Salahkah Pilihanku?

Minggu, 17 Maret 2013

oleh: Penginjil Toni Antonius

Hakim-Hakim 19

 

Setelah tiga bulan lebih terhenti akhirnya saya bisa melanjutkan pembacaan Alkitab kita. Semoga di waktu-waktu ke depan kita bisa lebih lancar membaca Alkitab kita sehingga pemahaman kita akan kehendak Tuhan bisa semakin bertambah.

“Salahkah pilihanku?” Pertanyaan ini muncul di benak kita ketika kita sudah memilih dan melakukan pilihan kita, tapi kemudian akibat yang timbul dari pilihan kita kelihatannya tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Hal ini mungkin timbul dalam pemikiran orang Lewi yang diceritakan dalam pasal 19 kitab Hakim-Hakim ini. Kisahnya diawali dengan keputusan dia untuk mengambil kembali gundiknya yang telah berlaku serong dan pergi meninggalkan dia pulang ke rumah ayahnya (ayat 1-3). Kemudian kisah kehidupan orang Lewi ini berlanjut dengan akhirnya dia memilih untuk pulang setelah lima hari tertahan walaupun waktu itu hari sudah mulai petang (ayat 4-10). Orang Lewi ini ketika sedang dalam perjalanan pulang memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya sampai ke kota orang Israel yang terdekat walaupun sebenarnya kota Yebus lebih dulu dijumpainya dan dia bisa beristirahat di sana. Tapi ternyata setelah dia sampai di Gibea, kota orang Benyamin, tidak ada seorangpun yang mengajaknya untuk menginap di rumah mereka sehingga orang Lewi ini memutuskan untuk tidur di tanah lapang kota (ayat 11-15). Dari sudut pandang orang Lewi ini, dia merasa lebih baik tinggal bersama dengan orang-orang sebangsa, yang sama-sama merupakan umat pilihan dari pada tinggal di kota bangsa asing. Tapi ternyata, orang-orang sebangsanya, tidak memberikan respon yang positif. Yang mengajaknya untuk menginap di rumah ternyata juga merupakan seorang pendatang yang tinggal di Gibea, artinya dia bukan orang Benyamin (ayat 16, 20-21). Orang-orang Benyamin di kota Gibea malah bermaksud memperkosanya sehingga orang Lewi ini kemudian memberikan gundiknya kepada orang-orang kota. Mungkin peristiwa itu tidak akan terjadi kalau orang Lewi ini memutuskan untuk menginap di kota Yebus.

Mari kita memposisikan diri dengan baik melihat harapan dari orang Lewi ini. Dia memilih melanjutkan perjalanan walaupun sebenarnya sudah waktunya beristirahat, sudah ada kota yang bisa disinggahi. Dia memilih untuk menginap di kota orang Israel karena yang tinggal di kota Yebus merupakan orang Yebus, bukan orang Israel. Ternyata orang-orang Israel di kota Gibea bertindak lebih rendah dari orang-orang bangsa lain. Apakah sikap kita terhadap saudara-saudari seiman sama seperti sikap orang-orang Benyamin itu terhadap saudaranya, orang Lewi? Kita yang merupakan umat Tuhan, menerima kasih Tuhan bisa bertindak dengan hati yang dingin bahkan lebih buruk dari orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Apakah karena tindakan kita terhadap saudara-saudari seiman akhirnya membuat mereka berpikir “Apakah saya salah memilih menjadi orang Kristen? Apakah saya salah memilih gereja?” Atau tindakan kita membuat mereka berpikir “Saya memilih dengan tepat. Ini merupakan gereja sejati milik Tuhan Yesus.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: