Sunat di Gilgal (Renungan Harian)


Kamis, 25 Oktober 2012
oleh: Penginjil Toni Antonius
Yosua 5
 
Kabar bangsa Israel menyebrangi sungai Yordan dengan melalui tanah kering dengan penyertaan Tuhan membuat semua raja-raja di daerah Kanaan kehilangan keberanian untuk menghadapi bangsa Israel. Mereka tidak lagi memiliki semangat dan merasa kegentaran. Bangsa Israel sendiri tentu memiliki semangat yang menggebu-gebu untuk mulai menaklukkan tanah Kanaan. Terlebih lagi mereka melihat sendiri bahwa Tuhan menyertai mereka. Akan tetapi Tuhan tidak langsung memerintahkan mereka  untuk mulai menaklukkan tanah Kanaan. Ada beberapa hal yang mereka lakukan terlebih dahulu. Demikian juga dalam kehidupan kita. Ketika kita memiliki semangat dan keyakinan bahwa apa yang kita lakukan kadang-kadang kita tidak berpikir lagi langsung bertindak, termasuk dalam pelayanan di gereja. Walaupun peluang kita untuk berhasil sangatlah besar, kita tetap harus dengan taat menunggu perintah dari Tuhan.
Apa yang dilakukan bangsa Israel di Gilgal mengingatkan beberapa hal:
1.      Mereka melakukan penyunatan terhadap semua laki-laki di dalam bangsa Israel (ayat 2-8).
Sunat merupakan tanda perjanjian antara Tuhan dengan Abraham dan keturunannya (Kej. 17: 13-14). Laki-laki yang lahir di padang gurun semuanya belum disunat, karena itu Tuhan mengokohkan kembali perjanjian-Nya itu dengan menyuruh Yosua menyunat semua laki-laki di bangsa Israel. Kita ingat ketika Musa dalam perjalanan ke Mesir, Tuhan berikhtiar membunuh Musa karena dia belum menyunat anaknya laki-laki.
Penyunatan ini menandakan dikukuhkannya kembali iman kepada janji Tuhan.
2.      Bangsa Israel merayakan Paskah di Gilgal (ayat 10-11).
Paskah merupakan perayaan keluarnya bangsa Israel dari perbudakan di tanah Mesir. Paskah ini merupakan perayaan yang wajib untuk dirayakan oleh setiap orang Israel.
Melakukan setiap kewajiban yang harus dilakukan di hadapan Tuhan. Selain itu selalu mengingat bahwa kebebasan yang mereka terima merupakan pemberian dari Tuhan, selain itu juga tanah Kanaan ini mereka bisa memilikinya karena Tuhan sudah menjanjikannya, bukan karena kerja keras mereka semata. 
Mari kita senantiasa mengingat kasih karunia Tuhan yang membebaskan kita dari dosa dan menyandarkan diri sepenuhnya kepada-Nya, tidak mengandalkan diri.
3.      Memakan hasil negeri Kanaan (ayat 11)
Akhirnya setelah empat puluh tahun mereka makan manna, di Gilgallah mereka makan hasil tanah Kanaan. Sejak saat itu manna berhenti diturunkan. Menikmati pemberian Tuhan dan memulai suatu kehidupan yang baru.
Ketika kita melayani Tuhan, kita harus selalu memulai kehidupan yang baru, artinya ketika kemarin kita masih berbuat dosa, sekarang kita sudah bisa meninggalkannya; kemarin sudah tidak berbuat dosa, sekarang sudah bisa berbuat baik. Memperbaharui diri kita dari hari ke hari semakin menjadi lebih baik lagi.
Mari setiap harinya kita memeriksa iman, mensyukuri kasih karunia Tuhan, dan memperbarui diri sehingga menjadi lebih baik lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: