Penyertaan Tuhan

1 Samuel 18

 Daud dan Saul kembali dari medan perang dengan disambut sorak sorai para perempuan. Mereka memuji Daud dan Saul dengan pujian terhadap Daud lebih tinggi dari Saul. Mulai sejak saat itu, Saul berniat untuk membunuh Daud. Pertama dia bermaksud menombak Daud saat dirinya bermain kecapi, sampai dua kali tapi Daud berhasil menghindarinya (ayat 10-11). Kemudia Saul mengangkat Daud menjadi kepala pasukan seribu sehingga Daud selalu ada di depan dalam setiap pertempuran. Akan tetapi hal ini malah membawa keberhasilan dan nama Daud semakin harum karena dia selalu berhasil memenangkan peperangan (ayat 12-16). Daud menjadi semakin terkenal dan disayang oleh rakyat. Tidak kehabisan akal, Saul menggunakan anaknya, Mikhal, untuk mencelakakan Daud melalui tangan orang Filistin dengan cara meminta 100 kulit khatan orang Filistin sebagai mas kawin (ayat 20-25). Akan tetapi, hasilnya tidak sesuai yang diharapkan Saul, Daud malah berhasil mengalahkan 200 orang Filistin dan membawa kulit khatan mereka sebelum waktu yang ditentukan habis (ayat 26b-28).

Kita melihat bagaimana Daud bisa tetap hidup walau sedang berkonsentrasi memainkan kecapi, berhasil dalam pekerjaan yang berbahaya dan membuat namanya harum, berhasil melakukan suatu pekerjaan yang mustahil bahkan lebih dari yang ditetapkan semuanya karena Tuhan menyertai dirinya (ayat 12, 14, 28). Sebaliknya ketika penyertaan Tuhan undur dari Saul, dirinya merasa ketakutan, setiap usahanya tidak berhasil, dan yang dipikirkan adalah kejahatan semata.

Banyak orang berusaha mengejar keberhasilan, kesuksesan dan semua pencapaian yang ingin dicapai dengan mengandalkan kemampuan diri, kenalan, menghancurkan orang yang dianggap sebagai musuh, penghalang. Hal ini pun kadang dilakukan oleh umat pilihan, orang Kristen. Kita bisa lupa bahwa yang terpenting adalah ada tidaknya penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Penyertaan Tuhan bisa kita dapatkan dengan kita berlaku setia kepada setiap perintah-Nya.

 

“Tuhan itu jauh dari pada orang fasik, tetapi doa orang benar didengar-Nya.” (Amsal 15: 29).

“Sesungguhnya, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya.” (Mzm. 33:18).

 

Pemazmur mengingatkan kita bahwa yang diperhatikan oleh Tuhan adalah dia yang memiliki rasa takut pada Tuhan dan senantiasa berharap kepada-Nya.

Mari kita periksa dalam hidup kita apakah saat ini ada Tuhan yang menyertai kita atau tidak? Atau jangan-jangan kita seperti Saul, telah ditinggalkan Tuhan karena tidak setia melakukan perintah-perintah-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: