Dimanakah Engkau SahabatKu?

Apakah Anda memiliki sahabat yang telah banyak membantu kita dan tampak secara nyata kasihnya kepada kita tanpa memikirkan balas budi? Jika anda memilikinya maka Anda dapat dikatakan sebagai orang yang beruntung. Tidak ada keberuntungan yang lebih indah daripada memiliki sahabat yang lebih karib daripada saudara.

Meskipun seorang sahabat tidak pernah memikirkan balas budi bukan berarti hubungan tersebut tidak ada timbal balik. Jika kita terlalu membebankan sahabat kita maka sudah pasti hubungan itu menjadi tidak seimbang. Dengan berjalannya waktu, sahabat itu pasti akan merasakan ketidakseimbangan yang ada.

Dan bukan berarti bahwa kebaikan sahabat dibayar dengan kebaikan serupa. Bisa jadi kita membayar atau mengganti kebaikan sahabat kita dengan bentuk yang lain. Misalkan kita membalasnya dengan perhatian, dengan support untuk kegiatannya atau hal-hal lain,

Kadangkala, hubungan persahabatan jauh lebih langgeng kalau tidak ada urusan uang di dalamnya. Dan hubungan yang sama-sama saling membangun menjadi potret idealis hubungan persahabatan.

Dan yang menarik adalah hubungan persahabatan akan terasa semakin erat jika seluruh orang yang terlibat di dalamnya memiliki pengakuan yang sama. Dia adalah sahabat Anda dan Anda adalah sahabatnya.

Jika seorang sahabat yang Anda kasihi sedang berada dalam kesulitan, dengan kesungguhan, Anda akan segera menolongnya. Jika Anda memiliki keterbatasan dalam menolongnya, paling tidak Anda akan bersimpati dan membantu sesuai kemampuan Anda. Jika Anda hanya berpangku tangan dan tidak berbuat apa-apa maka hubungan itu akan punah dalam sekejap. Itulah konsep yang benar dalam persahabatan.

Konsep yang sama dituangkan oleh Tuhan Yesus kepada kita saat Dia membangun hubungan antara Dia dengan umatNya. Yaitu hubungan persahabatan. Tuhan Yesus menyatakan bahwa Dia adalah sahabat kita, sahabat orang berdosa.

Sebagai Sahabat, Tuhan Yesus sudah banyak bertindak untuk membantu kita. Semua yang ada dalam hidup kita adalah berkat kasih karunia-Nya. Dan karena kebaikanNya kita memperoleh hidup. Dia berjanji akan mendampingi kita sampai pada kesudahan. Dia adalah Sahabat yang ajaib.

Jika kita setuju mengaku bahwa Tuhan Yesus adalah Sahabat kita maka sudah sepantasnya kita mulai berfikir, apakah hubungan kita dengan Tuhan Yesus adalah hubungan yang seimbang dalam persabahatan? Jika kita merasa belum seimbang, maka pertanyaan lanjutannya juga harus kita jawab, apa usaha kita supaya hubungan tersebut seimbang?

Mungkin kita berfikir bahwa Tuhan tidak membutuhkan apapun dari kita. Dan saya setuju dengan pemikiran tersebut. Yang dikhawatirkan adalah pemikiran bahwa Tuhan tidak membutuhkan apapun dari kita memicu kita untuk tidak berbuat apa-apa. Dan ini adalah salah.

Yang benar adalah hubungan dengan Tuhan Yesus dimulai jawaban atas pertanyaan ini: “bagaimana caranya menyenangkan hati Tuhan Yesus?”. Jika kita sudah mendapatkan jawaban ini maka sudah sepantasnya hal itu dikerjakan dan lebih giat dikerjakan. Baik secara kualitas maupun secara kuantitas. Dengan cara demikian maka kita sedang berusaha menyeimbangkan hubungan persahabatan kita dengan Tuhan.

Kesimpulannya, Tuhan tidak membutuhkan materi dari kita. Yang dilihat oleh Tuhan adalah hati kita, sikap hidup kita dan pelayanan kita kepada sesama dan gerejaNya.

oleh: Onesimus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: