Pengantin Darah (Renungan Harian)

Rabu, 30 Mei 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius
Keluaran 4
“Tetapi di tengah jalan, di suatu tempat bermalam, TUHAN bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk membunuhnya.”
Keluaran 4: 24
Dalam pasal sebelumnya sampai pasal 4 awal kita melihat perbincangan Tuhan dengan Musa. Musa berkali-kali mengluarkan alasan untuk menolak perintah Tuhan, dan berkali-kali juga Tuhan meyakinkan Musa, menguatkannya. Ketika Musa terang-terangan menolak, Tuhan pun murka dan dengan tegas memerintahkan Musa untuk pergi (ayat 13-17). Tuhan mempunyai rencana untuk mengeluarkan bangsa Israel dari Mesir dipimpin oleh Musa. Akan tetapi kejadian dalam ayat 24 membuat kita terheran-heran. Tuhan bermaksud untuk membunuh Musa. Apa yang terjadi? Kenapa Tuhan berikhtiar untuk membunuh Musa? Lalu apa maksud pengantin darah?
Pengantin darah maksudnya adalah karena Zipora mengingat sunat yang harus dilakukan terhadap anaknya. Musa tidak menyunat anaknya pada hari yang ke-8 padahal sunat itu merupakan tanda perjanjian Tuhan dengan Abraham dan Tuhan perintahkan bahwa keturunan Abraham harus disunat (Kej. 17:12-14). Entah Musa lupa atau karena apa tidak diberitahukan alasannya. Oleh karena Musa tidak menyunat anaknya inilah maka Tuhan berikhtiar untuk membunuh Musa. Musa pergi untuk menjadi pemimpin bangsa Israel, tapi dia sendiri malah melupakan hal yang sangat mendasar.
Seorang pemimpin dilihat oleh pengikutnya bukan berdasarkan apa yang dia katakan, ajarkan, tapi pada apa yang dia lakukan. Yesus pada waktu mengajar dikatakan mengajar dengan penuh kuasa karena dia melakukan dan mengajarkan  (Markus 1:22) sementara orang-orang Farisi hanya mengajarkan saja tapi tidak mau melakukan (Matius 23:3). 
Saya pernah melihat sebuah ilustrasi yang menggambarkan bagaimana akan-anak mencontoh apa yang dilakukan orang tua. Ketika orang tuanya merokok, anaknya ikut merokok, ketika ibunya membuang sampah sembarangan anaknya juga membuang sampah sembarangan, ketika ayahnya membentak ibunya, anak tersebut juga membentak ibunya. Ilustrasi itu mengatakan bahwa seorang anak paling banyak mengikuti perbuatan orang tua, bukan apa yang orang tua ajarkan melalui kata-kata. 
Jangan kita berharap anak kita bisa taat sebelum kita menjadi taat terlebih dulu. Jangan mengharapkan anak kita rajin ibadah sebelum kita rajin ibadah. Jangan berharap anak kita mengasihi kita sebelum kita mengasihi orang tua kita. Mari kita terapkan firman Tuhan pada diri kita terlebih dulu. Kita terlebih dulu melaksanakan perintah Tuhan, baru kita bisa berharap bahwa orang lain, anak-anak kita melaksanakan perintah Tuhan.
Paulus mengatakan “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” (1 Kor. 11:1) karena dia telah lebih dulu mengikut Yesus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: