Ketika Meninggal (Renungan Harian)

Rabu, 19 Desember 2012

oleh: Penginjil Toni Antonius

Hakim-Hakim 16

 

Di pasal yang kita baca hari ini, kita melihat bagaimana kesudahan dari kehidupan Simson sebagai hakim memerintah bangsa Israel.

“Yang dibunuhnya pada waktu matinya itu lebih banyak dari pada yang dibunuhnya pada waktu hidupnya.” (ayat 30). Ketika membaca kalimat ini, berbagai macam perasaan timbul dalam hati saya. Satu sisi saya merenungkan kenapa pada saat akhir kehidupan Simson dia baru bisa mencapai sebuah puncak. Kenapa pada waktu mati dia membunuh lebih banyak dibanding pada waktu hidupnya?

Kalau kita melihat ke belakang beberapa pasal yang kita baca mengenai kehidupan Simson sebagai hakim. Dia berperkara dengan orang-orang Filistin bukan karena masalah bangsa Israel tapi karena masalah pribadinya. Ketika teka-tekinya berhasil dijawab orang Filistin (Hak. 14:19), ketika dia membakar kebun-kebun milik orang Filistin (Hak. 15: 3-5), ketika keluarga isterinya di Timna dibakar oleh orang Filistin (Hak. 15: 6-8), ketika dia menghajar orang-orang Filistin dengan rahang keledai (Hak. 15: 14-17), ketika melarikan diri dari Gaza (Hak. 16: 1-3), dan terakhir ketika akhir hidupnya dia membalaskan matanya yang buta (Hak. 16: 28-30). Bisa dikatakan hampir semua kejadian dia berperang dengan orang Filistin adalah karena masalah pribadinya, bukan karena bangsa Israel.

Kalau kita merenungkan, diantara hakim-hakim yang dicatatkan dalam kitab ini, Simson merupakan seorang hakim yang berbeda dengan yang lainnya, kelahirannya dinubuatkan, Tuhan telah memilih dia sejak dalam kandungan, kehidupannya berbeda dengan orang-orang Israel pada umumnya, memiliki kekuatan yang luar biasa. Dengan keunikannya seharusnya dia bisa melakukan lebih, dia bisa mengumpulkan bangsa Israel untuk keluar dari penjajahan Filistin, dia bisa mendapatkan keberhasilan yang lebih dibanding hakim-hakim yang lain.

Tapi dia tidak memaksimalkan apa yang dimilikinya, berpusat pada dirinya sendiri (Hak. 15: 18; 16: 28). Sungguh disayangkan akhirnya hasilnya saat hidup tidak maksimal.

“Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.” (Ef. 4: 7). Paulus mengingatkan bahwa setiap kita diberikan kekhasan, keunikan yang berbada dari yang lainnya. Mari gunakan kemampuan kita dengan semaksimal mungkin untuk pekerjaan Tuhan, bukan hanya untuk kepentingan pribadi kita semata. Kita punya kemampuan berbicara, persembahkan itu kepada Tuhan dalam bentuk pelayanan sebagai pengkhotbah, kita punya kemampuan dalam bidang kesehatan, persembahkan itu dengan memberikan pelayanan kesehatan gratis pada jemaat. Gunakan kemampuan kita dengan maksimal sehingga kita mencapai pencapaian yang maksimal dalam hidup melayani Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: