Kembali untuk Memuliakan Tuhan

Sumber: http://ia.tjc.org/elibrary/ContentDetail.aspx?ItemID=26732&langid=1

 

Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepadaNya. Orang itu adalah seorang Samaria.
Lukas 17:15-16

 

Ketika melewati Samaria, yesus bertemu 10 orang kusta yang diasingkan oleh masyarakat. Dengan iman, orang-orang itu berseru-seru pada Yesus dan secara ajaib disembuhkan setelah menaati perintah Yesus untuk memperlihatkan diri mereka pada imam-imam. Namun, kecuali satu, sembilan orang kusta yang telah disembuhkan pergi begitu saja, tidak pernah melihat atau bicara kepada Yesus lagi.

Sembilan orang kusta ini gagal mengerti, bahwa mengesampingkan perseteruan sosial antara Yahudi dan Samaria, Yesus telah bermurah hati menyembuhkan mereka. Walaupun mereka memiliki iman untuk berseru dan bertindak menurut perintah Yesus, iman mereka belum cukup dewasa untuk berterima kasih – untuk digerakkan oleh kasih Yesus dan memuliakan Tuhan dengan hati bersyukur.

Ketika pencobaan-pencobaan menghadang, kita juga berseru pada Tuhan dengan iman. Tetapi ketika kasih Tuhan mengubah kedukaan kita menjadi sukacita seperti orang-orang kusta yang disembuhkan itu, kita barangkali juga melupakan Dia yang menyembuhkan atau membawa kita melewati permasalahan. Kita hanya terus melanjutkan hidup, dan sayang sekali lupa berterima kasih dan memuliakan Yesus untuk pertolonganNya.

Kekuatan iman kita tidak hanya terlihat saat kita mencari pertolongan Tuhan, tetapi juga ketika kita kembali padaNya dan berterima kasih karena telah memimpin kita melewati pencobaan. Sama seperti satu orang kusta yang disembuhkan, yang tidak hanya berseru pada Tuhan dengan iman, tetapi juga kembali memuliakan Tuhan ketika disembuhkan.

Dari hidup sebagai orang terbuang di masyarakat, si orang kusta kini dapat merasakan hidup yang terberkati. Yesus memberinya arti kehidupan baru – hidup untuk Yesus sebagai saksi anugerah penyelamatanNya. Bagaimana mungkin dia tidak kembali bersyukur padaNya? Demikian juga, jika kita tahu bagaimana mencari pertolongan Yesus dalam pencobaan, kita juga harus kembali untuk berterima kasih atas kasih karuniaNya ketika pencobaan-pencobaan berlalu, dan hidup untuk memuliakan Tuhan.

 

Pertanyaan untuk Renungan

  1. Ketika Tuhan menolong kita dalam waktu-waktu sulit, apakah kita kembali untuk berterima kasih dan memuliakan Dia?
  2. Apakah kita berpikir iman kita kuat hanya karena kita mencari pertolongan Tuhan? Bagaimana Dia ingin iman kita menjadi dewasa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: