menyatakan bahwa dia sebenarnya juga sedang lemah. Atau ketika untuk kedua kalinya dia mengakui Sara sebagai saudaranya di hadapan Abimelek untuk menyelamatkan nyawanya.
Pertama iman berasal dari Tuhan, dari pendengaran akan firman Tuhan. Iman yang kita miliki bukan hanya cukup sampai disitu tapi iman yang telah diberikan oleh Tuhan itu haruslah bertumbuh dalam kehidupan kita. Melalui tindakan-tindakan kita iman itu dinyatakan. Contoh: Anak-anak sekolah terutama kelas 6 SD, 3 SMP, 3 SMA sedang menghadapi masa-masa penentuan kelulusan. Apakah pada saat menghadapi UAN mereka tergoda untuk mencari bocoran soal, dan jawaban atau mereka berusaha dengan bersandar pada Tuhan? Banyak hal dalam kehidupan, kita diperhadapkan pada tantangan-tantangan yang kalau kita jalani sesuai jalan Tuhan, kita akan mendapat kedewasaan iman yang lebih. Manfaatkan keadaan-keadaan tersebut untuk mendewasakan iman kita dan kita bisa dengan bangga mengatakan bahwa kita adalah keturunan Abraham.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: