Warisan Iman (Renungan Harian)

Rabu, 23 Mei 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius
Kejadian 48
Yakub/Israel sudah lanjut usia dan sakit, dan dia tahu bahwa dia sebentar lagi akan meninggalkan dunia ini dan anak-anaknya. Yusuf adalah yang pertama mendengar kabar ini dan dia datang bersama dengan kedua anaknya, Manasye dan Efraim, menjenguk Yakub. Yakub mengingat dan menceritakan kembali pertemuan-pertemuannya dengan Tuhan kepada Yusuf, dan juga mengadopsi kedua anak Yusuf; itu berarti mereka berdua memiliki kesetaraan dengan paman-pamannya dalam menerima berkat dari Israel. Dia melakukan ini semua karena Ruben, anak sulungnya telah mencemari tempat tidur ayahnya; oleh karena itu hak kesulungannya diambil dan diberikan kepada anak-anak Yusuf (1 Taw. 5:1).
Sekali lagi, selain peristiwa Esau menjual hak kesulungannya, disini kita melihat Ruben kehilangan haknya oleh karena percabulan. Hal ini menjadi sebuah peringatan keras dalam setiap tindakan kita berkaitan dengan keselamatan yang sudah diberikan kepada kita. Kita harus memegang dengan kuat harapan yang kita miliki, karena kemuliaan yang akan datang jauh lebih berharga dibandingkan berlimpahnya kesenangan hidup yang singkat dalam dunia.
Peristiwa Israel mengingat kembali pertemuannya dengan Tuhan patut dipuji, dan sesuatu yang harus kita pelajari, karena dia mengucap syukur dan memuji Tuhan yang telah menjaga dan menolong dalam seluruh hidupnya, walau dilalui dengan kerja keras. Peristiwa ini seperti seorang ayah mewariskan imannya kepada anak-anaknya. Iman ini bukan datang dari pendengaran saja tapi dari pengalaman Israel yang telah melihat dan menyentuh Tuhan (Kej. 32: 24-25). Selain itu, peristiwa ini juga saya yakin menguatkan iman Yusuf kepada Tuhan di kemudian hari.
Kebenaran yang sepenuhnya yang telah kita terima dalam Gereja Yesus Sejati merupakan harta yang sangat berharga, karena hal itu membawa kita kepada keselamatan. Oleh karena itu, meneruskan kebenaran yang sepenuhnya kepada generasi selanjutnya merupakan sebuah tanggung jawab yang sangat penting dan harus diperhatikan.
Kamis yang lalu saya diberikan kesempatan untuk mengikuti Persekutuan Guru Agama wilayah Jawa Barat. Ada satu topik yang disampaikan oleh pembicara yang menarik. Dia bertanya “Ketika kita mengajar, apakah ada sesuatu yang kita wariskan kepada anak-anak kita? Atau kita terlalu sibuk memikirkan kegiatan-kegiatan yang bisa menarik perhatian anak-anak, yang tidak membosankan?” Kadang kita memusatkan perhatian pada sesuatu hal yang tidak begitu penting dan melupakan hal yang sangat penting. Wariskan iman kita kepada generasi selanjutnya sehingga generasi berikutnya tidak terombang-ambing dan mengerti dengan benar siapa Tuhan dan apa kehendak-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: