Bersembunyi di Antara Barang-barang

oleh: Penginjil Toni Antonius

1 Samuel 10

 

Ketika Samuel hendak menghadapkan Saul kepada bangsa Israel, Saul menyembunyikan dirinya di antara barang-barang (1 Sam. 10:20-22). Mungkin Saul menyembunyikan diri karena masih tidak percaya bahwa dia yang ditunjuk untuk menjadi raja, dan berharap dengan ketidakhadirannya pada saat itu maka keputusan dia diangkat menjadi raja akan diubah. Akan tetapi di sini kita melihat bagaimana Tuhan memberitahukan bangsa Israel akan keberadaan dari Saul.

Yang pertama bisa kita lihat bahwa tentu saja ini mengingatkan kita bagaimana kemahatahuan Tuhan. Walaupun semua orang tidak ada yang mengetahui dimana keberadaan Saul, tapi Tuhan mengetahuinya. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Mari kita sama-sama mengingat hal ini ketika kesempatan dan godaan membujuk kita untuk berbuat jahat.

Yang kedua kita bisa mengingat dari peristiwa di pasal ini bagaimana dalam kehidupan kita sering berusaha menolak pekerjaan Tuhan yang diberikan kepada kita. Penolakan kita bisa dengan berbagai alasan antara lain sibuk dengan keluarga, pekerjaan, tidak ada waktu, tidak memiliki kemampuan. Kita seperti Saul menyembunyikan diri di antara barang-barang dengan harapan bahwa kita tidak jadi diserahi tanggung jawab dalam pekerjaan Tuhan. Penolakan kita bisa juga karena kita takut menghadapi celaan, ketidaksetujuan dari pihak-pihak tertentu, seperti yang dialami Saul, ada pihak-pihak yang menolak dia sebagai raja.

Mari jangan kita kuatir ketika sebuah pelayanan diajukan kepada kita untuk diambil. Ambillah dan yakinlah bahwa Tuhan ketika mempercayakan pelayanan itu pada kita pasti akan membekali kita dengan kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan. Kunci utama dalam memulai pelayanan bukannya bisa atau tidak bisanya kita tapi mau atau tidak maunya kita. Selain itu, tindakan Saul untuk berpura-pura tuli terhadap orang-orang yang tidak setuju bisa juga kita contoh. Sebuah kepastian bahwa kita tidak mungkin bisa memuaskan semua pihak, akan ada orang-orang yang mencela, mengkritik pelayanan yang kita lakukan. Ada kalanya kita sebaiknya bersikap berpura-pura tuli, tidak mempedulikan perkataan mereka. Tidak semua perkataan yang kita dengar harus kita turuti.Lihatlah kepada Tuhan, apakah yang kita lakukan sudah sepenuhnya sesuai dengan perintah Tuhan atau tidak. Komentar yang masuk bisa kita gunakan sebagai pengingat untuk selalu memperbaiki diri kita, tapi jangan menjadi beban bagi kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: