Keadaan Statis (Renungan Harian)

Jumat, 16 Nopember 2012

oleh: Penginjil Toni Antonius

Yosua 18

 

Saya ingat ketika kuliah, asumsi keadaan statis merupakan keadaan yang paling saya sukai dalam menyelesaikan sebuah permasalahan karena tidak ada perubahan yang mempengaruhi perhitungan sehingga perhitungan yang dilakukan tidak rumit. Bangsa Israel rupanya juga terlena dalam keadaan statis.

Dalam Yosua 11: 23 di bagian akhir dikatakan “Lalu amanlah negeri itu, berhenti dari berperang.” Sungguh suatu keadaan yang diidam-idamkan oleh semua orang. Keadaan aman tanpa perlu lagi berperang, tidak perlu lagi mengatur strategi, mengatur barisan, mengangkat senjata, berjaga-jaga siang dan malam. Bangsa Israel tentu mengalami kelelahan setelah mengalahkan puluhan raja di tanah Kanaan, jenuh dengan peperangan yang ada sehingga akhirnya keadaan aman ini membuat mereka terlena. Mereka lupa bahwa daerah Kanaan belum semuanya mereka rebut, masih ada tujuh suku lagi yang belum mendapatkan tanah pusaka, janji Tuhan belum mereka peroleh (ayat 3).

Yosua menegur mereka untuk segera bangun dari kemalasan dan bergerak berusaha memperoleh janji Tuhan. Janji Tuhan harus diupayakan untuk diperoleh, Tuhan akan menolong dalam proses memperoleh janji tersebut.

Keadaan damai merupakan keadaan yang diharapkan oleh semua orang, bahkan semua bangsa di muka bumi ini. Saat sekarang ini anyak pergerakan-pergerakan perdamaian yang dibentuk oleh bangsa-bangsa. PBB, Asean, dan organisasi-organisasi lain di dunia dibentuk dengan tujuan supaya tidak ada peperangan di dalam dunia. Setiap kali ada perseteruan antara negara, organisasi-organisasi dunia ini berusaha menjadi penengah supaya kedua negara yang berseteru tersebut berdamai, jangan sampai pecah peperangan. Peperangan merupakan suatu hal yang sebisa mungkin dihindari. Alkitab pun menuliskan bahwa sebisa mungkin setiap orang percaya menjaga perdamaian dengan semua orang (Rm. 12: 18).

Akan tetapi jangan sampai kita terlena dan menerapkan perdamaian ini di dalam dunia rohani. Berkenaan dengan rohani kita, tidak ada kata perdamaian. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa ada perseteruan antara Tuhan dengan dunia (Yak. 4: 4), ada peperangan antara iblis dengan anak-anak Tuhan (Why. 12: 17). Pada saat ini kita sedang dalam keadaan damai, bisa beribadah dengan tenang. Mari gunakan waktu ini untuk menyusun kekuatan supaya iman kita semakin dewasa lagi dan nantinya siap untuk menghadapi peperangan yang lebih besar lagi.

Kalau kita belum melayani, mari kita bergerak untuk melayani. Kalau kita sudah melayani, mari kita mengembangkan bidang pelayanan kita. Mari kita sama-sama lebih bergiat dalam meneliti kebenaran Alkitab, mari tingkatkan ibadah kita baik di dalam gereja maupun di dalam keluarga. Bersiaplah untuk berperang sebagai prajurit Kristus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: