Kesalahan Menegakkan Kebenaran

Selasa, 19 Maret 2013

oleh: Penginjil Toni Antonius

Hakim-Hakim 21

 

Akhirnya kita sampai pada pasala terakhir dari Hakim-Hakim ini. Kita telah membaca bagaimana para hakim memimpin bangsa Israel, bagaimana keadaan moral orang-orang Israel, dan dalam pasal ini kita melihat bagaimana bangsa Israel bertindak dengan akal mereka untuk mempertahankan supaya suku Benyamin tetap ada di antara bangsa Israel.

Kesulitan ini diawali dengan sumpah bangsa Israel ketika mereka berkumpul di Mizpa (ayat 1), sumpah yang diucapkan karena hati sedang terbakar amarah mendengar kebejatan orang-orang di kota Gibea.

Hal ini mengingatkan kepada kita mengenai menjaga perkataan. Sering kali perkataan yang kita ucapkan dipengaruhi oleh bagaimana perasaan hati kita. Ketika kita marah, kecewa, pada seseorang, mudah bagi kita untuk mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati dari orang tersebut padahal mungkin sudah banyak kebaikan yang kita rasakan yang dilakukan oleh orang tersebut. Penatua Yakobus mengingatkan bahwa lidah itu seperti kemudi kapal yang bisa menggerakkan kapal yang besar, seperti api yang kecil yang bisa membakar hutan besar (Yak. 3: 3-5).

Beberapa waktu yang lalu dalam sebuah wawancara untuk jabatan hakim agung, seorang calon hakim agung mengucapkan kata-kata yang sebenarnya merupakan candaan untuk menghilangkan ketegangan yang dia rasakan. Tapi perkataan yang merupakan candaan itu berbuntut panjang sampai-sampai walaupun dia sudah meminta maaf di berbagai stasiun televisi, candaan yang dia ucapkan memberikan pengaruh pada penilaian kelayakannya sebagai seorang calon hakim agung. Setiap perkataan yang kita ucapkan pasti memberikan bekas di hati dari pendengarnya. Bagaimanapun cara dan usaha kita untuk menghapus, bekas itu akan tetap ada di hati.

Selanjutnya untuk menjaga supaya suku Benyamin tidak musnah, suku-suku Israel yang lain menyerang penduduk Yabesh-Gilead dan membunuh semuanya kecuali perempuan-perempuan muda yang belum pernah berhubungan dengan laki-laki (ayat 8-12). Untuk memegang perkataan mereka, untuk menolong saudara-saudara mereka dari suku Benyamin mereka menyerang orang-orang Yabesh-Gilead padahal mereka juga merupakan saudara-saudara sendiri. Yang mereka lakukan adalah mengorbankan saudara mereka untuk menolong saudara mereka dengan jalan mereka sendiri tidak mengalami kerugian. Mereka tidak memohon ampun atas perkataan mereka di Mizpa, mereka tidak meminta petunjuk Tuhan bagaimana cara menyelesaikan permasalahan tersebut.

Bisa jadi kita mengalami keadaan yang sama dengan orang-orang Israel. Menolong saudara dengan mengorbankan saudara, menyelesaikan permasalahan di gereja dengan akal sendiri tanpa meminta petunjuk Tuhan. Tuhan memiliki hikmat yang lebih dari kita, mintalah petunjuk kepada-Nya dan jangan malu untuk mengakui kesalahan yang kita lakukan. Menegakkan kebenaran dengan cara yang salah tidak diperkenan oleh Tuhan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: