Tindakan Seorang Pemimpin

oleh: Penginjil Toni Antonius

1 Samuel 11

 

Sebuah kesempatan muncul bagi Saul untuk menunjukkan bahwa penunjukkannya sebagai seorang raja atas Israel bukanlah sebuah kesalahan. Orang Amon bergerak menyerang penduduk Yabesy-Gilead, dan penduduk Yabesy-Gilead meminta pertolongan kepada orang-orang Israel lainnya. Kalau kita melihat keadaan pengepungan dan persyaratan yang diajukan orang Yabesy-Gilead disetujui oleh orang Amon, kita bisa melihat pengaturan Tuhan. Entah orang amon terlalu sombong, percaya dengan kemampuannya atau karena hal yang lain, mereka menyetujui permintaan orang Yabesy-Gilead untuk memberikan waktu tujuh hari meminta bantuan. Ini merupakan sebuah persyaratan yang bisa dikatakan kecil kemungkinannya untuk dipenuhi, tapi ternyata orang Amon menyetujuinya.

Kita telah baca sebelumnya bagaimana ada orang-orang yang ragu dengan pengangkatan Saul dan mereka tidak mau tunduk, mengakui Saul sebagai raja. Kesempatan ini diberikan Tuhan untuk menunjukkan bahwa Saul memang layak diangkat sebagai raja. Seperti yang saya katakan dalam renungan sebelumnya, ketika melayani, tidak semua orang bisa kita senangkan, akan ada pihak-pihak yang mengkritik atau tidak menyetujui tindakan kita. Jangan kita kuatir karena pada waktunya jika kita memang berkenan di hadapan Tuhan, maka Tuhan akan membela kita dan memberikan kesempatan bagi kita untuk menunjukkan bahwa pendapat mereka salah. Kembali kepada kita, apakah kita mau mengambil kesempatan itu atau terpuruk dengan pemikiran bahwa kita tidak diterima sepenuhnya dan sia-sia bagi kita untuk tetap bertahan.

Ketika Saul berhasil menunjukkan bahwa dia memang pantas menjadi seorang raja, dia juga menunjukkan pengampunan. Dia tidak mempermasalahkan orang-orang yang dulunya tidak mengakui dirinya. Ini pun bisa menjadi contoh bagi kita. Ketika kita membuktikan bahwa pendapat seseorang yang menentang kita itu salah, dan kita itu benar; apa yang kita lakukan? Apakah kita menyudahi perkara tersebut, atau kita menuntut balas? Saul tidak memperkarakan mereka, dia menyudahi masalah itu sampai di situ saja. Hal ini membuat orang-orang Israel semakin yakin dan dengan sepenuh hati mereka mau tunduk pada pimpinan Saul. Yang lebih terutama lagi, bangsa Israel berkumpul bersama mempersembahkan korban keselamatan dan memuliakan Tuhan.

Saya ingat ketika SMP, saya membalas kejahilan teman dengan menjahili dia kembali. Awalnya saya merasa puas, tapi akhirnya saya merasa bersalah karena dia menangis dan sejak saat itu dia tidak mau lagi bertegur sapa dengan saya. Tindakan memaafkan pasti memberikan hasil yang lebih memuaskan daripada pembalasan. Ketika kita membalas, mungkin ada kepuasan tapi ujungnya disertai juga dengan dendam dari keturunannya dan penyesalan.

Ambillah setiap kesempatan dengan baik dan bertindaklah dengan bijak untuk kemuliaan nama Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: