Telah Lenyap Kemuliaan Dari Israel


oleh: Penginjil Toni Antonius

1 Samuel 4

 Pada pasal ini kita melihat bagaimana Tabut Perjanjian Tuhan dirampas oleh bangsa Filistin padahal bangsa Israel memiliki sebuah harapan besar untuk memenangkan peperangan dengan membawa Tabut Perjanjian ke medan peperangan. Akan tetapi ternyata mereka malah mengalami kekalahan yang lebih besar lagi (1 Sam. 4:2, 10-11). Kekalahan ini mengakibatkan sebuah perkataan yang terkenal dari menantu Imam Eli yaitu “telah lenyap kemuliaan dari Israel.” Kenapa kemuliaan itu bisa lenyap dari Israel? Mari kita sama-sama lihat beberapa alasan yang menyebabkan hal itu terjadi:

Bangsa Israel menganggap tabut perjanjian Tuhan itu merupakan Tuhan mereka (1 Sam. 4: 3-5)

Bangsa Israel telah kehilangan pandangan yang benar mengenai Allah. Mereka menganggap tabut perjanjian itu sebagai allah mereka dan membawa tabut itu ke medan perang seperti kebiasaan yang dilakukan oleh bangsa Filistin (2 Sam. 5: 20-21).

Dalam kehidupan kita, hal ini bisa saja terjadi tanpa kita sadari. Film-film yang kita tonton seringkali memberikan sebuah pandangan yang salah, terutama film-film horor. Dalam film-film kebanyakan digambarkan bagaimana setan-setan ketakutan terhadap salib, alkitab. Ketika tokoh dalam film tersebut mengacungkan salib atau Alkitab, setan-setan itu berteriak-teriak kesakitan. Kadang karena sering melihat hal tersebut, tertanam pula dalam pikiran kita bahwa buku Alkitab atau salib itu memiliki kekuatan dan kita mengkultuskannya. Padahal kalau kita lihat, iblis ketika menggoda Hawa dan Yesus menggunakan ayat-ayat dalam Alkitab (Kej. 3: 1; Mat. 4: 6).

Paulus mengingatkan kita untuk tetap berpegang pada perkataan yang sehat yaitu perkataan Yesus Kristus (1 Tim. 6: 2b-3), dan tidak terpengaruh dengan tradisi-tradisi yang berlaku (1 Tim. 4: 7).

Tidak ada wibawa dari pemimpin (1 Sam. 4: 13, 18)

Eli merupakan seorang imam besar, dan juga seorang hakim. Dia merupakan pemimpin dari bangsa Israel. Dia menunggu tabut perjanjian dengan hati berdebar-debar di perkemahan. Melihat keadaan ini, dia tahu bahwa apa yang dilakukan oleh orang-orang Israel merupakan hal yang salah, tapi dia tidak bisa mencegah hal tersebut karena orang Israel tidak mendengarkan perintahnya. Tidak ada lagi kewibawaan Tuhan  dalam diri Eli sebagai seorang pemimpin. Hal ini kita bisa lihat dalam 1 Samuel 3:1 dikatakan bahwa firman Tuhan jarang dan penglihatan tidak sering. Imam Eli sangat jarang mendapat firman Tuhan, tidak ada kuasa dalam dirinya, selain itu dia tidak melakukan apa-apa ketika anak-anaknya berbuat dursila. Ketika kita menjadi pemimpin dalam keluarga, dalam kelompok sel, dalam gereja apakah kita memiliki wibawa Tuhan? Wibawa dari Tuhan ini kita bisa dapatkan dengan kedekatan kita pada Tuhan, teladan nyata dalam perbuatan yang kita lakukan dalam kehidupan.

Jangan sampai dua hal yang terjadi pada bangsa Israel ini terjadi dalam kehidupan kita. Mari periksa dan uji diri kita setiap harinya, apakah kita tetap ada dalam ajaran sehat Yesus Kristus dan memiliki penyertaan Tuhan dalam hidup kita atau tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: