Masakan Kacang Merah Termahal (Renungan Harian)

 Kamis, 26 April 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius
 
Kejadian 25
 
“Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.”
Kejadian 25: 34
Esau dan Yakub merupakan anak kembar dari pasangan Ishak dan Ribka. Walaupun mereka anak kembar, tapi fisik, karakter mereka bertolak belakang. Esau badannya penuh dengan bulu, kulitnya berwarna merah, seorang yang pandai berburu dan suka tinggal di padang. Sedangkan Yakub merupakan seorang yang tenang dan suka tinggal dalam kemah (ayat 25-27). Kasih sayang kedua orang tua pun berbeda satu dengan yang lainnya. 
Kalau kita melihat Esau, kelihatannya dia merupakan seorang yang mengejar apa yang dia inginkan, seorang yang suka bertindak dan tidak tinggal diam. Dia suka tinggal di padang, berburu dan selalu mencari sesuatu hal yang baru dalam hidup. Akan tetapi karena kelaparan dan rasa lelah yang dimiliki Esau pada saat itu menjadi sebuah batu sandungan bagi dirinya. Dia dengan tanpa ragu-ragu membuang suatu hal yang sangat berharga untuk memuaskan rasa lapar dan lelah pada saat itu juga. Dalam ayat yang dituliskan di atas dikatakan Esau “memandang ringan” yang berarti dia tidak menganggap itu merupakan sesuatu yang sangat berharga dan menyingkirkannya begitu saja.
Dalam kehidupan kita tanpa sadar kita bisa berperilaku seperti Esau, memandang ringan sesuatu yang sebenarnya sangat berharga dalam hidup kita. Waktu ibadah, kesempatan mengambil perjamuan kudus, pelayanan dalam gereja merupakan hal-hal yang berharga yang diberikan Tuhan kepada kita. Tidak semua orang bisa beribadah kepada Tuhan yang benar, tidak semua orang bisa mengambil tubuh dan darah Kristus, tidak semua orang diberikan kesempatan untuk melayani Tuhan.
Akan tetapi kadang kala kita melewatkan ibadah di hari jumat malam, rabu malam, persekutuan pemuda bahkan ibadah Sabat untuk hal-hal lain yang memberikan kepuasan bagi diri kita saat itu. Kita melewatkan waktu untuk berdoa, merasa lelah untuk membaca alkitab tiga puluh menit saja tapi mempunyai tenaga untuk menonton drama korea yang berjam-jam.
Kita mungkin pernah mendengar di negara lain orang Kristen sampai harus mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan imannya, atau seorang saudara seiman harus menghadapi penekanan dari keluarga ketika hanya dia seorang diri yang percaya kepada Tuhan Yesus. Kita tidak perlu mengalami hal-hal tersebut. Anugerah Tuhan bisa kita nikmati dengan cuma-cuma. Tapi kadang kita bertindak seperti Esau, memandang ringan apa yang kita miliki. 
Syukuri dan nikmati apa yang kita miliki. Anugerah penyelamatan dari Tuhan, kesempatan beribadah kepada-Nya dan juga melayani-Nya merupakah suatu yang sangat berharga. Jangan sampai kita menyesal setelah kita kehilangan itu semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: