Prioritas Hidup (Renungan Harian)

Jumat, 27 April 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius
Kejadian 26
 
“Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN. Ia memasang kemahnya di situ, lalu hamba-hambanya menggali sumur di situ.”
Kejadian 26: 25
Kita membaca perjalanan kehidupan dari Ishak di tanah Kanaan. Dia melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh ayahnya yaitu berbohong mengenai istrinya untuk keselamatan dirinya sendiri (ayat 7-11). Pada saat ini juga Ishak mengalami apa yang dialami oleh Abraham, ayahnya, yaitu adanya kelaparan di tanah Kanaan. Dan seperti ayahnya pula, dia berencana untuk pergi ke tanah Mesir, akan tetapi Tuhan mencegah dia pergi dan memerintahkannya untuk tetap tinggal di Kanaan (ayat 1-6). Oleh karena Ishak mengikuti perintah Tuhan dan dia menanam di Gerar maka Tuhan memberkati Ishak sehingga dia menghasilkan seratus kali lipat pada tahun itu juga, padahal pada saat itu terjadi kekeringan. 
Akan tetapi selanjutnya terjadi berbagai masalah. Raja Abimelekh mengusir dia dari Gerar oleh karena dia menjadi lebih kuat dari orang Gerar asli (ayat 16-17). Penduduk menutup semua sumur peninggalan ayahnya (ayat 15), pekerjanya bertikai dengan penduduk Kanaan (ayat 18-21), ada kekuatiran dan ketakutan dalam kehidupannya (ayat 22-24). 
Apa yang dilakukan Ishak di ayat 25 merupakan sebuah titik balik dari kehidupannya. Dia menata kembali kehidupannya, mulai dari mendirikan mezbah dan menyebut nama TUHAN, mendirikan kemah di situ, dan menggali sumur di situ juga.
Dalam kehidupan kita, banyak di antara kita yang menjadi seperti Ishak. Kita bekerja dan Tuhan memberkati kita sehingga pekerjaan kita memberikan hasil yang berlimpah. Akan tetapi kita juga heran karena ada begitu banyak aral rintangan. Permusuhan dari saingan bisnis, ada ketakutan, kekuatiran dalam kehidupan kita sehingga kita tidak bisa menikmati hasil pekerjaan tangan kita. Kita bisa saja bertanya, apakah sia-sia menuruti perintah Tuhan? Kenapa mengikuti Tuhan tapi tetap tidak ada ketenangan?
Mari kita renungkan kembali, apakah kita menjadi orang Kristen hanya sekedar mengikut Tuhan seperti Ishak mengikuti perintah Tuhan tapi tidak melibatkan Tuhan dalam kehidupannya. Dia berusaha menyelesaikan masalah dengan akalnya sendiri. Atau kita telah melakukan apa yang Ishak perbuat kemudian. Memanggil nama Tuhan yang berarti mengedepankan Tuhan, mengundang Tuhan untuk memimpin dalam kehidupan kita. Memberikan persembahan untuk Tuhan terlebih dahulu. Contoh: Apakah kita sudah memberikan perpuluhan dari segala yang kita terima dari Tuhan di awal? Atau kita menunda dan memberikannya di akhir bulan setelah semua kebutuhan kita yakin telah tercukupi? Mendirikan kemah dan menggali sumur di tempat yang sama dimana nama Tuhan dipanggil. Apakah kita mendirikan rumah tangga, melakukan pekerjaan dengan beralaskan Tuhan? Contoh: mendidik anak, mengurus rumah tangga sesuai firman Tuhan. Bekerja dengan menerapkan firman Tuhan. 
Prioritaskan Tuhan dalam kehidupan kita dan lihatlah perubahan yang terjadi dalam kehidupan kita. Ishak telah melakukannya dan dia bisa merasakan damai sejahtera dalam kehidupannya dan bisa menikmati hasil kerja kerasnya dengan penuh sukacita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: