Rancangan Tuhan (Renungan Harian)

Selasa, 15 Mei 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius
Kejadian 41
 
Kita telah sampai pada pasal yang menceritakan titik balik dari kehidupan Yusuf, suatu titik balik yang selama ini diharapkannya sejak dia dijual oleh saudara-saudaranya sampai dia menjadi tahanan di penjara Mesir. 
Kalau kita ingat dari pasal 37, Yusuf pada awalnya merupakan anak kesayangan, yang dilindungi oleh Yakub.  Dia merupakan seorang yang bebas menjadi seorang yang tidak memiliki keluarga dan hidup terikat. Ketika menjadi budak kepercayaan tuannya, dia difitnah dan akhirnya dijebloskan ke dalam penjara selama bertahun-tahun. Ketika dia mengartikan mimpi juru minum dan juru roti, ada secercah harapan baginya untuk bebas, akan tetapi yang terjadi adalah kekecewaan karena juru minum melupakan Yusuf. Saat Yusuf berumur 30 tahun, Firaun bermimpi, dan juru minum akhirnya mengingat Yusuf  dan memberitahukannya kepada Firaun (ayat 1-13).
Dengan itu satu kesempatan untuk Yusuf terbuka. Satu kesempatan yang dibukakan oleh Tuhan untuknya. Tuhan berencana untuk menyelamatkan bangsa Israel dari kekeringan yang hebat melalui Yusuf. 
Saya rasa tidak banyak dari kita bahkan mungkin tidak ada dari kita yang mau ada dalam kondisi seperti Yusuf. Harus mengalami berbagai penderitaan dan kekecewaan dalam hidup berkali-kali. Akan tetapi apa yang terjadi dalam kehidupan Yusuf merupakan kehendak Tuhan. Kenapa itu merupakan kehendak Tuhan? Bukankah Tuhan merancangkan yang baik untuk kita, bukan rancangan kecelakaan? Bukankah kehendak Tuhan adalah memberkati kita dengan berlimpah-limpah?
Bagi banyak orang di dunia, bahkan termasuk bagi orang Kristen, sesuatu disebut berkat ketika memiliki nilai positif, tidak pernah bernilai negatif. Menjadi seorang budak bukanlah merupakan berkat. Terlempar ke dalam penjara bukanlah berkat. Akan tetapi ternyata Yusuf melalui semua itu, hal itu merupakan berkat dari Tuhan. 
Dengan menjadi budak, dia belajar untuk bersandar pada Tuhan, dan Tuhan menyertainya dan memberkati pekerjaannya sebagai budak. Ketika menjadi narapidana, dia bersandar pada Tuhan dan Tuhan membukakan jalan baginya untuk menjadi pengurus tahanan, bukan hanya menjadi tahanan biasa. Jika Tuhan tidak menempatkan Yusuf pada keadaan tersebut, dia tidak akan memiliki kesempatan untuk ada di hadapan Firaun mengartikan mimpi Firaun. Tanpa adanya kesempatan tersebut, maka tidak mungkin kehidupan Yusuf bisa meningkat dengan tajam dari seorang tahanan menjadi mangkubumi di Mesir, sementara dia bukanlah orang Mesir. 
Rancangan Tuhan bagi kita adalah rancangan yang mendatangkan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan, Tuhan mau memberikan masa depan yang cerah bagi kita (Yer. 29: 11). Dalam mewujudkan rancangan-Nya, mungkin kita harus melalui pendidikan yang berat, permasalahan yang menghimpit supaya kita belajar bersandar pada Tuhan, berserah pada Tuhan. 
“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian iman-mu- yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.” (1 Petrus 1: 6-7).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: