Tuhan Menyesal

oleh: Penginjil Toni Antonius

1 Samuel 15

 

Tuhan menyesal. Dua kali pernyataan ini muncul. Yang pertama adalah ketika manusia di zaman Nuh kecenderungan hatinya melakukan kejahatan semata-mata dan akhirnya Tuhan menghancurkan bumi dengan mengirimkan air bah (Kej. 6:5-6). Pernyataan ini muncul lagi di pasal ini ketika Saul tidak melakukan perintah Tuhan dengan sepenuhnya dalam hal membasmi orang Amalek. Tuhan menyesal ini bukan berarti Tuhan merubah pikiran-Nya karena Tuhan tidak pernah melakukan kesalahan (ayat 29). Tuhan menyesal dalam arti Dia bersedih karena yang dikasihi-Nya melakukan sesuatu yang mengecewakan.

Saul, dia tidak membinasakan seluruh orang Amalek dan milik mereka sesuai perintah Tuhan. Selain Saul membiarkan Agag, raja Amalek, hidup, orang-orang Israel mengumpulkan ternak-ternak yang terbaik milik orang Amalek (ayat 9) dengan alasan mau memberikannya sebagai korban persembahan untuk Tuhan (ayat 15). Saul gagal melaksanakan perintah Tuhan, dan hal ini membuat Tuhan menyesal.

Tanpa sadar kadang kala kita melakukan apa yang Saul lakukan. Perintah Tuhan sudah diberikan melalui firman-Nya yang disampaikan oleh para nabi dan para rasul. Kita belum melakukan perintah-perintah tersebut, kita mempunyai pemikiran tersendiri untuk menyenangkan hati Tuhan. Kadang kita berpikir “Orang saja suka kalau …, masa sih Tuhan tidak berkenan?” Banyak orang Kristen berusaha dengan keras untuk merayakan Natal (hari kelahiran Yesus Kristus), mempersiapkan dengan sebaik-baiknya yang sebenarnya tidak diperintahkan Tuhan untuk dilakukan tapi menganggap perintah Tuhan untuk memperingati hari Sabat sebagai perintah yang sudah tidak berlaku.

Saul sebagai seorang raja, pemimpin bangsa Israel seharusnya bisa memimpin mereka untuk melakukan apa yang diperintahkan Tuhan, membasmi semua orang Amalek beserta dengan milik mereka. Tapi dia membiarkan Agag hidup. Bisa jadi inilah yang menjadi pemicu sehingga bangsa Israel melihat bahwa raja mereka membiarkan raja musuh hidup, akhirnya mereka pun tidak melakukan perintah Tuhan.

Seorang pemimpin seharusnya memberikan teladan. Kita-kita yang menjadi imam dalam keluarga, teladan bagi anak-anak, apakah sudah memberikan teladan yang baik bagi mereka? Jadilah teladan hidup dalam perbuatan kita untuk melaksanakan perintah Tuhan. Tidak usah kita berpikir keras menanyakan apa yang disukai Tuhan. Sudah jelas dikatakan Samuel bahwa yang Tuhan sukai adalah ketika anak-anak-Nya melakukan apa yang Dia perintahkan (ayat 22-23). Sukakan Tuhan dengan hal tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: