Kekerasan Hati Firaun (Renungan Harian)

Rabu, 13 Juni 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius
Keluaran 10
Tujuh tulah sudah jatuh ke orang-orang Mesir. Para ahli-ahli sihir di Mesir sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi, para pegawai Firaun sudah banyak yang menyarankan Firaun untuk melepaskan orang Israel (ayat 7), tapi Firaun tetap berkeras untuk menahan orang Israel. Terbesit dalam pikiran Firaun untuk mengijinkan bangsa Israel pergi tapi ketika mendengar persyaratan dari Musa bahwa semua bangsa Israel pergi baik anak-anak, orang tua, laki-laki, perempuan; mereka juga harus membawa ternak mereka semua, Firaun kembali mengurungkan niatnya (ayat  8-11, 24-28). Ketika mengalami tulah tersebut Firaun memohon supaya Musa dan Harun berdoa kepada Tuhan baginya (ayat 16-18), dia sadar akan kesalahannya, tapi setelah tulah tersebut berhenti kembali dia mengeraskan hatinya.
Ketika membaca kisah mengenai usaha membawa bangsa Israel keluar dari Mesir dan membaca kekerasan hati Firaun saya teringat kadang kehidupan kita yang percaya kepada Tuhan mengikuti apa yang Firaun lakukan. Tanpa sadar kita mengeraskan hati kita berkali-kali.
Tuhan menegur kita berkali-kali dengan tingkat teguran berbeda-beda, mungkin dari teguran ringan, sentilan, jeweran, sampai hajaran dalam kehidupan kita. Ketika kita ditegur Tuhan, kita menyadari kesalahan kita, memohon pengampunan Tuhan. Akan tetapi setelah teguran itu lalu dari kita, kembali kita berbuat kesalahan yang sama. Kadang ketika kita mendengar apa saja yang harus kita lepaskan untuk tunduk pada perintah Tuhan, entah itu kebiasaan buruk, sifat-sifat buruk dalam diri kita, negosiasi kita lakukan. “Tuhan, boleh ga hanya sebagian yang saya lepaskan? Boleh ga bukan saya langsung meninggalkan kebiasaan buruk, tapi perlahan-lahan merubahnya?” kita berharap bahwa tidak langsung kita harus melakukan perubahan, langsung meninggalkan kebiasaan berjudi, kebiasaan minum, tapi kita menguranginya secara perlahan-lahan. Kadang kita berpikir “Tuhan pasti maklum dengan apa yang saya lakukan. Dia pasti maklum kalau saya tidak langsung berubah.”
“Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!
 Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku.” (Mzm. 95: 7-9).
Jika Tuhan menegur kita saat ini, berubahlah dengan segera. Manfaatkan kasih Tuhan dengan baik, jangan sampai kita menyesal karena ada saatnya dimana tidak ada lagi kesempatan untuk berubah seperti apa yang dialami oleh Firaun (ayat 28-29).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: