Berada di Perbatasan (Renungan Harian)

Senin, 7 Mei 2012

oleh: Penginjil Toni Antonius

Kejadian 34
Pada pasal ini kita membaca sebuah tragedi yang sangat mengerikan dan menyedihkan terjadi pada keluarga Yakub. Yakub diperintahkan oleh Tuhan untuk kembali ke tanah tempat sanak saudaranya (Kej. 31: 13), Esau mengajak Yakub untuk pergi bersamanya ke Seir (Kej. 33: 12-15), dan Ishak pada saat itu tinggal di Mamre (Kej. 35: 27), tapi Yakub memilih untuk tinggal di Sukot, mendirikan tendanya di hadapan Sikhem, di sebelah timur kota itu (Kej. 33: 18). Kita coba sama-sama berandai-andai:
  • Andaikan Yakub pergi ke Betel atau Seir atau Mamre apakah kejadian Dina diperkosa Sikhem ini akan terjadi?
  • Kenapa Yakub dari awal membiarkan Dina untuk pergi menemui perempuan-perempuan di kota Sikhem sendirian? (ayat 1-2)
  • Kenapa Yakub tidak mengambil tindakan setelah peristiwa ini terjadi dan menunggu anak-anaknya pulang sehingga terjadi pemusnahan oleh Lewi dan Simeon? (ayat 5)
Ada begitu banyak tempat untuk ditinggali oleh Yakub. Dia bisa tinggal di Betel, atau Seir, atau Mamre tapi dia malah memilih tinggal di perbatasan yaitu di sebelah timur kota Sikhem. Keputusannya ini membawa bencana besar bagi keluarganya. Dina, anak perempuannya, akhirnya diperkosa oleh Sikhem, anak dari Hemor, raja kota Sikhem. Simeon dan Lewi menggunakan cara yang keji untuk membalaskan sakit hati mereka, menghancurkan kota Sikhem.
Ada waktu-waktu dimana kita tergerak oleh kasih Tuhan, kita membuat janji untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan (Titus 2: 11-13). Contohnya setelah kita mengikuti retret, KKR, semangat kita begitu berkobar-kobar. Kita sangat ingin dan memiliki berbagai rencana apa yang akan kita lakukan dalam hidup kita untuk Tuhan. Akan tetapi setelah beberapa lama kita kembali pada keadaan sebelumnya, dan mungkin terpikir dalam diri kita untuk ada dalam hidup yang dulu sedikit lebih lama. Contoh: Setelah mengikuti KKR kita bertekad untuk melayani, lebih giat mengikuti kebaktian. Akan tetapi setelah beberapa waktu lamanya semangat kita mengendur, kita berpikir “apa salahnya ada dalam kondisi seperti sekarang? Nanti saja berubahnya.”
Kita pasti mau untuk mengikuti Yesus, tapi di sisi lain kadang kita merasa terlalu sayang untuk meninggalkan kehidupan lama yang nyaman. Lagi pula saat ini kita hidup dalam zaman anugerah, bukan dalam zaman hukum taurat jadi Tuhan pasti maklum pada keadaan kita.
Kita harus ingat bahwa Tuhanmengharapkan kita untuk berubah secara total ketika kita memutuskan untuk mengikut-Nya (Lukas 9: 57-62), meninggalkan kehidupan lama kita dan tidak lagi menoleh ke belakang. Yakub memilih tinggal di perbatasan bagaikan kita yang mengikut Tuhan tapi merasa sayang untuk meninggalkan kehidupan lama. Ingatlah bahwa Tuhan telah menebus kita dengan harga yang mahal yaitu darah-Nya sendiri. Jangan ragu, tinggalkanlah perbatasan dan masuklah lebih dalam hubungan kita dengan Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: