Apakah Natal Alkitabiah?

Diterjemahkan dari: Is Christmas Biblical?

http://www.tjc.org/showArticle.aspx?aid=7219

Sebentar lagi kemeriahan akan tiba. Banyak rumah yang akan didekorasi dengan karangan bunga holly, mistletoe, dan pohon Natal; pusat perbelanjaan akan dihiasi dengan lampu-lampu Natal dan menggemakan nyanyian-nyanyian Natal; dan kotak-kotak pos akan dipenuhi dengan kartu ucapan. Hampir di seluruh dunia, para pembeli akan memenuhi jalan, memburu kado untuk teman-teman serta orang yang dikasihinya. Anak-anak kecil khususnya, akan mengharap mendapat hadiah dari Santa Claus, sosok bapa baik hati yang konon mengunjungi mereka sekali setahun dengan rusa-rusanya.

Apakah asal mula Natal? Apakah itu memang “Ulang tahun” Kristus?

Banyak orang Kristen percaya perayaan Natal merangkum konsep Tuhan serta kedatangan Kristus – penyelamat umat manusia. Tetapi benarkah kepercayaan ini? Silakan ambil sebuah Alkitab. Carilah bagian yang menyebut Santa Claus, karangan holly, mistletoe, dan pohon Natal. Carilah Yesus atau murid-muridNya merayakan Natal. Carilah perintah Yesus bahwa kita harus memperingati hari kelahirannya. Carilah bukti bahwa Dia dilahirkan tanggal 25 Desember. Tidak ada satu pun yang ditulis dalam Alkitab!

Meskipun penulis Injil mencatatkan kisah kelahiran serta kejadian yang melingkupi kelahiran Tuhan, mereka tidak pernah menyiratkan peristiwa ini harus dirayakan. Tuhan Yesus memberitahukan murid-muridNya untuk memperingati kematianNya dengan mengikuti Perjamuan Kudus, tetapi Ia tak bicara apa-apa soal memperingati kelahiranNya. Demikian pula, tidak ada bukti di Perjanjian Baru bahwa gereja mula-mula pernah merayakan Natal. Jika Tuhan menghendaki kita merayakan ulang tahun Kristus, bukankah Dia akan memerintahkan kita untuk melakukannya dalam Alkitab?

Alkitab tidak mencatat tanggal lahir Kristus. Dan dari kisah kelahiran, Yesus tidak mungkin lahir di musim dingin. Lukas mencatatkan pada malam Dia dilahirkan, “gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.” Di bulan Oktober atau November, hujan musim dingin dan udara dingin mulai merayapi Yudea. Sampai pada saat ini, kawanan ternak akan dibiarkan di padang. Tetapi ketika musim hujan tiba, gembala tidak dapat lagi pergi ke padang sampai bulan-bulan musim dingin berakhir.

Kenyataannya, perayaan Natal dimulai sebelum Kekristenan. Seperti yang dinyatakan Ensiklopedia Britannica, “Budaya Natal adalah evolusi dari waktu ke waktu yang sudah lama mendahului masa Kekristenan – turunan dari perayaan musiman, pagan, praktik pemujaan nasional, dibumbui dengan legenda dan tradisi” (15th ed., s.v. “Christmas”). Beberapa contoh soal ini dituliskan di bawah.

Pada zaman dahulu, banyak orang bergantung pada matahari untuk penerangan, serta panas untuk aktivitas pertanian mereka. Oleh sebab itu, manusia mengamati baik-baik pergerakan tahunan matahari di langit. Ada pemikiran bahwa pesta serta perayaan diselenggarakan pada beberapa waktu dalam setahun untuk membantu matahari bergerak di lintasannya. Di belahan bumi Utara, akhir tahun kalendar menjadi waktu yang sangat penting. Ketika musim dingin tiba, matahari bergerak rendah dan semakin rendah di langit dan siang menjadi pendek. Dapat dikatakan bahwa, matahari meninggalkan bumi. Kemudian pada winter solstice, titik balik itu datang. Matahari mulai kembali. Siang mulai memanjang lagi. Perayaan tangah musim dingin untuk merayakan kelahiran kembali matahari diselenggarakan. Di dunia Roma, hal ini diterjemahkan menjadi perayaan seminggu penuh Saturnalia, yang dimulai sejak 17 Desember, dan diakhiri dengan pesta Brumalia, ulang tahun, atau kelahiran kembali matahari. Pesta tersebut jatuh pada 25 Desember.

Selain itu, ketika Kekaisaran Roma mulai membesar di abad-abad awal, ia juga mengadopsi praktek pagan orang-orang jajahannya. Salah satu contohnya ialah pemujaan dewa matahari Mithra, yang berasal dari Persia, yang ulang tahunnya dirayakan setiap 25 Desember. Ketika dewa ini diperkenalkan di Roma pada awal abad ketiga, dampaknya sangat mempengaruhi pemujaan matahari. Pemujaan diterjemahkan kembali mengikuti filosofi serta gagasan populer pada zaman itu. Tahun 274 M, hal ini dimasukkan dalam pemujaan kekaisaran, ketika Kaisar Aureian menjadikan sol invinctus (“matahari yang tak terkalahkan”) agama negara dan mendirikan perayaan pagan Dies Natalis Sol Invincti, Hari Sang Matahari yang Tak Terkalahkan, pada tanggal 25 Desember.

Tidak ada bukti sejarah yang jelas kapan Kekristenan pertama kali merayakan Natal. Catatan-catatan menunjukkan selama tiga abad pertama Kekristenan, ada perlawanan di gereja-gereja terhadap budaya pagan merayakan ulang tahun. Tetapi pada abad keempat, segalanya berubah. Almanak Roma, Chronograph 354, memuat daftar perayaan-perayaan Kristen dan mencantumkan perayaan kelahiran Kristus. Ini adalah salah satu catatan terawal mengenai Natal. Informasi ini dapat ditulusri ke tulisan yang lebih awal pada tahun 336M, dan oleh sebab itu Natal kelihatannya telah direayakan pada tahun terakhir Kaisar Konstantin.

Pada akhir abad keempat, dunia Kristen merayakan Natal. 25 Desember menjadi hari yang dipilih untuk perayaan tersebut (dengan pengecualian gereja-gereja Timur, yang merayakannya pada tanggal 6 Januari). Mungkin gereja pada masa itu hendak mengubah perayaan musim dingin pagan menjadi hari pengagungan Kristus. Kemungkinan lain adalah, ini merupakan salah satu bagi orang-orang Kristen masa itu untuk semakin erat kepada Tuhan, yang adalah terang serta matahari, dan 25 Desember dipilih sebagai antitesis kepada perayaan pagan Roma.

Tentang Pohon Natal, Mistletoe, dan St. Nick Tua

Bagaimana dengan hiasan Natal? Pohon Natal yang terkenal barangkali memiliki akar di drama misteri Jerman abad pertengahan, ketika sebatang pohon, paradeisbaum (pohon firdaus), digunakan untuk melambangkan taman Eden. Kemudian, ketika drama-drama ini dihalang-halangi, pohon-pohon disimpan di dalam rumah, dan perlahan-lahan, muncullah budaya menghiasinya dengan kue, buah, dan lilin. Beberapa sumber juga menelusuri pohon Natal ke pemujaan pohon di Mesir serta Roma kuno.

Penggunaan pohon-selalu-hijau untuk menghiasi rumah juga dihubungkan dengan kepercayaan pagan. Karena pohon semacam ini bertahan di musim dingin, mereka dipakai sebagai lambang kehidupan abadi, dan menjadi objek pemujaan. Druid Inggris (orang Celt kuno) percaya mistletoe memiliki kekuatan ajaib dan menganggap tanaman parasit ini suci. Bagi orang Roma, ini adalah simbol kedamaian, dan mereka percaya ketika musuh-musuh dipertemukan di bawahnya, senjata-senjata akan ditanggalkan dan genjatan senjata diumumkan. Sedangkan holly Natal, legenda mengatakan mahkota duri Kristus dibuat dari daun holly, maka dimulailah budaya karangan bunga Natal. Bentuknya yang bundar juga melambangkan lingkaran matahari.

Batang yule barangkali memiliki akar pada upacara Druid membakar batang-batang yang dipilih hati-hati. Kata yule berasal dari kata Anglo-Saxon kuno hweol, berarti “roda”, lambang matahari kaum pagan.

Dan kemudian, tentu saja, masih ada Santa Claus. Dia pun berasal dari perayaan yang tidak ada hubungannya dengan iman Kristen. Satu unsur yang penting dari perayaan-perayaan pagan kuno adalah adanya roh baik dan jahat. Di banyak tempat, pengunjung-pengunjung mistis semacam itu muncu; mencampur legenda pagan dengan kisah-kisah tradisional tentang orang-orang suci. Salah satu pengunjung musim dingin semacam itu terkenal di berbagai negara sebagai Santa Claus, Bapa Natal, St. Nicholas, St. Martin, Weihnachtsmann, atau Pere Noel. Meskipun mereka dikenal dengan berbagai nama, peran mereka serupa – memberikan hadiah dan hukuman bagi orang-orang yang merayakannya.

Selama bertahun-tahun, banyak budaya Natal yang berkembang di sekitar perayaan Natal. Beberapa di antaranya universal; yang lain hanya khusus di suatu tempat. Walaupun begitu, mereka semua memiliki kesamaan. Tidak ada di antaranya yang alkitabiah, karena Natal sendiri tidak alkitabiah. Ia berawal dari kepercayaan pagan dan takhayul dibanding perkataan Tuhan, Alkitab. Sebagai pengikut Kristus, apa kita harus memperhatikan perayaan yang tidak disebutkan dalam Alkitab? Lebih buruk lagi, apakah kita harus merayakan sesuatu yang memiliki akarnya dalam pemujaan pagan? Jauh dari berbakti menanti kedatangan Tuhan, tindakan kita mungkin malah membangkitkan amarahNya.

Akhirnya, kita mungkin mau mengambil jalan tengah dan berpendapat bahwa kita tidak merayakan Natal sebagai perayaan keagamaan. Melainkan, kita hanya merayakan musim damai serta perbuatan baik. Tetapi amati baik-baik bagaimana masyarakat merayakan Natal sekarang.

Dari sekian banyak waktu dalam setahun, Natal selalu menjadi salah satu waktu berpesta pora. Ini adalah kesempatan makan dan minum berlebihan, yang bahkan bertentangan dengan firman Tuhan. Ini juga waktu di mana mabuk-mabukan menyebar luas sampai tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang disebabkan pengemudi mabuk menghasilkan kampanye tahunan “Don’t Drink and Drive”. Di berbagai daerah, angka kejahatan pada masa ini adalah yang paling tinggi. Statistik menunjukkan ada lebih banyak pembunuhan serta perampokan yang dilakukan sekitar waktu ini dibandingkan waktu-waktu lain.

Ironis sekali orang-orang mengambil bagian dalam tindakan yang dilarang Alkitab pada masa yang diakui sebagai waktu damai dan perbuatan baik. Dasar apa yang kita pakai untuk mengatakan kita sebenarnya merayakan masa damai dan perbuatan baik? Argumen untuk merayakan Natal yang ini juga tidak benar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: