Ketika Meninggalkan Tuhan

oleh: Penginjil Toni Antonius

1 Samuel 7

 

Dua puluh tahun berlalu setelah tabut perjanjian Tuhan kembali dari tanah orang Filistin. Selama dua puluh tahun lamanya tabut perjanjian tersebut tinggal di rumah Eleazar di Kiryat Yearim dan orang-orang Israel tidak berusaha membawanya kembali ke Silo. Sebaliknya selama dua puluh tahun mereka beribadah kepada para allah asing dan para Asytoret. Selama dua puluh tahun itu juga bangsa Israel hidup dalam ketakutan terhadap orang Filistin.

Padahal kalau kita renungkan, tabut perjanjian tersebut pulang ke tanah Israel dengan sebuah mujizat, tanpa diantar oleh orang Filistin dan kembali dengan benjol-benjol emas yang merupakan persembahan orang Filistin bagi Tuhan. Tapi bangsa Israel tidak melihat hal tersebut dan mereka malah menyembah para allah asing yang mati, tidak bisa melakukan apa-apa.

Kadang kala tindakan bangsa Israel ini kita lakukan. Kita mengetahui kekuatan Tuhan, tapi kita tetap tidak mau mendekat kepada-Nya dan berkeras dengan jalan dan pendirian kita. Mencari hal-hal lain seperti pemuasan hawa nafsu, pesta pora, kemabukan, dan hal-hal lain. Kehidupan kita bukannya membaik, tapi kita terus dihantui ketakutan, kekuatiran-kekuatiran dalam hidup.

Sebuah perbedaan hidup terlihat dengan nyata ketika bangsa Israel mau mengikuti apa yang diperintahkan oleh Samuel. Mereka meninggalkan para allah dan para Asytoret, menyembah hanya kepada TUHAN. Akhirnya mereka mengalami kemenangan dari orang Filistin dan berhasil mengambil kembali kota-kota yang tadinya telah direbut oleh orang Filistin. Selain itu juga ada perdamaian dengan orang Amori.

Inilah sebuah keadaan yang pasti terjadi dalam kehidupan kita jika kita mau kembali hidup di hadapan Tuhan. Hanya masalah yang sering terjadi adalah kita takut untuk menyerahkan beban dan kekuatiran kita pada Tuhan. Salah satu alasannya karena kita sudah terlalu lama meninggalkan Tuhan. Yang kedua kadang kala kita dalam menghadapi masalah selalu menyediakan rencana cadangan untuk berjaga-jaga apabila rencana yang pertama gagal, masih ada harapan. Akan tetapi ketika kita menyerahkan permasalahan kita pada Tuhan, tidak boleh ada rencana cadangan kedua, bukannya tidak ada usaha, tapi hanya menyandarkan iman kita pada Tuhan.

Maukah kita berani mengambil langkah besar untuk percaya kepada Tuhan dan menyerahkan semua kekuatiran kita hanya kepada-Nya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: