Janji dan Peringatan (Renungan Harian)

Kamis, 14 Juni 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius
Keluaran 11
 
 Sebuah pasal yang pendek memberitahukan mengenai turunnya tulah kesepuluh yaitu kematian seluruh anak sulung di tanah Mesir, baik tuan maupun budak, bahkan sampai anak sulung ternak di Mesir pun tidak terluput. 
Di sini kita bisa melihat kekuasaan Tuhan yang luar biasa. Dia tahu bahwa tulah yang kesepuluh ini merupakan tulah yang terakhir dan akan mengubah hati Firaun yang tadinya benar-benar melarang bangsa Israel keluar dari Mesir menjadi mengusir mereka keluar. Bangsa Mesir akan memberikan harta benda mereka dengan sukarela kepada orang Israel.
Tuhan mengetahui apa yang ada dalam hati kita. Daud mengatakan bahwa hari-hari kita sudah tertulis dalam kitab-Nya jauh sebelum itu semua terjadi (Mzm. 139: 16). Dia yang menyelidiki hati kita dan mengetahui semuanya. 
Kedua kita melihat kesetiaan Musa dan Harun yang luar biasa. Sudah lebih dari sembilan kali Musa dan Harun menghadap Firaun, dan setiap kali mereka menghadap selalu penolakan yang mereka terima. Tapi mereka percaya pada firman Tuhan bahwa tulah ke sepuluh ini merupakan tulah terakhir dan pasti bangsa Israel akan dibebaskan. Dia tanpa ragu menyampaikan firman Tuhan itu kepada Firaun (ayat 4-8) walau sudah berkali-kali Firaun menolak untuk membebaskan Israel.
Iman adalah dasar dari apa yang kita harapkan. Kita percaya kepada Tuhan berdasarkan iman. Kadang kala iman berjalan bersebrangan dengan pengetahuan, kenyataan yang ada. Berkali-kali Musa menghadap, berkali-kali Firaun menolak. Apa yang bisa menjadi sebuah kepastian, dasar bahwa kali ini Firaun pasti membiarkan orang Israel keluar? Jawabannya adalah iman. Pernahkah kita berkali-kali berusaha melakukan perintah Tuhan, tapi berkali-kali pula hasil yang ada tidak sesuai dengan yang diharapkan? Kita percaya pada janji Tuhan, tapi ternyata kenyataan yang ada berbalik dengan janji tersebut. Apa yang kita lakukan? 
Saya tergerak mendengar kesaksian yang disampaikan oleh Penatua Lin pada KKR beberapa waktu lalu. Dia katakan ada seorang saudara seiman di daerah Afrika, memegang hari sabat dengan kuat. Walau dia harus melakukan perjalanan jauh untuk sampai ke gereja tapi dia bersama dengan keluarganya tetap pergi beribadah di gereja setiap sabat. Suatu kali ketika dia beribadah sabat, tokonya dirampok orang. Minggu depannya ketika dia pergi beribadah sabat, di jalan dia dirampok orang sehingga ketika pulang dia harus berjalan kaki. Padahal janji Tuhan mengatakan bahwa ketika kita memegang hari Sabat maka Tuhan akan membuat kita berkendaraan kemenangan melintasi bukit-bukit, kita akan diberi makan dari milik pusaka Yakub (Yesaya 58:14). Saudara kita ini tetap percaya dan tidak melemah imannya. Dia menganggap peristiwa yang dia alami adalah sebuah cobaan dari iblis yang berusaha menjatuhkannya. Ketika hal tersebut menimpa kita, apakah kita bisa tetap bertahan seperti saudara kita ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: