Solidaritas Yang Salah

Senin, 18 Maret 2013

oleh: Penginjil Toni Antonius

Hakim-Hakim 20

 Setelah orang Lewi itu menuntut keadilan kepada orang-orang Israel yang lain, berkumpullah seluruh suku orang Israel di Mizpa untuk mendengarkan perkara yang dialami oleh orang Lewi tersebut di kota Gibea. Akhirnya mereka memutuskan untuk menghukum orang Benyamin di Gibea. Ketika mereka meminta kepada suku Benyamin untuk menyerahkan orang-orang Gibea, suku Benyamin menolaknya bahkan mereka berkumpul di Gibea bersiap untuk berperang. Mereka bertekad untuk membela orang-orang Gibea, sehingga akhirnya terjadilah perang saudara di antara orang-orang Israel.

Saya ingat ketika kuliah di Teknik Mesin, kami, anak-anak teknik mesin memiliki semboyan “Solidarity Forever”. Kita maju sama-sama, menangis sama-sama, tertawa bersama-sama. Saat masa-masa orientasi kampus, kami sama-sama berjuang dan saling membela. Perasaan solidaritas ini sangat kuat terutama di kalangan anak-anak SMA, kuliah. Tawuran-tawuran yang marak terjadi kebanyakan didorong oleh rasa solidaritas karena temannya. Orang-orang Benyamin membela saudara mereka di Gibea karena rasa solidaritas tersebut, mereka sama-sama satu suku.

Kadang keadaan solidaritas yang salah ini pun ada dalam gereja. Karena dia teman dekat kita, keluarganya mempunyai peranan yang sangat besar dalam gereja, kita memberikan kelonggaran, perlakuan yang spesial, membela dia walaupun sebenarnya dia ada dalam posisi yang salah.

Di sisi lain, ketika membaca pasal ini saya bertanya-tanya, kenapa suku-suku Israel yang lain sampai beberapa kali mengalami kekalahan baru mereka berhasil mengalahkan suku Benyamin padahal Tuhan ada di pihak mereka (ayat 17-35)? Kira-kira apa yang mereka rasakan setelah mereka bertanya pada Tuhan ternyata mereka mengalami kekalahan? Dua kali berturut-turut bertanya pada Tuhan, dua kali berturut-turut mengalami kekalahan. Tapi mereka tidak menyerah, untuk ketiga kalinya mereka tetap menghadap Tuhan dan bertanya kepada-Nya.

Satu hal yang bisa kita pelajari di sini bagaimana Tuhan membangun iman dari orang-orang Israel. Bagaimana suku-suku Israel berusaha menegakkan kebenaran bagi Tuhan. Yang mereka hadapi adalah saudara mereka sendiri, orang Benyamin, yang ahli dalam berperang terutama peperangan jarak jauh, mereka memiliki kemampuan yang luar biasa, bisa berperang dengan tangan kidal, memiliki ketepatan dalam mengumban.

Membela kebenaran bukanlah sebuah usaha yang mudah, bisa jadi kita harus jatuh bangun untuk memperoleh kemenangan, tapi satu hal yang kita pegang bahwa selama Tuhan Yesus bersama kita, tidak perlu takut untuk mengalami kekalahan, terus berusaha dan berjuang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: