Pemimpin Yang Bijak (Renungan Harian)

Senin, 3 Desember 2012

oleh: Penginjil Toni Antonius

Hakim-Hakim 8

 

 

Setelah Gideon berhasil mengalahkan pasukan orang Midian yang besar jumlahnya, dia memanggil suku-suku yang lain dari Israel. Suku Efraim marah kepada Gideon karena dia tidak mengajak mereka untuk ikut berperang. Jawaban dari Gideon menenangkan hati mereka dan meredakan amarah mereka kepada Gideon sehingga tidak terjadi perselisihan di antara orang Israel sendiri (ayat 1-3). Gideon tidak menyalahkan suku Efraim, atau membanggakan dirinya sebagai seorang yang berhasil membawa kemenangan bagi Israel. Gideon rela merendahkan diri di depan suku Efraim. Dia mengangkat harga diri suku Efraim dan mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh suku Efraim jauh lebih besar jasanya, kehormatannya daripada apa yang dilakukan oleh Gideon walaupun suku Efraim melakukannya belakangan.

Apa yang dilakukan oleh Gideon mengingatkan saya pada perkataan seorang hamba Tuhan senior. Dia katakan “Jika saya mundur selangkah bisa membuat dunia damai, lebih baik saya mundur selangkah.” Hal ini kiranya menjadi sebuah pemikiran bagi kita, seperti yang dikatakan oleh Paulus “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.” (Rm. 12:18). Memang tidak mudah karena biasanya kita lebih suka menjadi seorang pemenang, seorang yang ada dalam kedudukan lebih tinggi. Apalagi kalau memang kita yang berjasa, kita yang melakukannya tapi orang lain yang mengakuinya dan dia yang mendapatkan pujian.

Yang kedua, ketika bangsa Israel meminta supaya dia dan keturunannya menjadi pemimpin bangsa Israel, Gideon menolak dan mengatakan bahwa Tuhanlah yang menjadi pemimpin bangsa Israel, bukan dirinya atau keturunannya (Hak. 8: 22-23). Hanya memang disayangkan bahwa tindakan Gideon selanjutnya menjadi jerat bagi dia, dan keluarganya (ayat 24-27). Tapi semangat yang dimilikinya patut menjadi contoh. Dia menolak tawaran tersebut karena dia menyadari bahwa memang Tuhanlah yang menjadi pemimpin dari bangsa Israel. Demikian juga dalam kita bergereja, mari kita sama-sama memiliki satu kesepakatan dan kesatuan hati bahwa Tuhan yang memimpin gereja. Kita yang ada di dalamnya merupakan pelayan-pelayan-Nya. Mari kita berbuat lebih baik dari Gideon, kita menjadikan Tuhan sebagai pemimpin dalam gereja, dan hidup kita, serta menyatakannya dalam kehidupan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: