Berubah oleh Waktu (Renungan Harian)

Minggu, 6 Mei 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius

Kejadian 33

 

“Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka.” 

Kejadian 33: 4

Ketika melihat bahwa Esau dengan empat ratus orang anak buahnya semakin mendekat, Yakub kembali mengatur siasat untuk menghadapi Esau. Kemungkinan besar dia masih merasakan ketakutan dan berpikir bahwa Esau datang untuk membalas tindakan Yakub yang menipunya. Yakub melakukan hal-hal berikut:

Mengatur barisan rombongannya. Dia berdiri paling depan dan sujud sampai ke tanah tujuh kali, memanggil dirinya sebagai “hambamu” kepada Esau (ayat 2-5). Apakah Yakub mencoba menunjukkan penghormatannya kepada kakaknya atau hanya berusaha untuk meredakan amarah Esau?

Yakub memberikan hadiah (ayat 8-11). Hadiah atau suap?
Berdusta pada Esau bahwa dia akan mengikuti Esau ke Seir, tapi Yakub malah pergi ke Sukot (ayat 12-17). Kelihatannya Yakub berusaha melarikan diri dari Esau.
Siasat yang Yakub lakukan tidak memperlihatkan ketulusan hatinya dalam menghadapi kesalahan yang dulu pernah dilakukannya. Dia kelihatannya telah lupa dengan pergumulannya dengan Tuhan dan bagaimana Tuhan telah memberkatinya di Pniel.

Sebaliknya ketika kita melihat reaksi Esau, sungguh luar biasa perubahan yang terjadi dengannya. Ketika Yakub merebut hak kesulungan dan berkat anak sulung, Esau berniat untuk membunuh Yakub (Kej. 27:41). Akan tetapi sekarang Esau berlari, memeluk, mencium Yakub. Esau datang bukan dengan motivasi yang Yakub bayangkan yaitu untuk membalas dendam.

Tuhan memberi nama Yakub, Israel yang berarti “Menang bersama Tuhan”. Ini merupakan nama yang sangat terhormat. Akan tetapi apakah Yakub hidup sesuai dengan nama itu?

Pada kejadian ini kita melihat dua hal yang sangat berbeda. Esau yang bagi kita kelihatannya merupakan seorang yang kasar, menganggap enteng hal yang penting, penuh dendam ternyata menjadi seorang yang merindukan adiknya, menyambut adiknya dengan sukacita, melupakan apa yang telah dilakukan Yakub dahulu. Sementara Yakub yang telah diberkati Tuhan, mengalami ketakutan dan mengadakan siasat untuk mengamankan keadaannya, tidak berani menghadapi kesalahan yang telah dia lakukan.

Bisakah kita bertindak seperti Esau, melupakan perselisihan kita dengan saudara kita, baik saudara kandung maupun saudara seiman? Penatua Yohanes mengingatkan kita bahwa ketika kita menyimpan akar pahit, kebencian terhadap saudara kita maka kita akan tetap hidup dalam kegelapan walau kita sudah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan kita, dan kita dianggap sebagai seorang pembunuh(1 Yoh. 3: 15; 2:9).

Walau tidak mudah melupakan sakit hati, tapi berusahalah dan biarlah Tuhan memulihkan perasaan hati kita sesuai berjalannya waktu. Jangan kita katakan “saya bukan orang sempurna. Saya bukan orang-orang kudus seperti dalam Alkitab.” Kuncinya adalah “mau atau tidak kita berubah”?
Biarlah Tuhan melalui waktu merubah kita menjadi orang yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: