Apakah Anda Memiliki Pengharapan?

Anda boleh menjawab pertanyaan diatas dengan kata “Ya”. Yang harus Anda pikirkan adalah apakah memang sungguh memiliki pengharapan? Jangan-jangan kita hanya “menyangka” memiliki pengharapan!

Dunia yang kita huni bukanlah tempat kekal. Suatu saat nanti, dunia ini akan dibinasakan beserta dengan isinya, termasuk saya dan Anda, tanpa terkecuali. Sehingga, segala sesuatu yang kita banggakan sekarang ini hanya bersifat sementara, memudahkan dan membantu kita sesaat saja dan ada saatnya semua yang kita miliki tidak berguna. Saat kita sedang sekarat, menanti maut.

Apa yang dapat membantu kita keluar dari keadaan sekarat itu? Tidak ada. Dalam catatan Alkitab, sedikitnya ada 2 orang yang tidak pernah merasakan sekarat dan maut, yaitu Henok dan Elia. Selanjutnya, semua orang akan berhadapan dengan kematian. Dan kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi. Tinggal tunggu waktu saja. Saat kematian tiba, semua yang kita sebut kebanggaan, kebesaran, kekayaan dan status menjadi tidak berarti. Semua orang sama di hadapan kematian.

Meskipun tidak ada yang dapat membantu kita menghadapi kematian bukan berarti kematian adalah sesuatu yang menakutkan. Ada sebagian kecil orang, yang menampakan kesabaran dan ketenangan yang luar biasa dalam menghadapi kematian. Ketakutan menghadapi kematian tidak nampak. Mengapa? Karena mereka percaya  bahwa kematian adalah sebuah proses menuju kehidupan lain.

Dengan kepercayaan bahwa ada kehidupan setelah kematian membuat mereka bertindak dan bertingkah laku luar biasa. Mereka menunjukan perbuatan-perbuatan iman. Karena mereka memahami bahwa kehidupan setelah kematian tidak membutuhkan materi, kekayaan, status social melainkan iman yang nampak dari perbuatan semasa kita hidup.

Mereka yang memahaminya berusaha mengejar perbuatan-perbuatan iman. Mereka melebarkan sayap kasih dan terbang dalam langit kebenaran. Hingga teladan iman mereka bersinar seperti bintang. Saat kaki mereka mendarat di Tanah Perjanjian, mereka akan tersenyum bangga, karena mereka mendapatkan yang telah mereka harapkan.

Pengharapan mereka bukanlah isapan jempol melainkan sesuatu yang pasti sama seperti kematian yang adalah pasti.

Saat kita sampai pada kesimpulan ini, mari kita renungkan bersama-sama, apakah yang kita lakukan sudah benar dan sesuai dengan iman kita? Apakah kita sudah cukup puas dengan perbuatan iman kita?

Mulailah dengan menjawab, ada berapa banyak perintah Tuhan yang kita ketahui? Dan berapa banyak yang kita abaikan?

Oleh: Onesimus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: