Doa Hana

Rabu, 20 Maret 2013

oleh: Penginjil Toni Antonius

1 Samuel 1

 

Puji Tuhan hari ini kita mulai membaca kitab yang baru yaitu kitab 1 Samuel. Kitab Samuel ini diawali dengan menceritakan latar belakang dari kelahiran Samuel, seorang nabi besar yang akan memberikan pengaruh pada kehidupan bangsa Israel. Samuel bisa terlahirkan ke dunia karena permohonan dari Hana, ibunya, kepada Tuhan. Hana awalnya mengalami kemandulan dan karena kemandulannya itu, Penina, dari waktu ke waktu menghina dirinya. Dengan sedih hati Hana memanjatkan doa kepada Tuhan (1 Sam. 1:10-11).

Kalau kita memperhatikan doa Hana ini, kita bisa melihat bagaimana dalam kesedihannya dia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri tapi tetap memikirkan keadaan dari iman Israel. Dia tidak kuatir bahwa mungkin hanya anak itu yang akan menjadi satu-satunya anak yang lahir dari rahimnya. Dia tahu sepenuhnya bahwa imam-imam pada waktu itu, Hofni dan Pinehas, bertindak jahat di hadapan Tuhan (1 Sam. 2:12-13), sementara Eli sebagai imam besar tidak bertindak tegas atas pelanggaran dari anak-anaknya (1 Sam. 2: 22-25), dan hal itu bukanlah sebuah contoh yang sehat dalam kehidupan keagamaan.

Kita coba bayangkan dalam keadaan keagamaan seperti itu mungkin kita akan berpikir ribuan kali untuk memasukkan anak kita ke dalam lingkungan tersebut. Ada banyak nazar yang bisa diucapkan Hana dalam doanya, tapi dia dengan iman menazarkan bahwa anak yang akan dilahirkannya itu dipersembahkan untuk melayani di rumah Tuhan seumur hidupnya. Dia tidak takut anaknya akan tumbuh besar terpengaruh oleh kedurjanaan imam-imam itu. Dia yakin bahwa Tuhan akan menjaga anak itu kelak. Dalam doa Hana kita bisa melihat iman Hana yang menyerahkan keluh kesahnya pada Tuhan, iman Hana dalam menyerahkan anaknya kelak kepada Tuhan bahwa Tuhan akan menjaga dan menuntun jalan anak tersebut, dan perhatian Hana kepada Kemah Suci, kepada kehidupan keagamaan orang Israel.

Ketika kesedihan menerpa diri kita, biasanya yang terpikirkan adalah bagaimana kita bisa keluar, terbebas dari kesedihan tersebut. Kita memusatkan pikiran pada diri kita. Hana mengajarkan kita untuk memusatkan kehidupan pada Tuhan, bukan pada dirinya sendiri. Dia mau memberikan sesuatu yang paling berharga, yang sangat dia nanti-nantikan dari sejak menikah, sesuatu yang bisa membuat dia menang dari orang yang selama ini menghina dan menekan dirinya.

Apakah dalam kesedihan kita masih bisa memberikan sesuatu yang sangat berharga kepada Tuhan, kepada gereja? Inilah sebuah kedewasaan iman yang berusaha kita kejar dalam hidup kerohanian kita.

Kedua apakah iman kita kuat ketika kita memanjatkan doa kepada Tuhan? Apakah kita percaya bahwa Tuhan mendengarkan doa kita? Atau doa kita hanya sekedar ucapan bibir dimana setelah kita berdoa, kita kembali menggunakan logika untuk menyelesaikan masalah kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: