Meratap dan Bangkit (Renungan Harian)

Selasa, 24 April 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius
Kejadian 23
“Kemudian matilah Sara di Kiryat-Arba, yaitu Hebron, di tanah Kanaan, lalu Abraham datang meratapi dan menangisinya. Sesudah itu Abraham bangkit dan meninggalkan isterinya yang mati itu, lalu berkata kepada bani Het”
Kejadian 23:2-3
Sara, isteri tercinta yang telah menemaninya selama berpuluh-puluh tahun, yang telah memberikan keturunan di masa tuanya akhirnya meninggal. Ini merupakan pukulan yang sangat berat bagi Abraham. Dikatakan bahwa Abraham berduka, meratapi dan menangisinya. Walaupun tidak dituliskan berapa lama Abraham meratapi kematian isterinya itu, tapi saya yakin bahwa ratapan itu bukan dalam waktu yang singkat. Akan tetapi ratapan dari Abraham ini berakhir dan Abraham bangkit dan meninggalkan Sara, dia mengurus pemakaman dari Sara.
Dalam sebuah artikel saya membaca suatu pernyataan yang mengatakan bahwa “Suami yang ditinggal mati oleh isterinya memiliki kesempatan hidup yang lebih kecil dibanding seorang isteri yang ditinggal mati suaminya.” Penulis artikel itu mengatakan pernyataan tersebut karena setelah dia meneliti dia melihat bahwa suami yang ditinggal mati isterinya biasanya tidak ada semangat hidup, terus memikirkan isterinya yang telah meninggal walaupun kemudian dia tinggal bersama anak-anaknya; sementara isteri yang ditinggal mati suami berduka untuk satu waktu tertentu tapi kemudian dia mengalihkan pikiran dan perhatiannya kepada anak-anak, keluarga yang masih hidup sehingga memiliki semangat hidup yang lebih tinggi.
Berduka, meratap karena kehilangan sesuatu yang kita cintai (barang atau orang) merupakan suatu hal yang wajar dan tidak terlarang karena hal yang hilang itu memiliki arti khusus dalam kehidupan kita. Tapi waktu berduka tersebut suatu ketika haruslah berhenti karena hidup terus berjalan. Walaupun kita berduka tiada henti-hentinya, tetap hal itu tidak bisa merubah kenyataan dan membuat apa yang telah hilang untuk kembali. Belajar untuk menerima dan kemudian melanjutkan kehidupan kita.
Pada suatu ketika saya membaca artikel lain yang menceritakan mengenai seorang kakek yang setiap harinya pergi ke kuburan isteri tercinta, merawat kuburan isteri, memainkan lagu kesukaan mendiang isterinya, duduk di dekat kuburan isterinya sambil bercerita. Hal itu ternyata sudah dilakukan oleh kakek itu selama belasan tahun sejak kematian isterinya. Kelihatannya apa yang dilakukan oleh sang kakek merupakan suatu hal yang romantis, menunjukkan cinta sang kakek yang begitu besar pada isterinya walaupun sudah belasan tahun isterinya meninggal. Akan tetapi kalau kita lihat secara iman, apa yang dilakukan oleh sang kakek merupakan suatu kegiatan yang menyia-nyiakan anugerah Tuhan. Kenapa sang kakek tidak menyatakan betapa besar cintanya pada isterinya ketika masih hidup?
Hargai apa yang masih kita miliki dan tangisi apa yang hilang dari tangan kita tapi kemudian lanjutkan kehidupan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: