Kasih Dalam Keluarga (Renungan Harian)

Kamis, 17 Mei 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius
Kejadian 43
“Akulah yang menanggung dia; engkau boleh menuntut dia dari padaku; jika aku tidak membawa dia kepadamu dan menempatkan dia di depanmu, maka akulah yang berdosa terhadap engkau untuk selama-lamanya.”
Kejadian 43: 9
Beberapa waktu telah berlalu sejak saudara-saudara Yusuf ke Mesir untuk membeli makanan, dan sekarang persediaan makanan telah habis kembali. Hal ini menyebabkan mereka harus kembali lagi ke Mesir untuk membeli makanan. Satu syarat diberikan Yusuf adalah dalam kedatangan mereka yang kedua, mereka harus membawa serta Benyamin. Akan tetapi Yakub tidak mengijinkan Benyamin dibawa serta, karena dia merupakan anak yang dikasihinya. 
Yehuda tampil dan memberikan sebuah jaminan bahwa dirinya yang akan menanggung Benyamin dan membawanya kembali dalam keadaan hidup ke hadapan Yakub. Sebenarnya sebelum Yehuda tampil, Ruben sebelumnya sudah meminta untuk membawa Benyamin dengan tanggungan nyawa kedua anak laki-lakinya, tapi permintaan Ruben tidak didengarkan oleh Yakub. Yehuda memberikan tanggung jawab yang sepenuhnya, yaitu dirinya sendiri sebagai penebus untuk Benyamin. Hal ini menunjukkan kasih Yehuda kepada Benyamin merupakan kasih yang paling tinggi (Yoh. 15:13). Karena tanggung jawab Yehuda ini maka dia dipilih menjadi nenek moyang dari Yesus Kristus.
Mari kita renungkan bagaimana kasih Yehuda terhadap Benyamin seperti kasih Tuhan Yesus kepada kita. Dia memberikan diri-Nya sebagai penebus untuk diri kita. Dia berusaha membawa kita kembali ke hadapan Bapa di Sorga dalam keadaan hidup. Betapa kasih Tuhan Yesus merupakan kasih yang terbesar dalam dunia ini.
Orang yang kedua yang mengasihi Benyamin adalah Yusuf. Ketika Yusuf melihat Benyamin, hatinya sangat terharu karena merindukannya sehingga dia pergi dari tempat itu untuk menangis (ayat 30). Walau sudah dua puluh tahun terpisah tapi tetap ada sebuah kerinduan pada adiknya. Ikatan keluarga tidak pernah pupus oleh waktu, itulah yang sebenarnya harusnya ada dalam keluarga. Saat sekarang iblis berusaha mengacaukannya sehingga kita lihat ada orang tega membunuh anggota keluarganya sendiri. Ada kakak dan adik tidak lagi mengaku sebagai saudara oleh karena uang. Hal ini mengaburkan juga hubungan kita dengan Tuhan Yesus.
Yang menarik dari Yusuf juga bahwa ketika dia berhadapan dengan saudara-saudaranya, yang pertama kali ditanyakan adalah keadaan dari Yakub (ayat 27). Dia selalu mengingat orang tuanya dan mempedulikan keadaan Yakub.
Banyak saya melihat ketika seorang anak sudah sukses, mereka tidak begitu memperhatikan orang tuanya lagi. Kadang anak berpikir bahwa kebahagiaan seorang ayah dan ibu adalah ketika kebutuhan mereka tercukupi sehingga ada yang menyediakan rumah lengkap dengan pembantu, memberikan uang makan setiap bulannya tapi dia sendiri jarang sekali mengunjungi orang tuanya. Kebahagiaan orang tua adalah ketika anak-anak memperhatikan mereka dan tetap merasa membutuhkan orang tua walau sebenarnya mereka sudah bisa berdiri sendiri.
 “His heart yearned for his brother…”
Joseph saw Benjamin with them. He told his steward to prepare a banquet for his brothers in his home. His brothers were afraid; afraid of the man, who was their brother Joseph. They did not know the happenings that they told the steward, but Joseph’s steward said, “Peace be with you, do not be afraid…” Then he brought Simeon out to them. And they prepared to meet their brother.
They bowed down to Joseph on seeing him. Then Joseph enquired about their welfare and their father. They bowed to him again and made obeisance. And when Joseph saw his brother Benjamin, his mother’s son, he made supplication to God to bless him. His heart yearned for his brother so much that he had to go to his room and weep. Still he washed his face, restrained himself and they sat accordingly-the firstborn to his birthright, and the youngest to his youth. They were astonished at the arrangement. The servings Benjamin received were five times as much as any of the other brothers. So they drank and were merry with him.
How did Joseph react when he saw his brother Benjamin (43:29-30)?
How did Joseph treat Benjamin (43:33-34)?
In times of troubles or calamities,
A brother [sister] is always there for one another.
A brother [sister] would lay down his life for the other.
He [She] would say, “I am my brother’s [sister’s] keeper.”
After long periods of not seeing a brother [sister],
They would long to see them again.
They would work by all possible means to meet.
Their hearts yearn to bless them when they greet.
Brothers [sisters] should not turn against each other.
They weren’t meant to dispute at home or church.
Instead when any of them meet trials or sorrow,
They pray together and cheer each other on today and tomorrow.
If I have not made peace with my brother [sister],
I would not be able to sit here and write this down.
Let’s try to remember this good example set before us,
Let this be the beginning or continuing of loving our brother [sister] in Christ.
“A friend loves at all times,
And a brother is born for adversity.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: