Karena Iman Musa Diselamatkan (Renungan Harian)

Senin, 4 Juni 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius
Keluaran 2
“Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya.”
Keluaran 2: 2
Pada zaman Yusuf, orang-orang Mesir bersikap baik. Setelah dinasti baru berkuasa di Mesir, muncul Firaun yang tidak mengenal Yusuf (Kel. 1:9), orang-orang Israel diperlakukan dengan buruk dan dikenakan kerja paksa. Pada masa inilah Musa lahir. Dia lahir di wilayah kerajaan yang kuat, tapi dia berasal dari ras yang ditindas dimana pemerintah mengeluarkan perintah bahwa bayi-bayi sepertinya harus dibunuh. 
Tapi Puji Tuhan, orang tua Musa, Amram dan Yokhebed, memiliki iman dan membesarkan Musa dengan sembunyi-sembunyi (Ibr. 11: 23). Mereka lebih takut pada Tuhan dibandingkan pada ancaman pemerintah Mesir. Mereka percaya bahwa Tuhan pasti akan menolong mereka untuk membesarkan anak ini. Kalau iman mereka tidaklah kuat, mereka tidak akan bisa menyembunyikan bayi tersebut sampai tiga bulan lamanya.
Ketika tiga bulan berlalu dan Yokhebed tidak bisa lagi menyembunyikan anak itu, dia mengatur dengan begitu rupa bagaimana menyelamatkan Musa. Ditempatkan di peti yang aman, dialirkan di sungai Nil yang dia tahu putri Firaun akan ada di sana, memerintahkan anaknya, Miriam, untuk mengikuti Musa dan muncul untuk menawarkan membesarkan anak tersebut (ayat 3-10). Kita bisa melihat bagaimana kerja sama antara iman dan perbuatan. Yokhebed bisa saja setelah menghanyutkan peti berisi Musa, tidak melakukan apa-apa lagi. Tapi dia berusaha dengan sekuat tenaga agar anaknya selamat, dan bukan hanya itu saja tapi anaknya bisa terdidik imannya kepada Tuhan.
Saya yakin bahwa setiap orang tua mengharapkan anaknya menjadi berhasil, kehidupannya terjamin. Tapi kadang kita melupakan satu aspek yang penting yaitu kehidupan kerohanian sang anak. Musa di tangan putri Firaun, kehidupannya pastilah lebih baik, terjamin, tercukupi, tapi belum tentu dengan kehidupan imannya. Tapi karena tindakan Yokhebed dalam memperhatikan iman Musa, anak itu tumbuh menjadi seorang anak yang mengenal bahwa dirinya adalah orang Israel (ayat 11-12) dan tahu akan iman keyakinannya kepada Tuhan. 
Tuhan mengharapkan kita menghasilkan keturunan ilahi (Maleakhi 2: 15). Perhatian kita dalam membesarkan anak-anak kita bukan hanya pada pemenuhan kebutuhan hidup, pendidikan, ketrampilan, tapi terlebih lagi adalah pendidikan iman kerohaniannya. Sudahkah kita memetingkan pendidikan iman seperti kita mementingkan pendidikan formal dan kebutuhan hidupnya? Atau kita menganggap bahwa pendidikan iman adalah sebuah tambahan yang bisa ditambahkan ketika ada waktu kosong?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: