Allah Menuntun (Renungan Harian)

Minggu, 17 Juni 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius

Keluaran 13

“Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: “Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir.” Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir.”
Keluaran 13: 17-18

Bangsa Israel berjalan keluar dari tanah Mesir dengan tangan teracung, dengan kemenangan (ayat 14). Dia memimpin bangsa Israel dengan tiang awan dan tiang api yang senantiasa ada di depan orang Israel. Akan tetapi satu hal yang dilakukan Allah, yang membuat saya penasaran yaitu Tuhan membawa bangsa Israel berjalan memutar. Waktu saya mencari rute perjalanan bangsa Israel saya menemukan satu hal yang menarik.

Dari peta yang saya temukan, setidaknya ada 3 rute terdekat yang bisa ditempuh bangsa Israel untuk mencapai tanah Kanaan. Rute-rute itu merupakan rute yang biasa digunakan orang-orang pada masa itu untuk bepergian. Akan tetapi Tuhan tidak menggunakan rute yang telah ada, Dia membawa bangsa Israel menuju ke arah Selatan, ke padang gurun sehingga waktu yang diperlukan untuk ke tanah Kanaan lebih lama dari yang seharusnya. Tuhan melakukan itu semua karena Dia memperhatikan keadaan orang Israel, Dia mengerti dengan benar bagaimana keadaan Israel yang sesungguhnya. Mereka selama 430 tahun menjadi budak, ada dalam keadaan tertindas, mental mereka tentu bukan mental seorang prajurit, tapi mental seorang budak. Walaupun mereka berjalan dalam formasi perang, tapi mereka belum siap untuk menghadapi peperangan. Tuhan bisa saja memimpin mereka melalui tanah Filistin, menghabiskan orang-orang Filistin tanpa orang Israel perlu turun tangan. Tapi hal itu tidak akan membentuk orang Israel menjadi lebih baik. Mental mereka akan tetap merupakan mental seorang budak, tidak ada perubahan, mereka tidak menjadi lebih kuat.

Tuhan mengerti batas kemampuan kita. Dia memberikan kepada kita kesukaran dalam hidup yang sesuai dengan kemampuan kita untuk menghadapinya. Kadang kita merasa mampu kadang kita merasa tidak mampu untuk menghadapi masalah yang ada, tapi penilaian Tuhan adalah yang terbaik. Melalui kesukaran-kesukaran itu, Tuhan membentuk kita menjadi seorang yang lebih baik, lebih kuat, lebih dewasa, lebih menyandarkan diri pada Tuhan. Ada sebuah tanah Kanaan yang berlimpah susu dan madu yang Tuhan siapkan di ujung perjalanan kehidupan kita.

“Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.” (Mazmur 32: 8). Bisakah kita percaya kepada Tuhan bahwa jalan-Nya merupakan jalan yang terbaik bagi kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: