Kebencian Menutup mata

oleh: Penginjil Toni Antonius

1 Samuel 22

 

Pada pasal ini menceritakan sebuah tragedi yang begitu menyedihkan. Seorang raja yang dulu dipilih oleh Tuhan dengan tega membinasakan 85 orang imam dan masih banyak lagi nyawa-nyawa lainnya melayang selain itu di kota Nob karena kebencian Saul kepada Daud. Saul membenci Daud karena Daud dipilih Tuhan untuk menggantikan dia. Dia tidak bisa lagi mempertahankan kedudukan karena Daud adalah orang yang akan menggantikan kedudukannya sebagai raja. Terlebih lagi, anak-anaknya yang seharusnya menjadi harapan hidupnya ternyata berpihak kepada Daud. Dia tidak lagi percaya kepada orang-orang sehingga imam-imam pun turut menanggung akibat.

Imam Ahimelekh telah lama menjadi imam dan banyak kali diminta untuk menanyakan petunjuk kepada Tuhan. Dia sendiri telah mengatakan bahwa dia tidak mengetahui kalau Daud menipunya. Akan tetapi Saul tidak mau mendengar semua alasan tersebut karena ditutupi oleh kebencian terhadap Daud. Penatua Yohanes mengatakan dalam suratnya “Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.” (1 Yoh. 2:11).

Kebencian terhadap seseorang membuat mata kita menjadi gelap. Kita tidak lagi bisa membedakan baik dan buruk, benar dan salah. Yang menjadi pusat adalah subjek, bukan lagi objek. Seperti yang dikatakan penatua Yohanes, orang itu ada dalam kegelapan dan tidak tahu kemana dia pergi karena tidak lagi bisa berpikir dengan jernih. Yang terjadi akhirnya lebih banyak lagi dosa yang dilakukan yang akhirnya membawa pada kematian.

Dalam gereja sering terjadi gesekan antara saudara seiman, dan bisa terjadi timbul kebencian. Yang terjadi akhirnya kita berusaha menghancurkan orang itu hingga dia tidak lagi nyaman untuk pergi ke gereja, atau kita yang tidak mau lagi pergi ke gereja. Yang manapun yang terjadi tidak ada yang membawa kebaikan bagi kita. Kita menghancurkan image orang itu berarti kita melakukan dosa, kita tidak lagi pergi beribadah di gereja juga membuat rohani kita mati perlahan.

Mari sama-sama kita belajar menerima. Kalau dia memang lebih baik, terimalah bahwa dia memang lebih baik. Periksa diri kita kenapa dia bisa menjadi lebih baik? Apakah kita bisa menjadi lebih baik lagi dari sekarang? Jadilah umat Kristen yang penuh kasih, bukan penuh kebencian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: