Persaingan Dua Bersaudara (Renungan Harian)

Rabu, 2 Mei 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius
Kejadian 30
 
Kita masih ingat Yakub dan Esau memiliki sifat yang berbeda dan bagaimana kedua orang tua memperlakukan mereka berbeda pula. Ishak lebih sayang kepada Esau sementara Ribka lebih mengasihi Yakub. Oleh karena perbedaan kasih sayang yang diterima maka terjadi kekacauan dalam keluarga Ishak. 
Dalam pasal ini kita kembali melihat bagaimana rasa cinta yang dimiliki Yakub membuat kedua isterinya bersaing. Yakub lebih mengasihi Rahel dibanding Lea, akan tetapi Tuhan membuka rahim Lea sehingga Lea melahirkan empat orang anak laki-laki. Dari nama Ruben, Simeon, Lewi kita bisa melihat harapan dari Lea untuk mendapatkan cinta kasih dari Yakub, suaminya. Rahel yang walaupun merupakan isteri yang dikasihi Yakub tidak bisa memberikan keturunan bagi Yakub. Pada masa itu, wanita yang tidak bisa memberikan keturunan bagi suaminya adalah wanita yang tidak memiliki kehormatan. Rahel sangat menginginkan keturunan dan akhirnya memberikan ide yang kalau kita pikir pada zaman sekarang adalah ide yang gila. Karena tidak mau kalah dengan kakaknya, dia rela memberikan budaknya untuk menjadi gundik suaminya, dan mengadopsi anak dari gundik tersebut. Kalau kita pikirkan, bukankah lebih baik kalau Rahel mengangkat anak dari salah satu anak-anak Lea, kakaknya. Akan tetapi karena takut kehilangan cinta suaminya, maka dia melakukan hal tersebut (ayat 3-8). Lea yang sudah tidak lagi melahirkan, juga tidak mau kalah padahal dia sudah memiliki empat anak laki-laki. Dia memberikan budaknya, Zilpa, untuk menjadi gundik suaminya. Ketika gundiknya melahirkan anak laki-laki, dia merasa bahwa dia telah menang dari Rahel (ayat 9-13). Kedua saudara ini saling bersaing, yang satu berusaha mendapatkan cinta dari Yakub, sementara yang satu berusaha mempertahankan cinta dari Yakub.
Yakub, Rahel, Lea merupakan orang-orang pilihan Tuhan. Ketika kita merenungkan mengenai orang pilihan Tuhan, kita kadang berpikir seharusnya umat pilihan Tuhan bisa berpikir lebih baik dari orang lain, bisa lebih mengenal Tuhan dan lebih berusaha melaksanakan perintah Tuhan. Akan tetapi di sini kita melihat bahwa mereka melakukan sesuatu yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan. Mereka melakukan berdasarkan jalan mereka sendiri, dan berakhir pada keadaan persaingan tanpa henti.
Umat pilihan Tuhan tidaklah terlepas dari rasa persaingan. Kita harus mewaspadai bahwa rasa persaingan itu jangan sampai menguasai kita dan akhirnya membuat kita bertindak di luar perintah Tuhan untuk menang dari saingan kita. Ketika melayani dalam gereja, bekerja bagi Tuhan, mari kita gunakan rasa persaingan untuk membangun kita menjadi lebih baik, bukan dengan tujuan untuk menjatuhkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: