Tertidur di Aula Gereja

* Kisah Para Rasul 20:9 – “Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati.”

Pemandangan orang mengantuk bahkan yang tertunduk-tunduk tertidur di gereja bukan lagi sesuatu yang asing bagi kita. Bahkan mungkin saja kita pun pernah mengalaminya sendiri. Seorang teman pernah menyibukkan diri dengan ber-sms, katanya agar tidak mengantuk. Lalu untuk apa beribadah di gereja kalau begitu? Alasan bisa jadi banyak. Mungkin karena sudah kebiasaan, disuruh orang tua, sebuah kewajiban dari sekolah, atau tidak jarang pula yang beranggapan bahwa mereka bisa mendapat berkat hanya dengan hadir di gereja, walaupun hati dan pikiran mereka sebenarnya tengah mengembara kemana-mana. Jika mengantuk? Pendeta malah disalahkan. Kotbahnya terlalu seriuslah, membosankanlah, atau ayatnya sudah sering dengarlah, dan sebagainya. Padahal mereka tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sudah membuang kesempatan besar untuk diberkati lewat firman Tuhan, dan untuk bersekutu bersama saudara seiman, bersatu hati memuji dan menyembah Tuhan, merasakan hadirnya Kristus ditengah-tengah jemaat.

Masalah mengantuk nampaknya bukan masalah baru. Setidaknya di jaman pelayanan Paulus kejadian ini sudah terjadi. Kita bisa melihat sebuah kisah mengenai seorang pemuda bernama Eutikhus yang tertidur ketika mendengarkan kotbah Paulus. “Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati.” (Kisah Para Rasul 20:9). Lihatlah kecerobohannya terlelap saat di gereja bukan saja membuatnya kehilangan kesempatan untuk mendapat berkat dari firman Tuhan, tetapi bahkan membawa maut dengan terjatuh tiga tingkat ke bawah. Kita tidak tahu apa yang membuatnya mengantuk. Apakah Paulus terlalu lama berbicara dan membosankan, apakah kotbahnya berulang-ulang, atau Eutikhus terlalu lelah bekerja, kurang tidur dan sebagainya. Tetapi yang jelas ia tertidur, dan efeknya sungguh tragis bagi dirinya. Untunglah Paulus kemudian membangkitkannya kembali, sehingga ia pun mendapatkan sebuah pelajaran berharga dengan terhindar dari maut.

Mungkin bukan dalam bentuk terjatuh dari lantai tiga seperti Eutikhus, tetapi kita harus sadar bahwa membuang kesempatan untuk mendengarkan dan merenungkan firman Tuhan memang bisa membawa kita jatuh ke dalam maut. Perhatikanlah semakin kita menjauh dari Tuhan, maka kita pun akan semakin bertoleransi pula dengan dosa. Hati kita bisa menjadi begitu tawar sehingga sulit membedakan mana yang baik dan buruk. Ya, kita memang bisa belajar, membaca dan merenungkan firman Tuhan di rumah, atau di kelompok-kelompok sel atau persekutuan, tetapi mendengarkan firman Tuhan di gereja lewat pendeta jangan pula kita abaikan. Tuhan sanggup berbicara lewat hambaNya untuk mengingatkan kita. Bagi kita yang mungkin sulit untuk memahami makna yang terkandung di dalam firman Tuhan, maka kotbah pendeta akan sangat membantu karena disampaikan dengan penjelasan bahkan contoh-contoh yang akan sangat aplikatif untuk kehidupan kita. Selain itu ingat pula bahwa kita tidak boleh menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita. “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat” (Ibrani 10:25). Dalam beribadah bersama-sama saudara/i seiman kita akan bisa lebih bersemangat, disana kita bisa pula membangun hubungan yang kokoh, saling menguatkan, menghibur, mengingatkan dan bertolong-tolongan dalam berbagai hal. Dan jangan lupa pula Yesus berkata “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:20).

Persiapkanlah diri dengan baik, kalau perlu sejak sehari sebelumnya agar kita bisa segar ketika datang beribadah ke gereja. Alangkah sayangnya apabila kita membuang kesempatan untuk diberkati lewat firman Tuhan dan bersekutu dengan jemaat lainnya dalam suasana penuh sukacita. Beribadah yang disertai sikap hati yang sungguh-sungguh akan membuat kita terus dipenuhi firman Tuhan yang berkuasa untuk memberi segala kebaikan bagi kita. Apa yang kita hadapi di dunia ini tidaklah ringan, dan untuk itu kita memerlukan kekuatan yang datang dari Tuhan agar mampu berjalan dengan selamat. Firman Tuhan memiliki kuasa untuk itu. Mari persiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk beribadah dan jangan tiru kesalahan yang dilakukan oleh Eutikhus.

Mempersiapkan diri sehari sebelumnya akan membantu kita untuk maksimal dalam beribadah.

Sumber : …

Trims..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: