Tuhan Kiranya Menjadi Hakim

oleh: Penginjil Toni Antonius

1 Samuel 24

 

Setelah ada dalam pelarian selama beberapa waktu lamanya, akhirnya Daud memiliki kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya itu. Di gunug batu Kambing Hutan, ketika Saul bermaksud untuk membuang hajat di dalam sebuah gua. Dalam gua itu, Daud bersembunyi bersama dengan anak buahnya. Anak buah Daud sudah mengatakan bahwa ini merupakan kesempatan yang diberikan Tuhan kepadanya, bahwa Saul ada di gua itu karena Tuhan yang mengantarkan musuhnya itu ke dalam tangannya (ayat 5).

Akan tetapi Daud, tidak mau mengambil kesempatan itu untuk membunuh Saul, dia hanya memotong ujung jubah Saul. Bahkan dikatakan bahwa setelah memotong ujung jubah Saul, Daud menjadi berdebar-debar hatinya. Dalam Alkitab terjemahan Indonesia Sehari-hari, berdebar-debar ini diterjemahkan sebagai perasaan bersalah. Setelah Saul selesai, akhirnya Daud menampakkan dirinya dan menyatakan bahwa dirinya tidak bersalah, bahwa dia tidak memiliki niat untuk membunuh Saul. Ada dua hal dalam pandangan Daud. Pertama, Saul merupakan orang yang diurapi Tuhan, dan dia tidak berhak untuk menjamah Saul. Hanya Tuhan yang berhak untuk menjamah orang yang diurapi-Nya (ayat 7, 11). Kedua, hanya Tuhan yang berhak menjadi hakim. Dua kali Daud mengatakan “Kiranya Tuhan menjadi hakim..” (ayat 13, 16).

Ketika muncul di hadapan Saul pun, Daud tetap menunjukkan rasa hormatnya dengan sujud menyembah, memanggil Saul sebagai ayahnya. Daud juga merendahkan dirinya dengan menyamakan dirinya sebagai anjing mati, seekor kutu (ayat 15). Dia tidak memiliki niat untuk membunuh Saul. Sikap Daud ini pun menyebabkan Saul menangis dan mengakui bahwa Daud pasti akan menjadi raja atas Israel (ayat 17, 21).

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari di sini. Pertama, ketika mengalami masalah, kita pasti ingin keluar dari masalah tersebut, apalagi kalau masalah itu adalah masalah yang sangat berat dan telah bertahun-tahun kita alami. Akan tetapi apakah kita akan tetapi memiliki hati untuk dengan tekun dan setia mentaati perintah Tuhan, atau yang kita utamakan adalah keluar dari permasalahan kita? Kedua, bagaimana kita menyatakan kasih kepada musuh kita. Paulus pernah mengatakan “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung kepadamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.” (Roma 12:17-20). Musuh tentu memberikan penderitaan yang terus menerus. Paulus mengajarkan kita untuk mengasihi dan memberikan kesempatan kepada Tuhan untuk bertindak. Jangan kita melangkah melebihi Tuhan. Adalah hak Tuhan untuk menghakimi dan menuntut balas, bukan kita.

Mari kita hidup dalam kasih dan memberikan kesempatan kepada Tuhan untuk menghakimi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: