Pilihan Sang Janda

Sumber: http://www.tjc.org/devotional/showDev.aspx?aid=0181

Tetapi Elia berkata kepadanya: “Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu.
1 Raja-raja 17:13

Inilah waktu paling sulit bagi janda Sarfat. Yang tersisa dalam rumah miskinnya hanyalah seggenggam tepung dan sedikit minyak untuk membuat makanan terakhir sebelum ia dan putranya meninggal. Pada saat ini, Elia meminta sang janda membuatkan roti untuknya terlebih dulu, dan kemudian baru untuk keluarga sang janda.

Dalam keadaan ekonomi yang merosot dewasa ini, kita menghadapi dilema serupa dengan sang janda. Di Amerika Serikat ada 12 juta orang pengangguran, banyak orang berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Jika kita lulusan baru, kita mungkin telah mengirim ratusan – atau bahkan ribuan – surat lamaran untuk mencari pekerjaan. Dan jika kita cukup beruntung mendapat kerja, kita mungkin sering lembur dalam ketakutan akan dipecat. Seperti sang janda, kita sering menemukan diri dalam pilihan: Apa kita menggunakan waktu-waktu berharga ini untuk melayani Tuhan lebih dahulu di gereja? Atau apakah kita lebih dulu berjuang sekeras mungkin untuk bertahan hidup?

Tampaknya, lebih masuk akal menempatkan kepentingan kita terlebih dulu. Bagaimanapun, kebutuhan-kebutuhan kita jelas mendesak. Kita punya tagihan-tagihan yang harus dibayar, mulut-mulut yang harus diberi makan; kemiskinan sudah mengetuk di depan pintu.

Tetapi janda Sarfat memilih untuk menempatkan Tuhan terlebih dulu dan dirinya kemudian. Hasilnya? Dia dapat melayani Tuhan dan punya cukup makanan untuk dirinya serta anaknya sampai masa kekeringan usai.

Sama seperti itu, ketika kita diminta melayani di gereja, baiklah kita juga memiliki iman untuk memprioritaskan Tuhan daripada kekhawatiran kita. Ini bukan pilihan mudah. Dengan kekuatan mental yang telah terkikis oleh tekanan mencari kerja, lebih mudah bagi kita untuk ragu dan enggan saat diminta terlibat pelayanan. Kita bahkan dapat merasa tidak ada yang peduli pada kesulitan kita. Tetapi  Tuhan memelihara janda dan janjiNya tetap bagi kita sampai sekarang. Jika kita menempatkan Tuhan terlebih dulu, kita akan menyaksikan kemuliaan Tuhan dalam kehidupan kita – “Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.”

Renungan

  1.  Apakah kita menggunakan waktu yang berharga ini untuk melayani Tuhan lebih dulu di gereja atau untuk diri kita sendiri?
  2. Apakah kita memiliki iman bahwa Tuhan akan memelihara jika kita terlebih dulu mencari kerajaanNya dan kebenaran?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: