Mau Menjadi Sama

oleh: Penginjil Toni Antonius

1 Samuel 8

 

Ketika Samuel menjadi tua, dia menunjuk kedua anaknya menjadi hakim atas Israel. Akan tetapi kedua anak Samuel tidak bertindak sama seperti ayahnya. Mereka mengejar keuntungan, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan (ayat 1-2). Oleh karena itu, orang-orang Israel kembali menghadap Samuel. Akan tetapi mereka bukannya meminta seorang hakim yang lain yang memiliki sikap jujur dan adil sama seperti Samuel, mereka menginginkan perubahan, mereka ingin menjadi sama seperti bangsa-bangsa lain yang tinggal di antara mereka yaitu memiliki seorang raja (ayat 5).

Bangsa Israel dikatakan oleh Bileam sebagai bangsa yang diam tersendiri, tidak mau dihitung diantara bangsa-bangsa kafir (Bil. 23:9). Sebuah bangsa yang dipilih diantara bangsa-bangsa lain untuk dipercayakan firman Allah (Rm. 3:2). Melalui bangsa Israel, seluruh dunia bisa mengenal Allah yang benar dan hukum-hukum-Nya. Akan tetapi mereka yang berbeda ingin menjadi sama seperti bangsa-bangsa lainnya.

Kita, orang Kristen merupakan bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri (1 Petrus 2:9). Kita telah ditebus oleh darah Yesus Kristus. Oleh karena itu, kita memiliki kehidupan yang berbeda. Ada hal-hal yang tidak boleh lagi kita lakukan misalnya makan darah, makan binatang yang mati dicekik, melakukan percabulan. Ketika kita berusaha memegang teguh iman kita, mungkin kita menghadapi ejekan “sok suci” atau bujukan “coba sedikit, sekali aja tidak ada pengaruhnya.” Apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan tetap berpegang teguh pada iman kita., atau sebenarnya dalam diri kita ada sebuah keinginan untuk menjadi sama seperti yang lain? Apakah kita sama seperti orang Israel dahulu, ingin menjadi sama seperti yang lain?

Menjadi berbeda memang akan menjadi sorotan, dan bahan ejekan atau sindiran seperti yang dikatakan rasul Petrus “Sebab itu mereka heran, bahwa kamu tidak turut mencemplungkan diri bersama-sama mereka di dalam kubangan ketidaksenonohan yang sama, dan mereka memfitnah kamu.” (1 Petrus 4:4).

Saya ingat sebuah perkataan “Kalau berbeda itu adalah salah berarti tidak ada yang benar di dunia ini karena setiap orang diciptakan berbeda satu sama lain.” Terimalah bahwa diri kita memang berbeda dan tidak usah kita berusaha menjadi sama seperti yang lainnya. Ketika kita bisa menerima diri kita, kita bisa melakukan apa yang Tuhan kehendaki dengan lebih baik lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: