Memaafkan dan Melupakan (Renungan Harian)

Rabu, 16 Mei 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius
Kejadian 42
 “Ketika Yusuf melihat saudara-saudaranya, segeralah mereka dikenalnya, tetapi ia berlaku seolah-olah ia seorang asing kepada mereka.”
Kejadian 42: 7a
Akhirnya Yusuf bertemu dengan saudara-saudaranya lagi walaupun mereka tidak mengenal dia. Sudah lebih dari 20 tahun setelah Yusuf mengalami pengalaman pahit dijual oleh saudara-saudaranya. Mungkin kita bisa katakan bahwa “waktu menyembuhkan luka hati”, akan tetapi saya rasa tanpa adanya Tuhan pada masa penyembuhan tersebut, mungkin masih ada dendam yang tetap tersisa dan tidak bisa dihapus dengan waktu. 
Kalau kita lihat pasal-pasal sebelumnya kita tidak banyak menemukan adanya ayat yang menyatakan bahwa Yusuf mengingat kesalahan saudara-saudaranya yang telah menjualnya itu. Akan tetapi, ketika dipenjara dia katakan “Sebab aku diculik begitu saja…” (Kej. 40: 15); Ketika memberi nama anak sulungnya, Manasye, dia katakan “Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku.” (Kej. 41: 51); ketika Efraim lahir “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku.” (Kej. 40: 52). Kelihatannya Yusuf masih mengingat kesalahan yang dilakukan oleh saudara-saudaranya itu. 
Walaupun begitu, ketika kita membaca pasal 42 ini, kita melihat bahwa ketika saudara-saudaranya ini menghadap Yusuf, dia yang sekarang memiliki kekuasaan dan kekuatan tidak menggunakannya untuk membalas dendam kepada mereka. Dia menguji mereka untuk melihat apakah mereka telah berubah sejak peristiwa itu, dan juga karena dia ingin melihat adiknya, Benyamin.
Kita bisa merenungkan bagaimana perasaan Yusuf ketika melihat saudara-saudaranya itu yang sudah dua puluh tahun lebih berpisah, apa yang dipikirkannya? Dalam ayat 9 diberitahukan bahwa Yusuf mengingat mimpin yang dialaminya. Apa yang diingatnya? Apakah bagaimana dia menjadi tuan atas mereka itu menjadi kenyataan? Atau bagaimana mereka telah menjadi iri sampai akhirnya menjual dirinya?
Kisah Yusuf mengingatkan kita ketika kita ada dalam kehidupan yang menurut pandangan kita, sebenarnya kita tidak layak untuk mengalaminya. Kadang kita tidak bisa melupakan sesuatu yang menyakitkan yang terjadi dalam kehirupan kita di masa lalu. Yusuf, walaupun tidak melupakan apa yang terjadi dengannya di masa lalu, terbukti dari bagaimana dia menamai anak-anaknya, akan tetapi kejadian tersebut tidak mempengaruhi dirinya secara emosi. Tuhan bersama dengan waktu yang berlalu mengikis efek emosi yang ada sehingga ketika kita merefleksikan diri dan mengingat kejadian itu, tidak ada perasaan sakit dihati kita. 
Memaafkan dan melupakan bukan berarti tidak lagi mengingat karena otak kita pasti merekam dan menyimpan setiap kejadian yang pernah terjadi. Melupakan dalam hal ini adalah apakah kesalahan yang telah dilakukan orang lain yang membuat kita sakit hati tidak lagi kita rasakan di masa depan ketika kita mengingatnya kembali.Kita bisa melakukan hal tersebut dengan terus mendekatkan diri kepada Tuhan setiap hari dan membiarkan Tuhan yang bekerja supaya kita bisa melihat rancangan Tuhan yang indah untuk kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: